MAS KRISNA RENDRA KAKAK YANG MURAH HATI
BRAMIN 3-
Mas Krisna sudah berkeluarga, istri tinggal di Bandung karena bekerja di Bank BRI di sana, sedang mas Krisna sebagai Manajer pemasaran di Gramacom yang berkantor di Palmerah tinggal di Jakarta di rumah Kost di Kebayoran Lama. Seminggu, selama awal kedatangan saya di Jakarta (Depok), di luar kegiatan saya mencari pekerjaan baru, saya juga ikut mas Krisna untuk berkeliling menghubungi customer yang mempunyai pinjaman kredit computer. Saya ikut dengannnya di tempat yang jauh – mungkin untuk mengambil setoran atas pinjaman kredit computer desk top yang sudah diambil oleh Lembaga Pendidikan itu. Juga mampir di rumah kostnya di Kebayoran Lama. Berangkatnya melalui jalan TB. Simatupang yang sedang mulai dibangun untuk menjadi jalan toll tetapi pembangunannya belum sempurna. Pulangnya melewati Pancoran dan makan siang di Sate Kambing Muda yang cukup terkenal di daerah itu. Dari kantornya di Gramedia mas Krsina dapat fasilitas kendaraan Kijang Panther warna biru tua. Kendaraan ini juga yang digunakan mas Krisna melaksanakan tugasnya di lapangan, dan rasanya seringkali juga datang ke rumah singgah di jalan Bangau 250 Depok – meskipun mas Krisna memiliki tempat tinggal di rumah kost di Kebayoran Lama, mungkin berkumpul dengan kami di Depok terasa lebih menyenangkan juga baginya – bisa ngobrol tentang banyak hal yang perlu diceritakan.
Setiap kali dia datang di Depok – kami bersama-sama akan diajak makan di luar di jalan Margonda yang pada tahun itu tidak sebesar dan seramai sekarang ini. Kesukaannya adalah makan yang enak. Kami boleh memilih sendiri daging kambing dari berbagai jenis jerohan, kaki, mata, lidah, dll yang boleh dipilih sendiri kemudian dimasak oleh penjualnya dan kami makan sepuasnya atas tanggungan mas Krisina. Kedatangannnya akan menjadi kesempatan bagi kami untuk menikmati makan yang enak di jalan Margonda – Depok. Kadang-kadang dia datang membawa buah durian di bagasi mobilnya. Kalau membawa makanan selalu lebih dari cukup untuk dapat kami nikmati bersama.
Pada suatu saat saya dengan mas Singgih pernah diajaknya ke Bandung, pulang ke rumahnya di daerah Cimahi. Dan sesudah sampai di sana kami sempat keliling kota Bandung. Sampai di dekat Bandara Husein Sastra Negara. Bagi saya waktu itu adalah perjalanan ke Bandung untuk pertama kali. Tahu jalan Pasteur dan Dago yang terkenal di Bandung itu dan Bandung rasanya masih cukup dingin udaranya untuk saya. Apalagi dibandingkan dengan udara di Depok atau Jakarta. Mas Krisna tidak kembali ke Jakarta bersama kami. Mobil kantornya dibawa kembali ke Depok dikemudikan oleh mas Singgih. Saya lupa lewat jalur mana yang kami tempuh saat berangkat dan pulangnya dari Bandung. Seingat saya melewati kota Bogor juga, tetapi jalan toll yang mana yang kami lalui apakah lewat Cipularang atau lewat jalur Puncak. Hanya ingat saat pulang melewati Cibinong juga tetapi kok lewat jalan Radar AURI juga yang ada di daerah Cimanggis. Kalau saya ingat kembali perjalanan itu di saat ini saya tidak menemukan jalur peta perjalanannya. Sekarang saya sudah tahu jalan-jalan itu tetapi bagaimana dulu saya mas Krisna dan mas Singgih melewatinya saya jadi bingung sendiri. Mas Singgih yang mengemudikan mobil itu pasti masih ingat lebih jernih rute perjalanannya ke Bandung dan kembalinya ke Depok. Mas Singgih mungkin juga masih ingat kenang-kenangan lainnya yang tidak perlu saya ceritakan di sini.
Saya dan mas Singgih dengan kendaraan yang sama itu pernah juga mengantar adik ipar Mas Krisna yang juga bekerja di Jakarta ke rumah kostnya yang ada di jalan Kramat Jakarta. Pada saat itu kebetulan ada acara yang saya lupa – yang dihadiri adik Mas Krisna di Depok.
Mas Krisna sebagai manajer pemasaran pastilah sudah keliling Indonesia selama penugasannya. Dia jugalah yang memberikan dukungan positif saat saya memulai pekerjaan di Bimas Katolik sebagai PNS . Di saat beberapa saudara di Bramin kurang positif melihat Bimas Katolik yang kecil sekali gajinya. Dia memberikan dukungan bahwa tidak menjadi apa bekerja sebagai PNS. Katanya gaji boleh kecil tetapi penghasilan tidak selalu demikian. Itu tampaknya karena dia sudah pernah bekerja sama dengan pejabat Bimas Katolik di Daerah dalam hal pengadaan buku pada waktu itu- dan melihat penghasilan PNS bukan hanya dari gaji saja. Saya sendiri belum meiliki gambaran yang jelas soal itu. Setelah pernah silau dengan pekerjaan yang akan mendapatkan gaji besar di swasta saya sungguh mengalami pertobatan – sehingga gaji kecilpun akan saya jalani dengan rasa syukur. Dan itulah pengalaman yang kemudian menjadi jalan hidup yang membawa ketenangan dalam hidup saya sampai masa kerja selama 28 tahun kemudian di Bimas Katolik pusat.
Mas Krisna melihat hal positip dalam pekerjaan PNS yang saya pilih kemudian. Selain itu mas Teguh yang tinggal serumah dan waktu itu juga mulai lebih sering tinggal di rumahnya di Bojong Gede juga memberikan penghiburan atas pilihan saya yang sederhana sebagai PNS. Tentang dukungan mas Teguh ini nanti akan saya ceritakan potongan kisahnya tersendiri.
Selain kedatangan mas Krisna di rumah singgah di Jalan Bangau Herkulanus Depok, saya pernah juga ke kantornya di LPKT Jl. KS. Tubun, saat itu saya hanya berdua dengan mas Krisna, dan saya diajak makan di seberang kantor dengan menu makan B2 berkuah. Dengan mas Krisna yang suka makan enak kita yang dekat dengannya tidak akan pernah menjadi lapar. Sebelum saya mendapatkan pekerjaan baru sebagai editor buku di Penerbt Galaxy Puspa Mega. Mas Krisna selalu murah hati. Saat itu mungkin konteksnya saya sedang mencari pekerjaan baru yang lain setelah berhenti dari Melawai. Dan oleh mas Krisna saya diajak mencari informasi pekerjaan di Tabloid milik mas Arswendo yang kantornya ada di dekat KS Tubun itu juga. Bodohnya ketika ditanya oleh adik Arwendo pekerjaan apa yang saya minati? Saya menjawab di redaksi. Ternyata pekerjaan itu di media penerbitan adalah pekerjaan yang bergensi – sementara saya tidak memiliki pengalaman apapun dalam bidang media. Zonk – mungkin juga karena tabloid itu sedang redup karena belum terlalu lama mas Arswendo pemimpin redaksinya dimasukkan dalam penjara Cipinang karena kasus survey dan kemudian dianggap menyangkut SARA. Tabloit itu tampaknya tidak terbit lagi setelah kasus itu terjadi.
Pertemuan dengan mas Krisna selanjutnya semakin jarang – karena tampaknya tugas terakhir mas Krisna dalam kelompok Grasindo di tempatkan di Bandung. Mendekati keluarga. Kami masih sempat bertemu Mas Krisna sekeluarga saat ada pertemuan Bramin beserta keluarga yang cukup besar jumlah pesertanya yang hadir di Wisma Kompas di daerah Pacet Cipanas – Puncak. Waktu itu hadir – dari Jawa Tengah mas Didik Hardiyarso dan istrinya mbak Beni, Mas Wisnu dengan keluarga mbak Santi – Wulan dan Lauren, entah sudah tinggal di Kaliori atau masih di Pangandaran juga hadir, kalau tidak salah ingat juga hadir mas Tyas. Romo yang memimpin Misa Rm. Totok Klowor MSF yang sedang transit di Jagakarsa/ Sunter sebelum berangkat ke Amerika.
Dengan mas Krisna ini saya juga ingat pengalaman saat kami masih di Biara Nasaret. Rumah Mas Krisna di pinggir jalan Magelang- seberang lapangan Kabupaten Sleman. Beran. Kalau saya pulang ke Tempel dengan sepeda dari Wisma Nasaret kadang sepeda saya titipkan di rumah mas Krisna. Paroki kami juga bertetangga – Mas Krisna dari Paroki Mlati – saya dari Paroki Medari. Di Biara MSF dulu ada bidel sepeda. Sebelum saya jadi bidel sepeda. Mas Krisnalah yang jadi Bidel sepeda itu. Keberangkatan mas Krisna ke Jakarta mungkin hampir bersamaan waktunya dengan mas Haryo, mas Gunawan Seno, dan Mas Gabriel Untung, hanya perjalanan karir mereka dalam pekerjaan menjadi berbeda-beda. Kemungkinan di Langkah awal mereka juga bertemu dengan para senior Barminers yang sudah terlebih dahulu bekerja di Jakarta.
Semakin menjauh-semakin menjauh setelah kami semua membangun keluarga masing-masing dan mas Krisna tinggal di Bandung dan tidak pernah kembali lagi ke Jakarta. Doa saya untuk mas Krisna sekeluarga. Salam untuk mbakyu yang saya lupa namanya. Apakah sampai sekarang masih aktif bekerja di BRI? Deo dan Teo saat ini mestinya sudah bekerja. Semoga semua sehat dan bahagia. Bagaimana kabarnya saat ini?
Jakarta, 22 Oktober 2025

