Ketika Aku Lemah, Maka Aku Kuat
Pesan Paus Leo XIV : Hari Kakek Nenek
Saudara dan saudari terkasih,
Tahun jubileum yang sedang kita Jalani membantu kita menyadari bahwa harapan selalu menjadi sumber sukacita di setiap usia. terlebih Ketika harapan itu ditempa oleh Api pengalaman hidup yang panjang, ia menjadi sumber kebahagiaan yang sejati. Kitab suci memberikan beragam contoh pria dan wanita yang telah lanjut usia, namun tetap dilibatkan Tuhan dalam rencana keselamatannya.
Kita ingat Abraham dan Sarah. Mereka sudah tua dan merasa mustahil untuk memiliki anak sehingga mereka ragu terhadap janji Allah. Ketidakmampuan untuk melahirkan keturunan tampak seolah telah menutup pandangan mereka terhadap harapan masa depan. Reaksi serupa datang dari Zakaria saat malaikat memberitahukan bahwa Yohanes Pembaptis akan lahir. Bagaimana aku tahu bahwa hal itu akan terjadi? Aku sudah tua dan istriku pun sudah lanjut usia.
Usia tua, kemandulan, dan kemunduran tampaknya memadamkan harapan akan kehidupan dan kesuburan pada pria dan wanita ini. Bahkan pertanyaan Nikodemus kepada Yesus ketika sang guru berbicara tentang kelahiran baru tampak seperti pertanyaan retoris. Bagaimana mungkin seorang bisa lahir kembali ketika sudah tua? Apakah ia dapat masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi? Namun setiap kali ketika tampaknya tak ada harapan, Tuhan mengejutkan mereka dengan campur tangan keselamatannya
Dalam Alkitab, Allah berulang kali menunjukkan penyelenggaraan ilahinya kepada orang-orang yang sudah lanjut usia. Ini terjadi bukan hanya pada Abraham, Sarah, Zakaria, dan Elisabeth, tetapi juga pada Musa yang dipanggil untuk membebaskan umat Allah pada usia 80 tahun. Melalui pilihan-pilihan ini, Tuhan mengajarkan bahwa dalam pandangannya, usia tua adalah masa berkat dan rahmat. Orang tua adalah saksi harapan pertama baginya. Santo Agustinus bertanya, “Apakah arti masa tua?” Dan Allah menjawab, “Biarlah kekuatanmu merosot agar kekuatanku tetap dalam dirimu sehingga engkau bisa berkata bersama rasul, ketika aku lemah maka aku kuat.”
Kenyataan bahwa jumlah lansia terus bertambah pada zaman ini merupakan tanda zaman yang harus kita maknai secara rohani agar dapat memahami sejarah yang kita jalani. Hidup gereja dan dunia hanya dapat dimengerti dalam alur antar generasi. Merangkul seorang lansia membantu kita menyadari bahwa Sejarah tidak berhenti pada masa kini atau sekedar pada pertemuan yang cepat dan hubungan yang dangkal, tetapi berjalan menuju masa depan.
Dalam kitab Kejadian ada kisah menyentuh tentang Yakub yang sudah tua memberkati cucu-cucunya, anak-anak Yusuf. Kata-katanya memotivasi mereka untuk menatap masa depan dengan harapan sebagaimana masa janji-janji Allah. Jika benar bahwa kerapuan para lansia membutuhkan semangat para muda, maka benar juga bahwa ketidaktahuan kaum muda memerlukan kesaksian dari para lansia agar dapat meranjang masa depan dengan bijak. Betapa sering kakek nenek kita menjadi teladan iman dan pengabdian, Kebajikan warga dan keterlibatan sosial, kenangan serta ketekunan dalam menghadapi ujian hidup. Warisan indah ini yang mereka wariskan dengan penuh harapan dan cinta selamanya akan menjadi alasan bagi kita untuk bersyukur dan hidup dengan integritas.
Jubileum sejak awal mula dalam tradisi Alkitab merupakan masa pembebasan. Budak dibebaskan, hutang dihapuskan, dan tanah dikembalikan kepada pemilik aslinya. Ini adalah waktu untuk memulihkan tatanan sosial menurut kehendak Allah, di mana ketidaksetaraan dan penindasan selama bertahun-tahun disembuhkan. Yesus membaharui semangat pembebasan ini ketika ia di sinagoga Nazaret mewartakan kabar baik kepada orang miskin, penglihatan bagi yang buta, pembebasan bagi tawanan, dan kebebasan bagi yang tertindas. Melihat para lansia dalam terang yubilium ini, kita pun dipanggil untuk hidup bersama mereka dalam pengalaman pembebasan, terutama dari kesepian dan penelantaran.
Tahun ini adalah momen yang tepat untuk mewujudkannya. Kesetiaan Allah kepada janji-janjinya mengajarkan bahwa terdapat kebahagiaan dalam usia tua. Suatu sukacita sejati yang berasal dari Injil yang menantang kita untuk meruntuhkan tembok ketidakpedulian tempat para lansia sering terperangkap. Masyarakat kita di mana pun berada semakin terbiasa membiarkan bagian penting dan kaya dari komunitas mereka, yakni para lansia terpinggirkan dan dilupakan. Dalam menghadapi situasi ini dibutuhkan langkah perubahan yang nyata dan kesaksian tanggung jawab dari seluruh gereja.
Setiap paroki, komunitas, dan kelompok gerejawi diundang untuk menjadi pelopor revolusi rasa syukur dan kepedulian dengan sering mengunjungi para lansia, menciptakan jaringan dukungan dan doa untuk dan bersama mereka serta menjalin relasi yang memberikan harapan dan martabat bagi mereka yang merasa terlupakan. Harapan Kristiani selalu mendorong kita untuk berani, berpikir besar dan tidak puas dengan kondisi yang ada secara khusus untuk bekerja demi perubahan yang mengembalikan rasa hormat dan kasih sayang kepada para lansia.
Karena itu Paus Fransiskus menetapkan bahwa hari kakek nenek dan lansia sedunia harus dirayakan pertama-tama dengan menjumpai mereka yang sendirian. Dan atas dasar ini pula diputuskan bahwa mereka yang tidak dapat datang ke rumah tahun ini dalam ziarah tetap bisa mendapatkan indulgensi jubileum jika mereka mengunjungi orang lanjut usia yang sendirian dalam waktu yang cukup lama seolah-olah melakukan ziarah kepada Kristus yang hadir dalam diri mereka. Mengunjungi seorang lansia adalah cara untuk menjumpai Yesus yang membebaskan kita dari ketidakpedulian dan kesepian.
Kitab Sirak menyatakan bahwa kebahagiaan adalah milik mereka yang tidak kehilangan harapan. menyiratkan bahwa dalam hidup ini terlebih jika panjang, ada banyak alasan yang membuat seseorang lebih memilih menatap ke masa lalu daripada masa depan. Namun seperti yang ditulis Paus Fransiskus saat dirawat di rumah sakit, tubuh kita memang lemah, tetapi bahkan demikian tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk mengasihi, berdoa, memberikan diri, dan menjadi tanda terang harapan bagi sesama dalam iman.
Kita memiliki satu kebebasan yang tak bisa dirampas oleh kesulitan apapun. Kebebasan untuk mengasihi dan berdoa. Semua orang kapan bisa mengasihi dan berdoa. Kasih sayang kita kepada orang-orang tercinta, pasangan hidup, anak-anak, cucu tidak padam meski kekuatan jasmani memudar. Justru kasih merekalah yang kerap membangkitkan semangat kita membawa harapan dan penghiburan.
Tanda-tanda kehidupan dalam cinta ini yang berakar pada Allah sendiri memberi kita keberanian. Tanda-tanda kehidupan dalam cinta ini yang berakar pada Allah sendiri memberi kita keberanian dan mengingatkan bahwa meskipun manusia lahiriah kita merosot, manusia batiniah kita diperbarui dari hari ke hari, terutama di usia lanjut.
Marilah kita terus percaya kepada Tuhan. Biarlah perjumpaan harian dengannya dalam doa dan ekaristi kudus memperbarui kita. Wariskanlah iman yang telah kita hidup selama bertahun-tahun dengan cinta. Pujilah Tuhan atas kebaikannya. Peliharalah persatuan dengan orang-orang terkasih. Bukalah hati kepada mereka yang jauh, terutama kepada mereka yang hidup dalam kesulitan. Dengan begitu kita akan menjadi tanda harapan di setiap usia.
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=froZLgdVNhY (*)

