KERJA SEBAGAI EDITOR

KERJA SEBAGAI EDITOR

BRAMIN 5

Lebih jauh saya akan menceritakan pekerjaan antar waktu saya sebagai Editor Buku Sekolah di Penerbit
PT. Galaxy Puspa Mega di Kali Malang. Saya sudah sepintas menceritakan pekerjaan ini saya dapatkan
atas relasi baik bapak Hadi Subroto dengan temannya pemilik Penerbitan Buku itu Bapak Parno. Saat
saya berkunjung ke kantor pak Hadi Subroto di Menteng Jl. Surabaya dekat stasiun Cikini saya ditanya
minat kerja saya di bidang apa. Apakah mau menjadi editor di penerbitan buku dan saya menyatakan
kesediaan saya. Selanjutnya beliau pak Hadi Subroto hanya bertelpon pada Bapak Parno, dan jadilah
saya diterima untuk bekerja di sana. Saya tinggal bersama teman-teman di Jalan Bangau 250 lagi. Dari
situ saya berangkat pagi pagi ke terminal Depok dan naik Kowan Bisata yang trayeknya menuju ke Pulo
Gadung. Turun jalan Kalimalang dan lanjut dengan Mikrolet warna biru muda jurusan Kampung Melayu
– Kali Malang, turun di depan kantor Penerbit Galaxy Puspa Mega tinggal menyeberang jalan kaki 3
menit untuk sampai di tempatnya. Honor yang diberikan selama masa percobaan kecil sekali. Habis
dijalan untuk naik angkot. Di awal langkah saya harus membawa bekal makan siang seadanya dan
menggerogoti tabungan dari hasil kerja sebelumnya. Dalam satu bulan berjalan kondisi itu saya
bicarakan dengan manajer yang langsung membawahi pekerjaan saya. Saya katakana tidak lah adil jika
honor saya dapatkan habis di jalan untuk membayar transport saya. Sementara untuk makan saya harus
membawa bekal dari rumah. Keluhan iu rupanya diperhatikan. Dijanjikan kepada saya pada masa
percobaan memasuki bulan ke tiga honor saya akan ditambah – dan lebih besar daripada honor yang
saya pernah terima saat saya bekerja sebagai guru dan wakil kepala sekolah di Randublatung dahulu.
Tetapi saya rasa itu memang sudah sewajarnya. Karena saya berangkat pada saat matahari terbit – dan
Kembali sampai di tempat tinggal di rumah singgah di Depok lagi matahari sudah terbenam. Jam kantor
selesai pukul 17.00 dan mulai bekerja pada pukul 08.00.

Di tempat kerja ini saya bertemu banyak teman-teman alumni dari Kentungan, banyak diantaranya dari
eks SCY baik yang seangkatan dari Seminari maupun adik kelas. Mereka sudah lebih dahulu masuk
menjadi editor di situ. Ada satu teman eks Projo Jakarta. Bahkan dari cerita selanjutnya senior Bramin
Mas Rum Setyo Hadi yang sudah pindah ke Cirebon juga pernah berkarya di sini sebagai Editor juga.
Beberapa pegawai administrasi ada di kantor ini. Salah satu diantaranya bercerita tentang Mas Rum
Setyo Hadi. Mas Rum Setyohadi adalah senior saya satu tingkat di atas. Seangkatan dengan Rm.
Triyatmoko MSF. Saat masuk ke Tingkat III mas Rum Setyo berpindah dari MSF ke OCSO. Pada saat saya
asistensi di Paroki Rowo Seneng yang dipimpin oleh Rm. Yasa Widarta MSF dengan Topernya mas Nowo
Sediyarso/Gunawan Seno – di waktu senggang dia duduk di pastoran untuk ngobrol dengan kami.
Bahkan saya pernah diajak masuk ke perkebunan Kopi dan teh yang ada di lingkungan Biara OCSO itu
sampai di sekitar dam yang dibangun untuk menampung air di perbukitan milik Biara Rowo Seneng itu.
Mas Rum Setyo memang ditugaskan sebagai Humas di Biara OCSO untuk menangani pekerjaan
ekonomis bisnis – mengantar susu dan produk lain dari Biara Rowo Seneng ke kota lain yang perlu
didatangi. Saat saya bertugas di Paroki Temanggung juga sekali waktu menyempatkan untuk berkunjung
ke Rowo Seneng.


