PEKERJAAN PNS BUKAN PEKERJAAN BERGENGSI

PEKERJAAN PNS BUKAN PEKERJAAN BERGENGSI

BRAMIN-4

Di lingkungan tempat tinggal rumah singgah di Jl. Bangau Depok Utara pekerjaan PNS tidak dipandang
sebagai pekerjaan bergengsi. Penghasilannya terlalu kecil untuk menopang kehidupan. Ada Bapak- ibu
umat Katolik di sini yang berkomentar atas pilihan saya, dengan kata-kata seolah merupakan pujian –
tetapi sebenarnya seperti ledekan. Katanya “ Inilah priyayi Ngayogyokarto Hadiningrat yang memilih
sebagai pekerjaan sungguh-sungguh menjadi priyayi, seperti Abdi Dalem. Abdi Negara (yang tentunya
hanya dengan gaji kecil) – nrimo ing pandum. Mas Haryo juga menyarankan agar saya menghadap saja
ke pak Michael Utomo mantan Imam dari CM atau Keuskupan Surabaya yang waktu itu menjadi
Presiden Direkturnya Gudang Garam – untuk mohon bantuan agar dapat bekerja di Perusahaan itu
sehingga dapat memiliki penghasilan yang dapat menopang hidup menjadi lebih layak. Mas Haryo juga
mengkhawatirkan saya bekerja sebagai PNS dengan gaji yang kecil nanti tidak akan mencukupi untuk
kehidupan keluarga. Mas Singgih berkomentar: “ Inilah orang yang baru mulai bekerja sudah
mengharapkan pensiun”. Bekerja sebagai PNS pada saatnya nanti memang akan memasuki pensiun dan
mendapatkan gaji pensiun. Teman seangkatan mantan SCY yang bersama sama sama bekerja di Penerbit
Galaxy Puspa Mega sebagai Editor berkomentar: “Bekerja sebagai PNS di Bimas Katolik nanti kalau lapar
akan dikenyangkan dengan berdoa”. Teman yang lain ada yang mempertanyakan mengapa memilih jadi
PNS? Bekerja di sini (di Penerbit) selama 1 tahun hasilnya akan lebih besar daripada bekerja sebagai PNS
selama 3 tahun. Coba saja dihitung. Katanya lagi ayahnya yang bekerja sebagai PNS seumur hidup
akhirnya tidak dapat memiliki rumah sendiri. Pak Dhe dari pihak calon isteri yang tinggal di Depok juga
berkomentar: “Kalau kamu memilih bekerja sebagai PNS, kamu tidak akan pernah bisa membeli mobil”.
Semua komentar itu – untuk ukuran waktu itu secara materi memang benar adanya. Bukankah saya
sendiri pernah memikirkan hal yang sama saat berargumentasi dengan calon ibu mertua sebelum
kembali ke Jakarta bersama tunangan itu? Tetapi saya sudah bertobat. Tidak hanya akan menyandarkan
pada penghasilan berupa materi saja. Bukti sudah ada, nyatanya ayah saya hanya seorang PNS golongan
II/d saja juga bisa menghidupi anak-anaknya dan keluarganya, setia sampai purnabakti dan akhir
hayatnya kendatipun dalam cara hidup yang sederhana.


Dua orang diantara saudara di dalam Paguyuban Bramin memberikan dukungan atas pilihan pekerjaan
saya sebagai PNS, selain Mas Krisna Rendra yang sudah saya ceritakan pada episode sebelumnya juga
Mas Teguh yang satu rumah di Jl. Bangau 250 Herkulanus Depok. Mas Teguh menyatakan kepada
saya.”Baik-baik saja mas Hari sebagai PNS – Bapak saya juga PNS, dan nyatanya juga dapat menghidupi
keluarga, tidak kurang suatu apapun”. Saya juga kenal dengan ayah mas Teguh, Bapak Dulhadi, yang
menjadi Kepala Sekolah di SLB Ngosit – Wilayah Tempel. Sekolah yang dipimpin ayah mas Teguh tidak
jauh dari tempat tinggal saya di Tempel. Saya juga sempat membesuk ayah mas Teguh yang pada waktu
tugas dinas di Jakarta – kemudian jatuh sakit dan di rawat di RS Fatmawati Jakarta Selatan. Apa yang
disampaikan mas Teguh sejalan dengan pikiran saya tentang pekerjaan ayah saya yang juga PNS. Bahkan
sebenarnya saya berani mengambil keputusan demikian karena sejak TOP di Paroki Temanggung dan
kemudian di Kotabaru Pulau Laut saya selalu ketemu dengan Struktur Bimas Katolik Kementerian Agama
yang ada di Kabupaten. Dengan gagalnya saya untuk tidak terus menjadi seorang imam – saya merasa
akan lebih berguna hidup saya jika bekerja di bidang Agama Katolik yang sesuai dengan latar belakang
Pendidikan Filsafat dan Teologi di Kentungan. Ijazah memang lebih cocok untuk menjadi Guru Agama –
karena Ijazah Akta IV yang didapatkan dari Kentungan sebagai bagian dari Fakultas Pendidikan IKIP
Sanata Darma lebih memberikan kewenangan untuk mengajar Pendidikan Agama di Tingkat SLTA. Tetapi
pekerjaan itu pernah saya masuki selama 2 tahun dan berapa tahun praktek mengajar sejak Tingkat II –
III di Kentungan dan 2 tahun selama masa Tahun Orientasi Pastoral – saya merasa tidak cocok untuk
bekerja menjadi guru. Saya melihat dengan bergabung di Bimas Katolik struktur terendah yang ada di

Bimas Katolik pada tingkat Kabupaten/Kota paling tidak di ibu kota Kabupaten/ Kota lah saya akan
ditempatkan. Ternyata seumur hidup masa kerja saya, saya terus berada di Bimas Katolik pusat yang
wilayah kerjanya seluas Indonesia.
Seperti uraian dalam doa tujuh Sapta Kurnia pada butir ke 5, kita memohon agar dapat mengetahui
bahwa semua yang ada di dunia ini sifatnya hanya sementara saja. Maka kita memohon agar dibimbing-
Nya untuk tidak terbuai pada kemegahan dunia. Itulah yang kemudian sungguh terjadi. Lingkungan
Masyarakat berubah. Krisis moneter dan krisis multi dimensi terjadi di tahun 1998. Presiden Suharto
turun. Pemerintahan berganti rezim. Sektor swasta mengalami kesulitan dan presiden Gus Dur mulai
membenahi struktur gaji PNS menjadi lebih baik sedikit demi sedikit ada inpassing. Penambahan gaji
bukan kenaikan gaji seperti biasa. Yang semula jauh di bawah gaji pegawai swasta – pelan-pelan mulai
tidak terlalu jomplang. Suatu saat mas Teguh yang masih bekerja di SDM Yayasan Tarakanita
berkomentar, mas Hari… profisiat ya. Gaji PNS terus mengalami kenaikan. Sekarang Yayasan seperti
tempat saya bekerja sudah berada di bawah posisi gaji PNS. Alm. Pak Wedyo Kartono (seangkatan
dengan pak Hadi Subroto dan pernah menjadi spiritual Skolastikat) yang bekerja di Bagian Litbang
Yayasan Tarakanita, pada suatu saat bertemu saya Ketika sama-sama menunggu kereta KRL ke arah
Bogor di Stasiun Tebet juga ngobrol soal pendapatan. Beliau sempat merasa sudah mentok lah
kemampuan Yayasan untuk mengimbangi kebijakan pemerintah dalam menggaji karyawannya. Saat itu
saya merasa bersyukur – Tuhan sudah menunjukkan jalan-Nya untuk saya pilih dan berkontribusi kepada
umat Katolik dengan segala berkat yang boleh saya terima sebagai PNS.


Di Tahun 2000 saat krisis belum reda, dan saya sudah diangkat menjadi Kasubbag Kepegawaian di Bimas
Katolik datanglah manajer yang dulu atasan saya di Penerbit Galaxy Puspa Mega, kebetulan hanya saya
yang ada di ruangan kantor Bagian Umum itu sendirian saja. Beliau terkejut melihat saya yang duduk di
situ. Beliau menanyakan apakah Bimas Katolik punya pekerjaan terkait dengan pencetakan buku? Beliau
banyak bercerita mengenai kesulitan sektor Swasta bidang penerbitan yang makin tidak mudah – harga
kertas makin naik sementara order pekerjaan tidak terlalu banyak seperti tahun tahun sebelumnya
karena imbas krisis zaman reformasi belum terpulihkan. Pak Direkturnya Penerbit Galaxy pernah
“nggondeli” saya juga untuk tidak meninggalkan pekerjaan editor di Galaxy karena katanya temannya
yang sudah bekerja di Bimas Katolik – nasibnya tidak lebih baik dari pada yang bekerja di swasta. Dia
berkesan bahwa teman yang bekerja di Bimas Katolik itu sepertinya tertinggal di bidang ekonomi
dibanding teman-temannya yang bekerja di Sektor Swasta. Pada hal saya tahu temannya yang bekerja di
Bimas Katolik itu – saat itu sudah menduduki jabatan Eselon 3 dan menjadi Pimpro, yang dari sisi
ekonomi juga tidak terlalu tertinggal. Meskipun juga tidak hidup dalam kemewahan materi.


Satu persatu meninggalkan rumah singgah di jalan Bangau 250 Depok, seiring dengan kehidupan kami
masing-masing membangun keluarga. Saya meninggalkan Depok tahun 1997 setelah menikah di bulan
April tanggal 11 di Randublatung Cepu. Sebagai keluarga baru saya dan isteri tinggal di rumah kost di
Komplek AL Rawabambu Pasar Minggu Jl. Teluk Banten. Mas Teguh sudah lebih dahulu meninggalkan
rumah Singgah di Depok dan tinggal di rumahnya sendiri di Kompleks Sari Gaveri Bojong Gede Depok.
Tidak jauh dari Stasiun Bojong Gede sehingga memudahkan akses putra-putranya untuk bersekolah di
Regina Pacis Bogor dan Mbak Ari dan Mas Teguh dengan akses KRL berangkat dan pulang kerja menuju
tempat kerja di kantor Tarakanita dan RS Carolus Jl. Salemba Jakarta. Mas Singgih lah yang paling akhir
meninggalkan rumah Singgah itu. Karena kemampuannya yang multi talent – mas Singgih meninggalkan
jabatannya sebagai Kepala Sekolah di TK-SD Theresia. Sudah menikah dengan mbak Wiwid dan mereka
usaha wiraswasta semula di sekitaran Depok dan kemudian kembali ke tempat tinggal mereka di sekitar
Banteng jl. Kaliurang. Namanya usaha tidak selalu lancar mengalir.

Tahun 2000 ada formasi besar penerimaan Guru Agama Katolik tingkat SD. Kondisi ekonomi yang belum
pulih dan sektor swasta yang banyak mengalami kesulitan membuat formasi PNS mulai dilirik banyak
orang. Bimas Katolik mendapat jatah formasi sebanyak 2700-an pegawai. Tersebar di seluruh Indonesia.
Salah satu teman yang dulu bekerja di Penerbit Galaxy Puspamega yang menyatakan: “ Saya memilih
bekerja di Bimas Katolik, nanti kalau lapar akan dikenyangkan dengan doa” ternyata juga mendaftar
sebagai salah satu calon untuk formasi Guru Agama Katolik SD di Provinsi DKI. Saya merasa itulah
perubahan – saya sudah mulai settle – karena pekerjaan PNS rupanya pekerjaan karir tidak selamanya
akan menjadi staf saja, dan akan menangani pekerjaan yang sama saja. Saya 5 tahun sesudah
pernyataannya sudah dipercaya mengurusi proses kepegawaian di Bimas Katolik se Indonesia bekerja
sama dengan teman-teman di Provinsi. Teman itu tadi rupanya baru akan mulai masuk mengikuti jejak
saya sebagai PNS dalam tugas pekerjaan yang berbeda.


Tahun 2001 ada formasi 10 Dosen. Adik ipar mas Singgih yang mantan SCY ada bersama-sama dengan
saya mengurus formasi dosen ini. Saya sendiri semula sebagai Kasubbag Kepegawaian memberikan
telaah kepada pimpinan bahwa formasi ini akan menjadi persoalan karena Bimas Katolik belum memiliki
home base Perguruan Tinggi Negeri. Perguruan Tinggi yang ada di bawah pembinaan Bimas Katolik
berstatus swasta ada 2 buah, berkedudukan di Ende dan Malang. Dirjen menghendaki keadilan itu dan
Sekjen memberikan peluangnya. 10 Formasi itu akhirnya di bagi menjadi 2 tempat. 4 formasi untuk Ende
dan 6 formasi untuk Malang. Saya sebagai Kasubbag hanya dapat melaksanakan perintah Dirjen untuk
proses lebih lanjut. Mas Singgih yang ada di Yogya dalam jatuh bangun membangun usahanya disana,
kami tawarkan apakah bersedia menjadi dosen untuk mengisi salah satu formasi di Malang dengan
mengikuti tes sesuai dengan prosedur yang ditentukan. Atas dorongan mbak Wiwid istrinya, mas Singgih
mau mencoba mendaftar. Dalam proses tes itu Mas Singgih lulus dengan baik dng nilai 92 sesuai
dengan keyakinan saya – alumni Kentungan pasti tidak kalah bersaing dengan alumni dari Perguruan
Tinggi Keagamaan Swasta dari tempat lain.


Setelah kelulusan dan pemberkasan itu jalannya tidak mudah. Saat akan ditempatkan di Malang.
Lembaga itu menolak. Satu satunya calon yang akan diterima adalah calon yang berasal dan yang
diusulkan oleh Lembaga itu sendiri. Jadinya dari 6 formasi hanya diterima 1 orang saja. 5 orang lainnya
menjadi terkatung-katung selama 1 tahun berikutnya. Pada hal persetujuan pembayaran gaji pegawai
baru sejumlah 6 orang itu sudah dikirim ke KPPN Malang. Saya lah yang mendapat tugas untuk
membantu menguraikan persoalan itu. Sangat kebetulan STKIP Widya Yuwana Madiun yang izin
operasionalnya dari Bimas Katolik dibekukan oleh Uskup Surabaya Mgr. Hadiwikarto Pr. Setelah
almarhum wafat ada pengurus baru di Yayasan Rm. Tondo Wijoyo Pr dan Ketua STKIP Drs. E Yam Rewav
(2000-2003) menghidupkan kembali izin operasional itu dan meminta agar personil dosen (di dalamnya
termasuk mas Singgih) yang ditolak di Malang dapat ditempatkan di STIKIP Widya Yuwana Madiun. Saya
datang ke Malang untuk menarik kembali surat persetujuan pembayaran gaji 5 orang CPNS dari KPPN
Malang dan memindahkannya ke KPPN di Madiun. Kendatipun tugasnya hanya 3 hari perjalanan, saya
meminta tambahan waktu karena setelah menyelesaikan tugas dari Malang lanjut ke KPPN Madiun dan
bertemu dengan Rm. Tondo Wijoyo sebagai pengurus Yayasan dan Bpk. Drs. Yam Rewav untuk
menyerahkan 5 personil calon dosen yang mereka akan terima, mas Singgih dkk, saya harus ke
Pembimas Katolik Provinsi Jawa timur di Surabaya. Yang kebetulan juga dijabat oleh Senior Alumni
Kentungan Mas Angkowo – saya baru tahu bahwa Madiun – Surabaya itu masih jauh, saya naik bus biasa
bus antar kota sampai di terminal Bungur Asih lanjut dengan angkot menuju kediaman mas Angkowo di
daerah Sidoarjo dan sampai di sana sudah pukul 11.00 malam pada hari ke tiga setelah saya
meninggalkan Jakarta. Di Surabaya saya kehabisan baju ganti yang bersih karena sedianya perjalanan
cukup 3 hari akhirnya menjadi 4 hari.

Perjuangan mas Singgih tidaklah mudah – kenaikan pangkat dari III/a ke III/b diakui sebagai jabatan
administratif setelah 4 tahun masa kerjanya, bukan fungsional dosen, nanti ditahun tahun belakangan
setelah kurang lebih 6 tahun sebagai pegawai sejak tahun 2002 kedudukan jabatannya sebagai dosen
terkena likuidasi oleh aturan baru karena Bimas Katolik yang belum memiliki sekolah negeri tidak berhak
memiliki personil dosen. Penempatan dosen harus di lingkungan perguruan tinggi Katolik negeri. STAKat
Negeri Pontianak belum ada dan baru lahir di tahun 2017. Usul penempatan penggajian personil dosen
di Direktorat Pendidikan Bimas Katolik Jakarta pun di tolak. Mas Singgih dkk yang masih bertahan di
STKIP Madiun ditarik menjadi pegawai administratif dan berkantor di Penyelenggara Bimas Katolik
Kabupaten Madiun. Walaupun masih boleh mengajar di STIKIP. Satu orang sudah pindah menjadi dosen
di Fakultas Psikologi Brawijaya Malang setelah memperoleh gelar doktornya dari UGM. Satu lagi menjadi
Guru di Solo dan sudah tersertifikasi dan satu lagi menjadi pegawai administratif di Kabupaten Malang.
Terakhir mas Singgih menduduki jabatan sebagai Penyelenggara Bimas Katolik di Madiun yang
kantornya berlokasi di Caruban. Sampai purna bakti di tahun 2022. Detil kisah ini mas Singgih akan dapat
bercerita lebih lengkap. Setelah purna bakti mas Singgih menekuni Hobbynya untuk mengantar
rombongan jalan-jalan ke tempat wisata dan tetap produkstif menghasilkan cuan. Bagaimana mas
Singgih kabarnya hari ini? Salam untuk Mbak Wiwid dan anak-anak. Amadeus lanjut ke S-3 tidak? Nia
masih di Korea kah? Apakah adik yang paling kecil sudah kuliah sekarang? Stay Happy always…


Jakarta, 22 Oktober 2025
Ansgsrius Hari 45 Wijaya

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *