Murah Hati Bukan Monopoli Orang Samaria
Renungan Harian
Senin, 6 Oktober 2025
Oleh M Unggul Prabowo
Pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasih kepadanya.” (Lukas 10, 25-37)
Dalam Injil Lukas, Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati kepada pria yang diserang perampok. Kisah yang sering kita dengar dan kita diingatkan kembali. Perumpamaan tersebut mengingatkan kita bahwa sesama tidak dibatasi oleh perbedaan atau latar belakang, melainkan siapa saja yang membutuhkan pertolongan dan kasih kita. Sama seperti orang Samaria yang rela berkorban dan memberi waktu serta tenaganya untuk menolong orang yang terluka, kita pun diajak untuk menunjukkan kasih tanpa syarat. Baik hati bukan monopoli orang Samaria, tetapi setiap pribadi dapat menjadi orang yang murah hati.
Pada tahun Yubelium ini adalah waktu yang istimewa dalam liturgi Gereja, kesempatan yang baik untuk mengekspresikan kemurahan hati kita, di mana kita diajak untuk melepaskan ‘hutang’, ‘meratakan jalan’, dan menegakkan keadilan. Salah satu maknanya adalah memperbarui semangat berbagi dan berderma kepada sesama, khususnya mereka yang membutuhkan. Ajakan tersebut mengingatkan kita bahwa berderma bukan hanya sekadar memberi materi, tetapi juga menumbuhkan kasih dan keadilan sosial. Dengan berderma, kita ikut serta dalam karya pembebasan dan pemulihan, memperlihatkan bahwa kita adalah sesama yang peduli dan saling menguatkan.
Semangat Tahun Yubelium ini dapat kita jadikan sebagai momentum untuk memperkuat komitmen kita dalam berbagi, menolong sesama, dan memperlihatkan kasih Kristus lewat tindakan nyata bermurah hati. Dengan demikian, kita tidak hanya menyambut sukacita Yubelium, tetapi juga menjadi alat kasih Allah di dunia.
Doa : “Tuhan, tuntunlah aku untuk selalu berderma dan berbagi kasih kepada sesama, sesuai panggilan-Mu dalam Tahun Yubelium. Tolong aku menjadi saluran berkat-Mu bagi mereka yang membutuhkan. Amin”

