Alam Mengajarkan

Alam Mengajarkan

Seorang murid menemukan kepompong di bawah pohon mangga. Ia mengambilnya, memuaskan rasa ingin, dan melanjutkan membongkar isi kepompong. Rupanya, ketika ia membuka dan mencabik-cabik kepompong, bulu ulat menyebar di tangan, badan dan wajahnya. 

Murid puas dengan apa yang dilakukan. Ia merasa bisa menjawab penasarannya. Tiba-tiba, rasa gatal mulai menyerang dirinya. Kulit muka dan sebagian badannyapun memerah dan bentol-bentol. Raut mukanya tak seperti aslinya. Ia merasa sedih dan menderita. 

Seorang murid lain mengabarkan kejadian yang menimpa rekannya kepada guru utama. Guru bergegas menemui dan menjenguknya. Setelah melihat kondisi murid yang sedang menggaruk-garuk badan, guru itu tersenyum sembari berkata, “Seharusnya Anda membiarkan ulat itu berproses menjadi kepompong dan akhirnya menjadi seekor kupu yang cantik dan indah. Nah… kepompong itu telah Anda buka sebelum waktunya. Parahnya lagi, ia justru mencelakakan Anda. Untuk menjadi sesuatu yang indah dan baik, pasti memerlukan proses yang panjang dan lama. Ada sebentuk kesabaran yang juga ditanamkan dan diajarkan di dalamnya.”***

Hidup merupakan serangkaian perubahan alami dan spontan. Jangan melawan karena akan menghasilkan kesedihan. Biarkan kenyataan menjadi kenyataan. Biarkan segala sesuatunya maju dengan acara sesuai irama alam? 

– Lao Tzu

C. IsmulCokro

C. IsmulCokro (CB. Ismulyadi), tinggal Sleman. Pernah studi di Fak Teologi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (Fakultas Teologi Wedha Bhakti) dan Ilmu Religi Budaya USD. Sampai saat ini masih berkarya sebagai ASN. Giat dalam dunia penulisan sebagai writerpreneur, editor freelance, redaksi salah satu tabloid dan memotivasi berbagai kalangan yang akan berproses menulis dan menerbitkannya. Email: cokroismul@gmail.com. FB. Carolus ismulcokro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *