Pendidikan dalam Keluarga Tidak Sekadar Tradisi

Pendidikan dalam Keluarga Tidak Sekadar Tradisi


Perbaikan Terus Menerus
Menarik, mendengar seorang bapak yang mengeluhkan anaknya tidak pernah berterima kasih usai mendapatkan transferan. Apa yang menjadi keinginan bapak ini, mewakili banyak pihak, baik bapak atau ibu yang lain. Ataupun sesama anak. Mau kakak ke adik atau sebaliknya. Begitu banyak hal yang sebenarnya sederhana namun banyak menjadi persoalan di tengah keluarga.
Sering terjadi hal-hal demikian dimulai dari pendidikan dalam keluarga yang sekadar meneruskan kebiasaan dari orang tua. Meneruskan, hanya menjiplak persis apa yang dilakukan generasi sebelumnya. Contoh, ketika anak-anak dididik, diajarkan, diberi contoh dengan perilaku kekerasan, ya cenderung akan meniru untuk mendidik anak-anaknya demikian. Pun orang tua yang halus, mendengarkan, atau memberikan apresiasi, demikian pula anak-anak ini saat dewasa akan memberikan hal-hal tersebut pada anak-anaknya.
Pendidikan dalam Keluarga Tidak Sekadar Tradisi
Anak itu bukan robot yang tinggal dienter untuk menghidupkan atau menjalankan. Manusia itu kompleks, nah perlu inovasi dalam pendidikan, pengasuhan, dan pembinaan generasi berikutnya, dalam hal ini anak-anak. Bagaimana orang tua itu memperoleh pendidikan, sangat mungkin akan juga memperlakukan anaknya demikian. Nah, pendidikan tidak sekadar tradisi. Beberapa hal yang layak diulik,
Pertama, inovasi, bagaimana anak memiliki zaman yang berbeda dengan orang tuanya. Tidak hanya mengandalkan naluri, tradisi, atau kebiasaan yang ada. Jika demikian, bisa jadi sumber konflik dan polemik yang berkepanjangan.
Kedua, rendah hati untuk terus belajar, bahwa cara dalam Pendidikan harus terus berubah dan mencari cara yang terbaik, tidak hanya karena orang tua sudah pasti benar. Atau dengan pedoman, bisanya ini, mau apa.
Ketiga, komunikasi. Bagaimana masalah itu sering karena asumsi bukan fakta. Membedakan asumsi atau kenyataan sering salah paham. Kerendahan hati sangat membantu untuk menemukan solusi.
Keempat, komunikasi dan keterbukaan, tidak lagi zaman feodal yang menempatkan posisi orang tua yang selalu benar, tidak tersentuh, dan tidak bisa dibantah. Model dialog sudah perlu bahkan harus diterapkan untuk membantu anak-anak berkembang lebih baik.
Kelima, bahasa kasih, tidak cukup hanya dalam tindakan, namun perlu juga ucapan. Ungkapan kasih itu berbagai macam, cara, dan bentuknya. Siapa sih yang tidak suka diberi kasih? Pada dasarnya orang pasti suka dengan perbuatan dan kata-kata kasih.
Keenam, biasakan berpikir dan berperilaku positif. Sering orang takut untuk sekadar berpikir baik saja, khawatir mendahului kehendak Allah, padahal mana ada Allah membatalkan kebaikan? Perlu mengurangi sikap negative dengan terminologi religius.
Ketujuh, membangun kehangatan. Berbagai cara bisa dilakukan untuk membuat keluarga, rumah itu menjadi home, tidak sekadar house, apalagi menjadi shelter atau hotel semata. Buat consensus bersama untuk melepaskan gadget dalam kurun waktu tertentu. Konsekuen, jangan banyak pembenar dan toleransi untuk komitmen Bersama.
Kedelapan, ciptakan aktivitas bersama, . Misalnya doa bersama, jalan di lingkungan bareng-bareng. Jangan berhenti kala anak sudah gede. Kadang memang susah karena ada jadwal yang berbeda-beda namun berikan prioritas untuk ini. Jika sudah menjadi habit, pasti akan memberikan prioritas untuk kebersamaan ini. Anak rindu balik ke rumah bukan hal yang lain. Nyaman di dalam pelukan keluarga, tidak yang di luar sana.
Kesembilan, rumah itu surga. Orang tua itu andalan, saudara itu kekuatan. Itu perlu diciptakan, dibentuk, dan dihidupi. Bisa bercanda, berdebat, berdiskusi, berantem, namun balik rukun lagi.
Semua perlu keberanian, dan kesungguhan. Menepikan ego untuk bersama-sama belajar.
Salam JMJ
Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *