Kehadiran Yesus Bukan Abu-Abu

Kehadiran Yesus Bukan Abu-Abu

Oleh FA Adihendro

Renungan Harian 23 Oktober 2025
Injil Lukas 12:49-53

“Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan. Kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan”,kata Yesus (Luk 12:51)

Seorang pemuda tetiba menghadap orangtuanya dan menyatakan keinginan menjadi menjadi seorang Romo, padahal keluarganya adalah umat Muslim yang taat. Bahkan tidak ada satu pun yang beragama Katolik. Gegara pemuda itu bersekolah di SMP Katolik, dan ternyata dibabtis dan menerima komuni pertama di Sekolah itu, ia tertarik menjadi seorang imam Katolik. Tentu saja keinginan itu menimbulkan kegoncangan dan pertentangan dalam keluarga itu. Bapaknya secara tegas menolak keinginan anaknya, karena ia adalah salah satu tokoh masjid di kampungnya. Apa kata orang nanti. Ibunya belum bisa menerima bahwa anaknya ingin menjadi Romo, karena berarti tidak bisa menikah dan mempunyai keturunan. Saudara-saudaranya yang lain, menyerahkan kepada keyakinan sang pemuda itu. Ada pertentangan yang cukup alot dalam rumah tangga yang dulunya tenang dan damai. Singkat cerita, si pemuda itu berhasil lulus dan ditahbiskan menjadi imam Katolik. Dalam misa perdananya, si anak berkotbah menceritakan perjalanan hidupnya dan merasa damai dan bahagia menjadi Romo. Mendengar kotbah si Romo baru itu, kedua orang tuanya menangis terharu dan bergegas bersama anak-anaknya yang lain, menemui si Romo baru, memeluknya dan air mata kebahagiaan tidak terbendungkan. Cerita selesai.

Kehadiran Yesus memang membawa pertentangan di antara orang-orang yang masing-masing ingin mempertahankan kebenarannya. Orang tua dari Romo baru tersebut ingin mempertahankan iman Islamnya yang diyakini dengan kebenarannya. Sedangkan anaknya tetap meyakinan kebenaran panggilan-Nya. Tetapi pertentangan itu bukan merupakan “perang dengan mata pedang”, melainkan suatu pemisahan yang jelas dan tegas, tidak abu-abu, namun berujung pada kedamaian dan kebahagiaan. Itulah misi yang dibawa oleh Yesus! Pada awalnya memang akan terjadi pertentangan (baca: ketidak sesuaian) antara dua pihak yang berlawanan, namun semakin jelas mana yang putih mana yang hitam. Yesus tidak menghendaki sikap suam-suam kuku, atau abu-abu, ikut sana namun juga ikut sini. Dengan demikian orang tidak mempunyai keyakinan yang mantap. Mengikuti Yesus harus dengan keyakinan iman yang mantap, tidak menduahati. Karena Yesus memang satu-satunya Jalan, Kebenaran dan Hidup yang menyelamatkan dan membahagiakan. Untuk mencapainya orang harus berani meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama dan mengenakan perilaku (habitus) yang baru, agar tidak menimbulkan pertentangan dalam diri sendiri. Yesus akan melemparkan “api” untuk menyucikan hati yang lama, agar menjadi “kerbat yang baru yang siap menerima anggur baru” (Luk 5:37).

Kehadiran kita, sebagai umat Kristiani, di tengah-tengah masayarakat kita yang heterogen barangkali akan menimbulkan pertentangan-pertentangan. Namun dengan kesaksian-kesaksian hidup tentang Kasih yang diwartakan Yesus kristus diharapkan bisa membawa kebahagiaan bagi semua orang. Berkah Dalem.

FA Adihendro
Pemerhati hidup rohani

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *