Jalan Menuju Kesempurnaan
Renungan Harian
Senin, 18 Agustus 2025
“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Mat 19:21)
Perkataan Yesus ini muncul dalam dialog dengan seorang muda yang telah menjalankan hukum Taurat sejak kecil. Ia bertanya, “Apa lagi yang kurang?” Dan Yesus menjawab dengan sebuah undangan yang mengguncang: menjual segala milik, memberikannya kepada orang miskin, lalu mengikuti Dia.
Ini bukan sekadar tentang kemiskinan atau kekayaan, melainkan tentang hati yang terikat. Yesus tidak menolak harta benda, tetapi Ia mengungkapkan bahwa kesempurnaan rohani menuntut kebebasan dari keterikatan duniawi. Kekayaan bisa menjadi berkat, tetapi juga bisa menjadi belenggu yang menghalangi langkah kita menuju Kristus.
Yesus mengundang kita untuk melampaui moralitas biasa dan masuk ke dalam kedalaman kasih yang radikal. Memberi kepada orang miskin bukan hanya tindakan sosial, tetapi ekspresi iman yang percaya bahwa harta sejati bukan di bumi, melainkan di surga. Mengikuti Yesus berarti menempatkan Dia sebagai pusat hidup, bukan sekadar tambahan.
Dalam konteks kita hari ini, “menjual segala milik” bisa berarti melepaskan ego, ambisi pribadi, atau rasa aman yang bersumber dari hal-hal duniawi. Kita diajak untuk berbagi, melayani, dan hidup dalam solidaritas dengan mereka yang menderita. Kesempurnaan bukanlah tanpa cacat, tetapi kesetiaan total kepada Kristus.
Bacaan Injil hari ini menantang kita untuk bertanya: Apa yang masih mengikat hatiku? Apakah aku sungguh siap mengikuti Yesus, bukan hanya secara lahiriah, tetapi dengan seluruh hidupku? Apakah aku berani mempercayakan masa depanku kepada-Nya, bahkan jika itu berarti kehilangan kenyamanan?
Yesus tidak memaksa, tetapi mengundang. Ia tidak menuntut kesempurnaan instan, tetapi menawarkan jalan yang membawa kita ke dalam kedalaman relasi dengan-Nya. Jalan itu mungkin sempit dan berat, tetapi penuh sukacita sejati.
Mari kita berani menjawab undangan itu. Melepaskan, memberi, dan mengikuti. Karena di sanalah kita menemukan harta yang tidak akan pernah binasa.*