Selama 3 bulan saya bekerja di Editor saya menghasilkan 3 buku Revisi: Revisi Buku Sejarah Dunia. Buku
Baru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan dan satu lagi buku revisi yang saya lupa judulnya. Semua adalah
buku sekolah. Persaingan penerbit buku sekolah terasa sangat luar biasa juga di Jakarta ini. Di Jakarta ini
ada penerbit Erlangga. Penerbit Yudhistira. Dari daerah ada Penerbit Intan Pariwara. Untuk
memenangkan persaingan pemasaran di sekolah sekolah – bekerja sama dengan guru pengampu Mata
Pelajaran. Masing masing guru matapelajaran diminta menuliskan satu bab. Jika buku Pelajaran ada 10
bab berarti harus bekerja sama dengan 10 Guru Mata Pelajaran yang sama dari berbagai Sekolah yang berbeda-beda. Sebagai Editor saya baru tahu kualitas penulisan guru-guru pada waktu itu. Kadang-
kadang Editor harus mengolah kembali tulisan guru-guru yang asal asalan itu dan menyesuaikan dengan
kurikulum dan silabus yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan. Pengalaman menjadi Guru
selama 2 tahun di Sekolah St. Louis Randublatung sangat bermanfaat untuk pekerjaan ini. Sesudah buku
selesai di cetak, editor harus turun ke lapangan – menghubungi guru-guru di Sekolah yang menulis satu
bab untuk memasarkan buku kontribusinya kepada murid murid baru yang diajarnya. Itulah sebabnya
setiap tahun buku direvisi agar buku lama tidak dapat diwariskan kepada adik kelasnya. Membeli buku
lewat guru-guru itu mendapat potongan harga 30 % dan Guru penulis mendapat royalty dari tulisannya
yang sudah disempurnakan oleh editor atas namanya. Editor sekaligus menjadi captive market.

Sekolah-sekolah yang gurunya menjadi penulis buku ini tidak boleh dihubungi oleh Marketing mereka harus dihubungi oleh Editornya. Bagian Pemasaran yang turun ke lapangan harus mencari sendiri pangsa pasar yang bukan gurunya yang menyumbang tulisan pada buku itu. Kadang Editor bertemu dengan bagian marketing dari Perusahaan penerbit yang sama dan berengkar karena mereka berpendapat Edior itu tugasnya editing saja di belakang meja. Bagian pemasaran itulah yang bertugas turun ke Lapangan.
Karena dengan cara bergitu mereka juga kehilangan pangsa pasar yang mudah dijangkau dari symbiose
mutualisme antara guru dan penerbit buku. Di Sekolah kadang-kadang Editor juga mendapat semprotan
kemarahan dari guru-gurunya, karena penerbit yang lain sudah masuk lebih dahulu.


Di Galaxy Puspa Mega, saya merasa kondisi kerjanya kurang kondusif. Beberapa teman yang sudah
menjadi pegawai tetap – yang mestinya menerima gaji lebih besar daripada honor masa percobaan
saya, jika ngobrol di warung saat saat makan siang selalu membicarakan nasib masa depan mereka pada
suatu saat ketika perusahaan ini bubar. Ada perasaan tidak aman. Namun hati saya sudah ambil sikap –
ini bagi saya bukan pekerjaan permanen. Saya tinggal menunggu waktu untuk terbitnya SK sebagai
pegawai negeri di Bimas Katolik. Gajinya juga tidak banyak namun – gaji kecil itu akan awet jika dikelola
dengan baik kelak di kemudian hari. Teman-teman PNS mengatakan: sedikit tetapi alot dan awet kalau
dicokot.


Kendatipun honornya kecil, Direktur Bapak Parno sangat perhatian kepada saya. Kebiasaan saya jika
bekerja menulis di depan layar computer selalu membaca tulisan dengan jarak pandang yang dekat.
Kebiasaan itu rupanya diperhatikan oleh Direktur. Dia menanyakan apakah saya perlu ganti lensa kaca
mata? Kepada saya diminta untuk memeriksa ke optic dan memesan lensa dan tanggungan biayanya
tinggal dimintakan kepada bendahara di kantor itu. Saya tidak perlu membayar kembali biaya yang
digunakan untuk itu. Tetapi saya tidak pernah memanfaatkan kebaikannya itu untuk kepentingan
pribadi saya. Saya merasa saya tidak perlu hal itu. Bahkan Ketika lensa saya pecah karena jatuh di kamar
mandi rumah singgah dan framenya patah. Saya cukup membeli frame yang murah di tukang kaca mata
dipinggir jalan agar dapat barang yang murah. Lensa saya pesankan bukan di optic yang mahal. Yang
penting dapat berfungsi kembali untuk bekerja. Kondisi prihatin harus pandai mengatur strategi
menggunakan uang tabungan yang ada.


Kendati honor masa percobaan saya tidak besar dan akan digaji normal setelah 3 bulan masa percobaan
saya juga perlu mengatur strategi bagaimana caranya berhemat dari sisi transportasi. Strategi itu saya
temukan saat mas Andreas Wisnu Kadilan datang ke rumah singgah di Depok tempat kami berkumpul.
Tampaknya mas Wisnu pada saat pertama kali datang di Jakarta pernah tinggal untuk sementara waktu
di Kapel Materdei Cipinang Muara – yang menjadi Bagian dari Stasi Paroki Rawa Mangun. Dari tempat
itu ke Kantor Penerbitan cukup sekali jalan dengan kendaran Metromini dari Kampung Melayu –
Cipinang Muara – Pondok Kelapa dan dia akan berhenti persis di seberang kantor Penerbit Galaxy di
Kodam Kalimalang. Waktunya juga lebih singkat. Tidak harus berangkat pagi pulang malam. Saya diminta
menghadap alm. Rm. Suryo Sunaryo pastor kepala Paroki Rawamangun. Dengan senang hati Romo Suryo mempersilahkan saya untuk tinggal di Kapel Materdei itu. Di tempat itu juga sudah ada koster –
Mas Suripno asli Wonogiri, tetapi mas Ripno tidak tinggal di tempat itu. Kamar yang saya tempati ada di
lantai 2 di dalam bangunan Kapel dan tampaknya sebenarnya itu kamar untuk Romo yang bertugas di
situ jika ingin beristirahat. Namun karena Rawamangun ke Cipinang Muara tidak terlalu jauh, kapel yang
menyediakan kamar itu tidak ditempati oleh seorang romo. Kosterpun tidak inggal di situ. Meskipun
demikian sering kali saya tidak bermalam di kamar kapel yang diperbolehkan untuk saya tempati itu.
Saya tetap lebih sering pulang ke rumah Singgah di Depok. Di Depok lebih nyaman dan tidak tinggal
seorang diri.


Satu kejadian lucu pernah saya alami pada waktu saya tinggal di Kapel Materdei Cipinang Muara ini. Dari
Depok saya ke Kampung Melayu. Dari Kampung Melayu naik Metromini nomor 91 menuju Cipinang
Muara – entah sebab apa, pada waktu saya naik Metromini ini saya tidak turun pada saatnya saya harus
turun di pertigaan Cipinang Muara. Mungkin karena saya belum hafal tempatnya. Saya ikut terus saja
Metromini itu berjalan menelusuri rutenya ke Pondok Kelapa, dari Pondok Kelapa Kembali lagi ke
terminal Kampung Melayu. Sampai di sana lagi saya baru sadar – lha kenapa saya tadi tidak turun di
Cipinang Muara? Saya Kembali ke titik nol di Terminal awal keberangkatan saya di Kampung Melayu ini.


Baru satu setengah bulan bekerja di penerbitan ini, saya dapat tilgram dari Yogya. Tilgram itu ditujukan
ke Alamat Jl. Bangau 250 Depok. Isi tilgram singkat. Saya diminta pulang ke Yogya. Bapak sakit dan
dirawat di rumah sakit Pantirapih. Saya ditelpon mas Triyatno dari rumah di Depok lewat telpon kantor
di penerbit di Kali Malang. Saat itu juga saya langsung mohon izin kepada Direktur karena berita itu –
untuk pulang ke Yogya selama 3 hari perjajalanan. Tunangan yang tinggal di rumah Saudara di Kampung
Bidara Cina Jalan Otista saya ajak untuk pulang ke Yogya. Perjalanan kami lakukan sore itu juga di
tanggal 29 Juni 1995. Sampai di Stasiun Tugu Yogya tanggal 30 – agak siang pukul 09.00 dan tunangan
saya ajak makan dia di warung Soto pinggir pagar Stasiun Tugu ke arah Pingit. Soto ayam yang enak dan
sangat murah harganya. Karena saya berpikir jika terjadi sesuatu di rumah kami sudah kenyang setelah
perjalanan semalam dari Jatinegara menuju Yogya. Kami pulang ke arah Tempel dengan bus dari Pingit.
Sejak turun di atas Pasar Tempel, saya melihat area depan rumah dari jauh. Tidak terlihat ada kesibukan
apapun di sana. Hati saya merasa tenang. Kami jalan kaki dari turunan jembatan Krasak itu terus
berdua menuju rumah. Sampai di rumah adik laki-laki sedang di kamar mandi. Dia tidak keluar dari
kamar mandi. Dari dalam kamar mandi dia memberi tahu bahwa mbah putri dari Ibu yang tinggal di
rumah Kakak di Prambanan kemarin meninggal. Sudah dimakamkan. Bapak jatuh sakit dan di rawat di
rumah sakit. Saya diminta segera datang ke rumah di Prambanan kunci motor ada di meja TV. Saya dan
tunangan segera berangkat menuju Prambanan dengan motor itu. Hati tetap tenang. Sampai di rumah
Kakak di Prambanan – saat kami datang mata para tetangga di depan rumah mereka memperhatikan
kami yang datang dengan diam tertegun. Bau bunga setaman terasa menusuk hidung. Saya anggap
wajar bahwa demikian adanya karena kemarin Mbah putri meninggal dan dimakamkan. Saat naik ke
tangga rumah dan mau masuk pintu ibu menjemput kami sambil menangis dan memberi tahu bahwa
Bapak sudah dipanggil Tuhan kemarin pagi dan langsung dimakamkan. Hati saya bisa tabah menghadapi
hal itu bahkan bisa berucap untuk menghibur ibu. Sudah lah. Bapak sudah mendapatkan tempat yang
damai di sisi Tuhan. Betul bahwa mbah juga baru saja dipanggil Tuhan pada hari Kamis seminggu
sebelumnya. Bapak menyusul kemudian hari Kamis sesudahnya.


Saya baru merasakan sekarang saat saya pulang mengurus kelengkapan SKCK dalam rangka
pemberkasan dokumen di Bimas Katolik yang akan dikirimkan ke BKN bulan Februari dulu itu saat
pertemuan terakhir saya dengan Bapak. Bapak memaksa saya menerima sebagian dari uang pensiunnya
yang baru saja diambil dari kantor pos untuk saya terima. Saya menyatakan bahwa saya masih memiliki
tabungan dari hasil kerja di Rabdublatung dan hasil kerja di Melawai untuk menopang hidup sementara sedang mencari pekerjaan baru lagi. Bapak tidak mau menerima penolakan saya. Saya harus menerima
pemberiannya. Katanya di rumah jika kekurangan masih bisa berhutang kepada tetangga. Kamu di
tempat asing bagaimana harus mencukupkan dirimu? Itulah kekuatiran dan kasih sayang seorang Bapak
yang mau ditunjukkan kepada anaknya yang pergi ke tempat yang jauh dan berjuang untuk masa
depannya.


Setelah mengunjungi makam Bapak dan ngobrol di rumah dengan seluruh anggota keluarga pada malam
harinya saya menceritakan juga keadaan saya di Jakarta yang belum settle. Dalam pertemuan keluarga
itu saya merasa sangat bersedih. Adik perempuan saya sedang studi di Sanata Darma atas dorongan
saya. Saya belum bisa memberikan bantuan finansial untuknya dengan kondisi saat ini. Bapak sudah
dipanggil Tuhan. Bagaimana nanti kelanjutannya? Ini semester ke 4 studinya dan beasiswa yang
diterimanya dari sanata Darma sudah berakhir di semester berikutnya. Luar biasanya kakak yang dulu
tidak mendukungnya mengambil alih tanggung jawab itu sepenuhnya. Dia katakan studi adik harus
berlanjut sampai tuntas. Ibarat nyeberang sungai – kita sudah sampai di tengah dan terlanjur basah.
Diberikan contoh anak tetangga yang ibunya hanya sendirian berjualan gethuk saja bisa membiayai
kedua anaknya satu untuk menyelesaikan studi di perguruan tinggi dan satu lagi menjadi seorang
perawat. Kenapa kita tidak bisa? Pasti keluarga kita juga bisa! Saya merasa lega atas pernyataan itu.


Esok sorenya saya harus kembali dan tiket kereta Kembali ke Jakarta dari stasiun Prambanan hanya dapat
satu tempat duduknya. Tidak apa. Sore setelah kami berangkat dengan kereta dari Prambanan, Ibu dari
Randubaltung datang ke rumah untuk mengucapkan belasungkawa karena kemarin saya telpon
memberitahukan berita duka itu. Ibu Randu meminta agar ada saudara yang menyusul ke Stasiun untuk
meminta tunangan yang saya ajak pulang ke Prambanan tidak kembali ke Jakarta tetapi kembali ikut
pulang ke Randublatung dengannya. Tidak boleh kembali ke Jakarta lagi. Tetapi saudara yang menyusul
ke Stasiun Prambanan itu baru sampai saat kereta yang membawa kami kembali ke Jakarta sedang
bergerak untuk berangkat. Dia berteriak teriak bertepuk tangan. Tentu saja kami tidak tahu dan tidak
mendengarnya. Kami juga tidak tahu bahwa kisahnya menjadi sedramatis itu. Kalau jadi tunangan saya
diajak kembali ke Radublatung dan tidak boleh kembali lagi ke Jakarta. Saya tidak tahu nasib relasi kami
seperti apa selanjutnya. Seperti apa juga perasaan dia di rumah meskipun tinggal dengan ibundanya.


Di kereta walaupun hanya dapat satu tempat duduk – rupanya seorang ibu sederhana – penumpang
yang naik dari Stasiun Klaten membeli 2 tiket tempat duduk sekaligus walaupun hanya berangkat
seorang diri. Dia seorang pedangang sayur di pasar Tanah Abang. Dan tempat duduk yang kosong
miliknya itu diberikan kepada kami. Saya dan tunangan dapat duduk nyaman di masing-masing kursi
yang tersedia untuk kami atas kebaikan ibu itu. Begitulah cara Tuhan memberikan pendampingan-Nya
yang penuh berkat kepada kami.


Kakak memberitahukan peristiwa kami disusul ke Stasiun Prambanan saat kedatangan ibu dari
Randublatung itu pada kesempatan berikutnya saya pulang ke rumah dengan nada agak marah. Besok
besok lagi kalau mengajak anak orang harus dengan cara yang benar. Seolah olah saya sudah salah
membawa anak orang dengan cara merampasnya dengan paksa. (Pada hal saya ingin membayangkan
diri menjadi Ksatria berkuda putih datang kepada seorang putri dan membawanya terbang ke angkasa
untuk menemukan istana baru di langit dan menyelamatkannya dari bahaya! Saya datang seperti
mimpinya He he…). Karena ternyata sepanjang pertemuan yang mestinya berbela duka itu ibu dari
Radublatung menceritakan kisah kami yang berangkat ke Jakarta dari Randublatung dulu. Dengan cara
halus ibu menceritakan kepada saya bahwa ibu Randu banyak berkeluh kesah tentang hal itu – karena
ibu merasa duka cita yang sangat dalam karena ditinggalkan suaminya saat itu Ibu tidak dapat
mendengarkan dan merespon cerita ibu dari Randublatung itu dengan hati jernih. Memang berbulan- bulan kesedihan ibu tidak reda. Sering pergi ke makam Bapak dan duduk sendirian di sana – kendatipun
diterpa hujan gerimis. Baru setelah disadarkan adik ibu – bahwa iu masih punya tanggungan anak anak
yang lain- adik adik saya – ibu sadar dan kesedihannya mulai ditinggalkan.


Bulan Juli kakak datang ke Jakarta dengan kereta. Ini bulan ke tiga saya bekerja sebagai Editor di
Penerbit Galaxy Puspa Mega. Sebulan setelah Bapak dipanggil menghadap Tuhan. Saya hanya diminta
bertemu di Stasiun Jatinegara. Karena setelah pertemuan di Stasiun itu kakak langsung Kembali lagi ke
Yogya juga dengan kereta. Katanya saat menyerahkan SK yang sudah dikirim dari Bimas Katolik ke Yogya
dari tangannya: “ Ini berkat doa Bapak, jalan hidupmu sudah menjadi semakin jelas. Kamu dipanggil
untuk bekerja di Bimas Katolik. Ini SK nya”. Saat itu masih pertengahan bulan Juli 1995. Pekerjaan saya di
Editor baru akan dibayar di akhir bulan. Maka keesokan harinya saya mohon izin dari Galaxy untuk
menghadap ke bagian personalia di Bimas Katolik. Dan di sana saya menyatakan kepada Kasubbag
kepegawaian yang mengurus soal itu untuk memohon waktu baru akan masuk Bimas Katolik di awal
bulan karena sementara ini saya sedang bekerja di Lembaga Swasta, honor bulan ini baru akan saya
terima di akkhir bulan. Bimas Katolik memberikan izin seluasnya. Saya selalu mensyukuri anugerah-Nya
lewat orang orang atau Lembaga yang akan menjadi perlindungan saya di saat sedang berjalan.


Honor di Galaxy bulan ke tiga hampir dua kali lipat dari pada yang saya terima di bulan pertama dan
kedua. Pada hal jika saya terus bekerja di Editor bulan keempat saya akan digaji normal. Bisa jadi 4 kali
lipat dari pada yang dapat saya terima saat saya mulai bekerja di Bimas Katolik. Bekerja di Bimas Katolik
gaji saya menjadi kecil lagi. Selama setahun hanya akan menerima gaji 80 % dari standar gaji pegawai
golongan III/a. Tetapi saya tidak peduli lagi. Bukan gaji besar yang membuat hati saya merasa aman.
Tetapi perlindungan Tuhan yang terus menerus dalam setiap langkah hidup saya yang membuat hati
saya aman dan nyaman. Nanti saya akan bisa merumuskan bahwa bekerja di Bimas Katolik – saya
menjadi orang merdeka. Mau malas bisa. Mau rajin juga bisa. Tetapi saya akan selalu mengikuti hati
nurani dan berusaha terus memberikan yang terbaik dari hidup saya agar saya menikmati rasa bahagia.

Jakarta, 22 Oktober 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *