URING-URINGAN
Renungan Harian
Selasa, 7 Oktober 2025
Peringatan Wajib SP Maria Ratu Rosario
Oleh Y. Haryanto
“Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu : Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya. “(Luk.10:41-42)
Bapak, Ibu, Saudara/i terkasih dalam Kristus, Berkah Dalem, Tuhan memberkati kita semua!
Dalam kesempatan kali ini saya ingin mengajak anda sekalian untuk:
- Melihat kembali pengalaman uring-uringan: Apa yang terjadi ? Mengapa bisa terjadi ? Apa (saja) akibat-akibatnya ?
- Kita hendak menerangi pengalaman uring-uringan kita dalam Terang Sabda Tuhan yang kita dengarkan hari ini (Luk.10:38-42)
- Menimba semangat Maria saudari Marta untuk praktik berdoa Rosario kita, sebagai penghormatan kita kpd Bunda Maria dan upaya merenungkan kehidupan Tuhan Yesus, khususnya di bulan Rosario ini.
- Bersama kita panjatkan doa pujian dan permohonan kita kpd Tuhan.
- Pengalaman Uring-uringan
Suatu hari saya menjadi seorang anggota panitia reuni. Kepanitiaan melibatkan banyak orang ,banyak teman. Bersama-sama kami mengupayakan yang terbaik untuk menyambut kehadiran teman-teman dari pelbagai tempat/kota asal: Jakarta, Bandung, Semarang, Bali, dan Yogyakarta . Banyak hal perlu dikerjakan: acara, konsumsi, tempat, dekorasi, transportasi, penjemputan, dll. Didasari niat baik, pada awal mulanya saya bekerja dengan senang hati dan bersemangat. Tetapi suasana hati berubah ketika badan lelah sementara masih banyak hal yang perlu segera diselesaikan. Datanglah seorang teman yang bermaksud menemani saya bekerja. Dia datang membawa seorang teman dan papan catur. Dengan ceria dia buka papan catur dan bertanding. Bukannya menemani dan membantu saya yg lagi stres lantaran banyak pekerjaan yg belum selesai, teman saya tadi asyik bertanding catur. Saya merasa jengkel. Bekerja sambil uring-uringan. Merasa tidak didukung. Menilai teman tidak memiliki kepekaan. Ngerti tidak sih kalau banyak hal perlu diselesaikan ? Mau sampai jam berapa semua urusan ini bakal beres ? Banyak kekuatiran, tiada yang datang meringankan beban pekerjaan, tiada yang peduli, sebel ! Saya lanjut bekerja sendirian dg memendam kejengkelan, jadi uring-uringan.
Mengapa saya bisa jadi uring-uringan ? Banyak hal menjadi penyebabnya: lelah, kurang mampu mengkomunikasikan harapan, kurang mampu bersikap rendah hati meminta bantuan, gampang bersikap reaktif, tidak trampil mengambil saat jeda untuk istirahat dan menata hati/emosi,…… Alih-alih menyadari persoalan lebih lebih ada pada diri sendiri yang ringkih (lemah secara fisik) dan sekeng (lemah secara mental dan moral),.saya menyalahkan teman-teman. Saya khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara.
Akibat-akibatnya antara lain: bersikap dan bertindak tidak fair terhadap teman, mencap teman sebagai pribadi tidak peduli, hubungan menjadi renggang, suasana hati kacau, hasil kerja tidak maksimal, merasa diri jadi korban, alih-alih membawa kegembiraan bagi orang lain malah memperkeruh keadaan dengan perilaku uring-uringan.
Niat baik dan suasana hati gembira di awal pelayanan tidak bertahan dan berganti menjadi uring-uringan. Alih-alih menyadari soalnya terutama pada diri sendiri yang ringkih dan sekeng, saya menuduh ini semua gara-gara teman tidak peduli. Menyalahkan orang lain, menganggap diri sebagai korban.
Bagaimana pengalaman anda ?
- Terang Sabda (Luk.10:38-42)
Ketika Tuhan Yesus dan murid-muridNya dalam perjalanan, sampailah mereka di suatu kampung (Betania). Seorang murid wanita bernama Marta mempersilahkan Tuhan Yesus dan para muridNya singgah di rumahnya. Marta punya saudara perempuan bernama Maria. Marta ini tentulah seorang murid perempuan Tuhan Yesus yang baik, menyambut tamu sebaik-baiknya menurut tradisi Yahudi waktu itu: menyiapkan tempat dan makanan serta minuman untuk disuguhkan. Niatnya baik: mempersilahkan Tuhan Yesus beserta para muridNya singgah di rumahnya dan tentu saja perlu dijamu. Banyak hal perlu dikerjakan sebagai Nona rumah yang baik. Lantaran keterbatasannya tanpa sadar dia jatuh menjadi pribadi yang uring-uringan. Menyalahkan Tuhan Yesus mengapa tidak menyuruh Maria saudari Marta untuk membantunya melayani para tamu. Jengkel kepada saudarinya, Maria, bukannya membantu dia malah enak-enak duduk dekat kaki Tuhan asyik mendengarkan Tuhan.
Dengan penuh kasih , Tuhan Yesus mengingatkan, menyadarkan Marta: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara.
Engkau sendiri, bukan saya, bukan saudarimu Maria yang membuat kamu kuatir dan sedih/susah. Ayolah, jangan reaktif begitu. Saya dan saudarimu, Maria, tidak bermaksud menjadikan kamu korban. Tenanglah. Saudarimu, Maria, – demikian pula sebaiknya kamu – memilih yang terbaik: dengan rendah hati mengambil sikap seorang murid, ia mau belajar menjadi muridKu. Ini yang perlu: dengan rendah hati dan hati tenang, terbuka, mau belajar menjadi muridKu. Terus mendengarkan perkataanKu, berupaya mengerti perjalanan hidupKu, meneladani Aku yang taat dan berserah kepada kehendak Bapa dari awal hingga akhir. Belajar beriman dariKu itu yang perlu, yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padamu.
Saya, kita, mudah tergoda untuk kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara ,uring-uringan, sampai lupa akan hal yang perlu, hal yang terbaik untuk hidup dan pelayanan kasih kita bagi sesama: mendekatkan diri pada Tuhan, mengambil sikap seorang murid (duduk dekat kaki Tuhan), terus mendengarkan SabdaNya, belajar beriman berpola kepadaNya: patuh, taat kepada kehendak Bapa dalam kasih.
Beriman yang sulit. Kita perlu belajar terus menerus dari Tuhan Yesus: menempatkan kehendak Bapa di atas segalanya dalam perjalanan hidup . Untuk itu seperti Maria saudari Marta kita perlu dengan rendah hati, hati tenang duduk di dekat kaki Tuhan Yesus, mengambil sikap orang yang ingin menjadi murid, rendah hati, tenang, terus mendengarkan SabdaNya, terus belajar meneladani tindakanNya yang menempatkan kehendak Bapa di atas segalanya dalam perjalanan hidup kita sampai akhir nanti.
Dalam terang Sabda hari ini kita dibantu mawas diri: ternyata pengalaman uring-uringan saya kok mirip kisah Marta. Memutuskan untuk ikut jadi salah seorang anggota panita reuni seperti halnya Marta mengundang Tuhan Yesus dan para muridNya singgah dan melayani mereka itu sungguh baik. Hal yang tidak baik itu adalah: saya kehilangan orientasi , reaktif, menyalahkan orang lain tanpa sadar akan kekurangan diri sendiri. Jadi uring-uringan, merasa diri menjadi korban, susah melihat perlunya Maria duduk di dekat kaki Tuhan Yesus dan terus mendengarkanNya. tidak bisa melihat pilihan Maria itu hal yang terbaik. Seperti halnya Marta saya/kita ditegur/diingatkan Tuhan Yesus sendiri: Har, Har, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara sampai lupa satu hal yg perlu dan terbaik: bersikap rendah hati mau menjadi murid Tuhan, terus mendengarkan Sabda dan kisah hidupNya, terus belajar meneladaniNya. Dari dalam lubuk hati kita , kita mendengarkan SabdaNya. Kita dibantu melihat peluang peluang baru memperbaiki diri dalam beriman, juga mohon rahmat kekuatan kehendak untuk menjalaninya.
- Berdoa Rosario dengan semangat Maria saudari Marta
Hari ini adalah Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Bersama-sama kita diundang untuk menghormati Bunda Maria yang setia dan taat melaksanakan kehendak Bapa. Salah satu cara menghormat Sang Bunda yaitu dengan berdoa Rosario. Entah secara pribadi ataupun bersama-sama kita diundang untuk merenungkan misteri kehidupan Tuhan Yesus Kristus seraya mendaraskan rangkaian doa Rosario.
Seperti Maria saudari Marta, kita hendak duduk di dekat kaki Tuhan Yesus. Kita mau belajar bersikap rendah hati sebagai seorang muridNya, dengan tenang mendengarkan dan merenungkan kisah hidupNya, bagaimana Tuhan Yesus menempatkan kehendak Bapa di atas segalanya sepanjang hidupNya dari awal (peristiwa-peristiwa Gembira), pelayananNya di muka umum (peristiwa-peristiwa Terang), peristiwa di sekitar sengsaraNya (peristiwa-peristiwa Sedih), dan kenangan akan kebangkitanNya (peristiwa-peristiwa Mulia). Kita sadar bahwa tanpa renungan kisah kehidupan Tuhan Yesus, pendarasan doa Rosario ibarat tubuh tanpa jiwa. Melalui renungan, kita hendak berguru kpd Tuhan Yesus Sang Guru Agung.
Bulan Oktober bagi kita umat Katolik adalah Bulan Rosario, bulan yang dikhususkan untuk mengembangkan hidup beriman kita dengan sarana khusus: berdoa Rosario, secara pribadi, pun secara bersama-sama. Janganlah terjadi berdoa Rosario sekedar ikut-ikutan, memenuhi kebiasaan tanpa penghayatan yang mendalam, sekadar pendarasan kata-kata tanpa jiwa.
- Doa
Terpujilah Tuhan Yesus, Engkau dengan setia dan taat melaksanakan kehendak Bapa. Demikian pula terpujilah Sang Bunda, yang menempatkan kehendak Bapa di atas kehendak pribadimu sendiri. Bantulah kami agar tidak mudah uring-uringan, dan sedia belajar rendah hati menjadi muridMu, terus mendengarkan SabdaMu, terus belajar meneladanMu.
Amin.

