Kesaksian dari Orang Mati

Kesaksian dari Orang Mati

Renungan Harian

Minggu, 28 September 2025

Oleh Susy Haryawan

Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. (Luk 16:24)

Saudara terkasih, beberapa waktu lalu negara-negara banyak dilanda rusuh. Salah satu yang paling mendasar, dan tampaknya identik mengenai keadilan. Di Indonesia, elit terkesan berpesta pora dan jogged-joged di tengah rakyat kesulitan ekonomi. Respon mereka juga terdengar arogan. Negara agak jauh lebih mengerikan, bagaimana seorang istri perdana menteri meninggal karena terpanggang. Rumahnya dibakar massa, ada pula anggota dewan yang ditelanjangi dan dibuang ke sungai.

Kemarahan publik yang seharusnya bisa diredam jika saja ada kebijaksanaan. Sayang, bukannya bijaksana, malah sombong, seolah tidak tersentuh. Perbandingan yang senada dengan apa yang  dialami Lazarus dan orang kaya. Bagaimana Lazarus yang miskin itu akhirnya beroleh kasih karunia Allah dan duduk di pungkuan Bapa Abraham. Si kaya yang di dunia mendapatkan hal kenikmatan, mungkin bahasa sekarang kaya tujuh turunan, menderita dalam api abadi.

Apa yang si kaya lakukan itu? Ia hanya minta air setetes untuk membasuh tenggorokannya. Namun Bapa Abraham menjawab bahwa hal itu tidak mungkin karena jarak yang terlalu jauh, tidak terseberangi. Gambaran duniawi, bagaimana owel, enggannya kita berbagi padahal ada di hadapan kita. Karena eman nanti berkurang hartaku, kekayaanku, mengapa harus berbagi atas hasil kerja kerasku, mencari-cari pembenar untuk enggan memberikan bantuan.

Saudara terkasih, si kaya kembali memohon untuk mengirimkan Lazarus kembali ke bumi, memberikan nasihat bagi saudara-saudaranya. Lagi-lagi Bapa Abraham mengatakan, tidak mungkin kesaksian orang mati akan didengar, ketika apa yang Musa dan para nabi nyatakan saja mereka tidak mau tahu.

Hal yang sebenarnya sangat konkrit kita alami, bagaimana susahnya kita mengubah pola pikir kita. Dalam hal ini berkaitan dengan sikap batin, paradigma kekurangan. Owel itu karena pemikiran kita yang merasa kurang. Lihat saja para elit yang masih saja meminta tambahan ini dan itu, padahal gaji mereka sudah besar. Pekerjaan bagus, namun enggan untuk berbagi dengan sesamanya.

Ketamakan, kerakusan, keserakahan membuat semuanya serba kurang. Padahal sebenarnya dalam pemikirannya sendiri yang kurang. Keinginan lebih besar dari kebutuhan. Di sinilah unsur pembedanya. Bagaimana kita mengelola kebutuhan, bukan keinginan. Hal ini bisa tercapai, jika kita sadar, mampu melihat yang esensial, dan itu proses terus menerus untuk mampu membedakannya.

Saudara terkasih, Tuhan Yesus mengajak kita untuk mau berbagi. Apa yang Tuhan katakan bukan mengenai keburukan materi atau kekayaan, namun sikap batin atas materi itu. Pun Tuhan tidak hendak meminta kita jadi miskin dan tidak mau bekerja keras. Tidak demikian. Sikap batin terhadap materi yang tidak layak yang menjadi bahan kritikan Yesus.

Doa: Tuhan Allah kami, ajari kami untuk selalu melihat kasih-Mu melalui sesame kami apa adanya. Sering kami jatuh melihat dan menilai dari milik sesama kami. Bantulah dan kuatkan kami untuk seperti Engkau yang melihat hati sesama kami. Lembutkan hati kami, jika kami keras hati dan owel untuk berbagi pada siapapun yang membutuhkan. Biarlah Roh Kudus-Mu selalu menjamah kami, sehingga kami memiliki sikap berkelimpahan dalam hidup kami. Amin

Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *