Kala Perayaan Gerejani Bernuansa Kastaisme

Kala Perayaan Gerejani Bernuansa Kastaisme


Penggunaan kata kasta hanya mau meminjam istilah adanya perbedaan kelas. Perayaan Gerejani dalam konteks ini adalah syukuran tarekat, serikat, atau ordo, kadang juga ulang tahun paroki. Di mana perbedaan kelasnya? Paling sering terjadi dalam penggalangan dana dengan model tiket berkelas. Penggunaan istilah platinum, gold, dan silver. Biasa dipakai dalam konser band atau teater.
Konsili Vatikan II melakukan perubahan besar dengan keberadaan Gereja sebagai paguyuban umat beriman. Semua adalah Umat Allah yang sama. Beda dalam peran. Hirarkhi semata dalam pelayanan, peran dalam melayani, bukan posisi. Gambaran Gerejanya adalah lingkaran, yang mengubah pola pendekatan lama sebagaimana piramida, meruncing ke atas.
Tuhan Yesus juga menyatakan hal yang sama, bagaimana siapa yang paling besar adalah pelayan dari yang lain. Paus selaku pengganti Rasul Petrus menyebut dirinya hamba dari para hamba. Sikap yang berbeda dengan pemodelan tiket dalam Misa dan acara syukuran.
Tempat Duduk itu Duit
Sependek pengetahuan kasat mata, belum ada Misa model ini, ketika misa di gedung gereja, Misa rutin. Namun sudah berubah, saat Misa Syukur atas apapun itu, lain cerita. Menyewa stadion atau hall, mendatangkan artis papan atas ibukota, menghadirkan Uskup sebagai gembala dalam perayaan Ekaristi. Itu semua butuh dana besar.
Nah, repot lagi jika biarawan-biarawati yang memiliki sekolah, menggunakan keberadaan yayasan-yayasan yang menaungi sekolah mereka untuk ikut nyengkuyung acara dengan “menjual” tiket ala konser itu. Saya itu membayangkan tetangga yang memiliki anak empat, sekolah semua. Bisa jadi, orang tua murid di yayasan yang sedang bersyukur itu memiliki anak empat, sekolah dalam yayasan yang sama. TK, SD dua misalnya, SMP, atau lebih berapa doit yang harus disiapkan?
Sangat mungkin panitia tidak berpikir sampai ke sana. Utamanya uang yang keluar berapa, pemasukan dari mana saja, dan paling gampang narik dari orang tua murid. Sederhana sekali, padahal belum tentu orang tua murid berdaya secara finansial. Memang ini tidak salah, hanya saja kurang tepat.
Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk bersyukur. Jika bicara sekolah, ya dijadikan dana abadi untuk beasiswa, baik guru, karyawan, atau murid. Hal ini jauh lebih berdampak bagi negara dan juga Gereja. Jangan sampai sekadar pesta, mengeluarkan dana banyak dari orang tua atau umat, namun dampak bagi mereka, konteks umat dan orang tua itu malah minim.
Pesta Syukur
Ekaristi itu kan sudah pesta syukur yang merupakan puncak dan sumber sebagai orang Katolik. Kog seolah tidak cukup, jika hanya Misa. Maunya pesta dengan penyanyi dan artis top. Tidak ada yang salah dengan model ini, namun di tengah kelesuan ekonomi, sekolah mulai gratis eh pungutan nambah.
Masih banyak hal bisa dilakukan untuk mengadakan “pesta” dan syukur. Jangan sampai malah untuk mencari tambahan uang. Menambah beban umat dan orang tua yang sedang tidak baik-baik saja. Benar, banyak orang tua yang kaya raya, bahkan mahakaya sangat mungkin. Namun berapa yang memiliki kemampuan demikian dari pada yang tidak?
Sama dengan perayaan ulang tahun atau syukur untuk Gereja, hal yang sama terjadi. Sekadar perayaan dengan dana yang fantastis kog tampaknya tidak bijaksana. Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur.
Jika Gereja adalah Umat Allah, mosok ada umat Allah yang hanya menonton dari pojokan atau bahkan hanya bisa mengintip dari kejauhan, karena takut mengotori kemegahan pesta syukur yang harusnya mereka juga ikut di sana. Jangan sampai Gereja meninggalkan jemaatnya. Yayasan dan sekolah meninggalkan murid atau siswa-siswinya di pojokan sambil meratap, kenapa aku tidak bisa ikut di sana.

Catatan, Gambar Hanya Sekadar Ilustrasi, bukan kondisi sebagaimana di dalam artikel
Salam JMJ
Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *