Allah Itu Sabar
Renungan Harian
Sabtu, 25 Oktober 2025
Oleh Paul Subiyanto
Kita Diberi Kesempatan untuk Bertobat
Bacaan Injil Lukas 13:1–9 — Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah
Renungan:
“Tuan, biarkanlah dia tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk; mudah-mudahan tahun depan ia berbuah. Jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:8–9)
Yesus menceritakan tentang seorang pemilik kebun yang kecewa karena pohon aranya tidak berbuah selama tiga tahun. Ia ingin menebangnya. Tetapi pengurus kebun memohon agar diberi waktu satu tahun lagi: ia akan merawatnya, mencangkul tanahnya, memberi pupuk, dan berharap tahun depan pohon itu berbuah.
Pohon ara itu menggambarkan hidup kita. Tuhan sudah menanam kita dengan kasih, memberi banyak kesempatan, waktu, dan berharap tahun depan pohon itu berbuah.
Pohon ara itu menggambarkan hidup kita. Tuhan sudah menanam kita dengan kasih, memberi banyak kesempatan, waktu, dan berkat supaya hidup kita menghasilkan buah yang baik — kasih, kesabaran, kejujuran, dan pelayanan bagi sesama.
Namun sering kali kita sibuk dengan diri sendiri, malas bertumbuh, atau tidak berbuah. Meski begitu, Tuhan tidak langsung menghukum. Ia sabar dan penuh kasih. Ia memberi “tahun tambahan” — kesempatan baru untuk memperbaiki diri dan bertobat.
Cerita inspiratif berikut menggambarkan kesabaran Tuhan: Seorang gadis kecil merengek minta seuntai kalung mutiara imitasi di supermarket. Begitu bahagia dan bangganya gadis itu setiap kali mengenakan kalung itu. Seperti biasa, ayah setiap malam menjelang tidur akan mendongeng untuk putrinya, tetapi kali ini setelah selesai ia bilang, ” Nak, boleh ayah meminta kalungmu? ” Gadis itu sedih sambil berkaca- kaca menjawab, ‘Maaf ayah, aku masih sangat sayang pada kalung ini. “. Ayah tersenyum sambil menjawab, ” Oh tidak apa- apa Nak. Ayah tetap sayang kamu”. Malam berikutnya, Ayah mengulang lagi permintaannya. Kali ini, gadis itu memeluk ayah sambil menangis, ” Maafkan Ayah, kalung ini sangat berarti bagiku, maaf aku tidak bisa memberikan kepada ayah! “.! Kata ayah, ” It is Okey, lupakan kata- kata ayah. Ayah sangat sayang padamu”.
Hati gadis itu gundah, di satu sisi ia sangat menyukai kalung itu, tapi di sisi lain ia juga sangat sayang sama ayahnya. Maka pada malam berikut, gadis itu sudah siap menyerahkan kalung itu kepada ayahnya. ” Ayah, walaupun aku masih suka dengan kalung itu tetapi karena ayah menginginkannya, silahkan ambil. Ayah”. Sang ayah tersenyum lebar, sambil mengeluarkan dari kantongnya, kotak perhiasan — setelah dibuka tampak kalung mutiara asli yang berkilau. “Nak, setiap malam ayah membawa kotak ini, tetapi ayah menunggu sampai kamu rela menyerahkan”
Pesan praktis:
Gunakan waktu yang masih Tuhan berikan untuk berubah dan berbuat baik. Tuhan selalu menunggu dengan sabar sampai kita mau berubah. Jangan menunda pertobatan dan perubahan— kita tidak tahu sampai kapan kesempatan itu ada. Setiap hari adalah waktu baru untuk menjadi lebih baik dari kemarin.
🙏 Doa singkat:
“Tuhan, terima kasih karena Engkau sabar terhadapku. Tolong aku untuk mempergunakan setiap hari sebagai kesempatan untuk bertobat dan menghasilkan buah kasih bagi-Mu dan sesama. Amin.”

