Mengambil Keputusan yang Tepat

Mengambil Keputusan yang Tepat

Oleh: Thomas Suhardjono

Renungan Harian

Jumat, 24 Oktober 2025:

12:54 Yesus berkata pula kepada orang banyak: “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. 12:55 Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. 12:56 Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? 12:57 Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? 12:58 Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. 12:59 Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”. (Luk 12:54-59)

Orang-orang di sekitar Yesus adalah kaum terpelajar, kelompok Farisi, Ahli Taurat, dan alim ulama. Ada dua hal yang dikatakan Yesus. Pertama, mereka terbiasa menggunakan logika alamiah: mereka mampu membaca gejala alam, kapan akan ada hujan, kapan hari akan panas terik. Mereka menguasai hukum kodrati. Tetapi hubungan manusiawi, hubungan antar manusia, apalagi hubungan manusia dengan Tuhan, tidak cukup dipahami berdasarkan hukum kodrati, melainkan harus mempertimbangkan hukum adikodrati, yang bersumber pada hati nurani, yang dibisikkan oleh Roh Allah sendiri. Ada unsur rohani, spiritual, yang tidak dikendalikan hukum kodrati.

Kedua, kalau hanya menguasai hukum alam, lalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan tentang Tuhan, maka yang terjadi adalah kemunafikan. Yang diomongkan tidak sama dengan yang diimaninya, bagai tong kosong berbunyi nyaring. Maka sebelum mempermasalahkan hubungan dengan Tuhan, kita harus berefleksi terlebih dahulu, sejauhmana hubungan kita sudah baik dengan sesama. Tidak usah  berbicara muluk-muluk tentang Tuhan, kalau ternyata hubungan kita dengan sesama tidak baik-baik saja. Peduli dan memikirkan kebutuhan sesama, perlu dipertimbangkan lebih dahulu, sebelum memutuskan untuk memberikan persembahan kepada Tuhan. Keputusan yang terbaik tentu mempertimbangkan segala sisi kehidupan kita, demi kesejahteraan hidup bersama. Itulah pelajaran tentang kebijaksanaan dari Yesus.

Peduli Pada Sesama

Membaca kemunafikan kaum Farisi yang dikritisi Yesus ini, saya teringat kisah sahabat yang pernah dimuat di kolom ini (www.brayatminulya.net/2021/09/09/bruder-petrus-pss-dan-atmabrata/). Bruder Petrus Partono dengan Yayasan Atmabrata, sangat peduli pada kaum terpinggirkan, peduli pada para lansia yang tak berdaya, peduli pada kaum muda yang tak punya ketrampilan dan meraih masa depan, bahkan peduli pada bayi-bayi yang terlantar karena problema orangtuanya. Dibimbing Roh Kudus yang penuh sukacita, beliau mampu membahas tentang Allah. Tuhan itu mahakuasa, kaya raya dan penuh kasih, Bunda Maria senantiasa mendengarkan doa-doanya, Allah mengabulkan permohonannya, pada saat yang tepat, sesuai yang dibutuhkannya.

Rukun Kematian Umat Katolik (RKUK) di Depok siap siaga 24 jam, meski tak ada bayaran apapun bagi para pengurusnya. Sama seperti seksi Pangruktilaya di setiap paroki, ketika ada panggilan kedukaan tengah malam, mereka berangkat ke rumah duka dan melayani dengan sukacita. Berdasarkan kepedulian kepada sesama ini, mereka menghayati Allah sebagai yang mahakuasa, yang mampu menciptakan manusia sekaligus yang mampu memanggil manusia kapan saja. Kematian bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan saat yang membahagiakan, karena manusia dipanggil untuk memasuki perjamuan surgawi yang abadi. Itulah kematian bahagia, yang dialami oleh St Yusuf, ketika didampingi oleh Bunda Maria dan Tuhan Yesus di sampingnya.

Marilah berdoa,

Allah Bapa yang kuasa dan kekal, Penuhilah badan dan jiwa kami dengan Roh KudusMu, sehingga kami mampu peduli dengan sesama di sekitar kami, agar kami mampu memberikan apa yang kami miliki, demi kepentingan hidup bersama.

Dengan demikian kami mampu mengambil keputusan tidak berdasarkan hukum kodrati saja, melainkan mempertimbangkan hukum adikodrati yang kami yakini. Sehingga kami makin menghayati apa yang diajarkan oleh Yesus, yang telah memberikan diriNya demi keselamatan manusia. Sebab Dialah Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Thom Hardjono

Pemerhati pendidikan, keluarga, hidup rohani, humaniora dan hidup bermasyarakat. 100% Katolik 100% Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *