PINGIN CERAI TAKUT DOSA

PINGIN CERAI TAKUT DOSA

Konsultasi Keluarga

Oleh : Paul Subianto

Tanya : Saya menikah secara katolik sudah 5 tahun, tapi sejak tahun ketiga hubungan mulai tidak harmonis: kami sering berselisih untuk hal-hal kecil, tak jarang saling menyakiti dengan kata-kata pedas. Satu tahun terakhir, komunikasi benar-benar macet, kami pisah ranjang, dan jalan sendiri-sendiri. Terus terang, saya pingin cerai, tapi takut dosa.

Seorang Bapak di Bandung

Jawab :  Siapa bilang cerai dosa? Kalau selingkuh memang dosa, karena tidak setia bahkan mengkianati orang lain. Maksud saya, orang takut cerai tetapi selingkuh merasa sah-sah saja. Persoalannya bukan cerai itu dosa, tetapi apakah itu solusi? Lebih baik mencari akar masalah dan menemukan solusi yang pas. Cerai sering dipakai jalan pintas untuk lari dari masalah, bukan solusi yang tepat. Gereja Katolik sendiri mengijinkan anulasi (pembatalan perkawinan) untuk perkawinan yang sudah tak bisa diperbaiki demi kebaikan pasangan atau anak- anak.

Untuk kasus anda  lupakan dulu kata “cerai”, coba kembali ke janji pernikahan untuk “mencintai dalam untung dan malang”, anggap saat ini anda sedang mengalami kemalangan — perkawinan lagi dililit masalah. Kalau komunikasi terlanjur macet memang sulit untuk memulai, namun yang utama : apakah masih berharap kondisi menjadi lebih baik? Masih punya harapan? Ingatlah hal- hal baik yang pernah anda alami bersama pasangan! Carat capaian-capaian yang telah andai raih berdua selama ini.

Kelihatannya anda membutuhkan orang lain yang netral dan profesional, konselor perkawinan, psikolog, atau sekurangnya pastor. Datangi dan ceritakan dengan jujur apa masalah anda. Tentu akan butuh beberapa kali pertemuan, dan lebih baik jika datang berdua.

Komunikasi macet karena masing- masing merasa ditolak, tidak dihargai, bahkan disalahkan maka lebih baik menghindar. Oleh sebab itu, tahap pertama bagaimana belajar lagi berkomunikasi. Tidak untuk mencari siapa salah siapa benar, tetapi terutama didorongan untuk lebih saling mengenal. Komunikasi tidak harus membahas masalah, yang justru akan memicu pertengkaran. Mulailah berkomunikasi untuk hal-hal kecil sehari- hari, diikuti tindakan-tindakan nyata. Menjemput atau mengantar istri, sebaliknya istri melayani dengan menghidangkan secangkir kopi. Dengan demikian hubungan akan menghangat lagi sebelum masuk ke persoalan utama (yang ini butuh pendampingan orang lain).

Tidak tertutup kemungkinan, sebenarnya tidak ada masalah yang prinsip sehingga dengan memperbaiki komunikasi, hubungan akan pulih kembali. Selamat mencoba!(*)

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *