Maria Teladan Hidup Beriman

Maria Teladan Hidup Beriman

Renungan Harian

Senin, 15 September 2025

Oleh Susy Haryawan

Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri?,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Lukas 2,35

Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan betapa besar kasih Ibu Maria. Betapa remuk hatinya, ketika harus mendampingi puteranya sampai kayu salib. Anak satu-satunya yang harus menderita paling mengerikan sepanjang Sejarah manusia. Itu bukan satu-satunya dukacita Bunda Maria. Kutipan kitab suci hari ini adalah nubuat yang dinyatakan Simeon. Ungkapan yang menyayat hati.

Ada beberapa hal yang laik dijadikan teladan dari sikap Bunda Maria. Orang itu gampang dan banyak yang bersama-sama ketika dalam keadaan suka cita. Maria setia bahkan dalam kondisi duka. Itu mutu, maka tidak banyak. Sering terdengar, teman sejati itu ada kala keadaan paling buruk. Teman dalam suka itu sangat banyak, namun itu menilai yang benar-benar teman itu saat keadaan tidak baik-baik saja.

Rendah hati, tanpa itu, sikap sebaliknya yang akan hadir. Meradang, ngamuk, membalas, dan paling gampang adalah lari atau menghindar. Tidak heran, pengalaman Paskah itu para murid ngacir, hanya segelintir murid terdekat bersama Maria. Yesus yang menderita itu sedikit yang mau terlibat.

Konteks kekinian orang juga lebih suka pesta Natal, nuansa suka cita. Paskah itu cenderung sepi, bukan karena merenungkan sengsara Tuhan, namun juga karena orang lebih memilih suasana suka cita.

Setia. Maria setia sampai akhir. Membawa Sang Juru Selamat ke dalam dunia, pastinya Maria juga diperlengkapi Allah mutu terbaik. Terlihat kesanggupannya tetap ada di samping Puteranya. Padahal pastinya hatinya remuk tidak karuan. Ia tetap hadir.

Saudara Terkasih, layak kita renungkan, bagaimana sikap kita dalam keadaan duka cita, apakah setia atau pergi menjauh? Maria menjadi model bahwa menjadi anak-anak Tuhan itu setia sampai akhir. Beranikah kita memilih jalan seperti ini?

Doa: Ya Ibu yang tersuci, engkau selalu hadir dalam setiap karya Puteramu, termasuk di bawah kaki-Nya yang di atas kayu salib. Engkau selalu setia, dalam kondisi terburuk sekalipun engkau hadir. Berilah kami kekuatan mampu meneladan engkau dan bersikap yang sama, mampu hadir setiap peristiwa sesama kami, bukan hanya saat bahagia semata.

Kami yakin engkau mampu karena berkat Puteramu yang selalu hadir dalam hatimu, biarkan kami juga merasakan kasih karunia itu. Kasih Yesus puteramu yang memampukan untuk kami bisa selalu bersama dalam duka sesama kami. Enyahkan godaan sekiranya kami lemah dan pengin lari dan menghindari salib itu. Amin

Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *