Dari Keraguan Menuju Iman
Renungan Harian
Senin, 29 September 2025
Oleh Paul Subiyanto
Bacaan Injil Yohanes 1:47-51.
Ringkasan:
Yesus melihat Natanael datang menghampiri-Nya dan berkata, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”
Natanael bertanya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?”
Yesus menjawab, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”
Natanael berseru, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja Israel!”
Kemudian, Yesus berkata bahwa Natanael akan melihat hal-hal yang lebih besar, dan ia akan melihat surga terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun di atas Anak Manusia.
Renungan:
Membaca kisah injil ini terkesan pertama: Apa pentingnya bacaan ini– hanya sekadar pertemuan Yesus dengan seorang Yahudi bernama Natanael? Siapa Natanael sehingga menjadi penting bagi penulis injil (Yohanes)? Mengapa kisah ini hanya ada di Injil Yohanes, injil Sinoptik tidak memuat?
Natanael sering disamakan dengan Bartolomeus, rasul ke 12 yang dekat dengan Filipus. Natanael pada awalnya ragu: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Keraguannya mewakili hati manusia yang sering cepat menilai berdasarkan asal-usul, tempat, atau penampilan luar. Namun Yesus menyingkapkan siapa Natanael yang sesungguhnya: seorang yang tulus, tanpa kepalsuan.
Pertemuan pribadi itu mengubah Natanael. Dari orang yang sinis, ia berani mengaku: “Engkaulah Anak Allah, Engkaulah Raja orang Israel.” Iman lahir bukan karena argumen panjang, melainkan karena pengalaman pribadi akan kasih dan pengetahuan Yesus yang begitu dalam.
Jangan biarkan keraguan menutup hati kita. Tuhan bisa menyapa kita lewat cara yang sederhana, bahkan dari hal-hal yang kita anggap remeh. Yesus mengenal kita lebih daripada yang kita kenal diri kita sendiri. Ia melihat hati kita, bahkan sebelum kita datang kepada-Nya. Iman yang sejati muncul ketika kita berani membuka diri, membiarkan Yesus menyingkap siapa kita, lalu menyambut-Nya sebagai Tuhan.
🙏 Doa singkat:
“Tuhan Yesus, seringkali aku ragu dan menilai dengan mata manusia. Bukalah hatiku agar dapat melihat Engkau bekerja dalam hal-hal sederhana, dan berilah aku keberanian untuk mengakui Engkau sebagai Anak Allah dalam hidupku. Amin.”

