Politik dan Agama, Sebuah Mesin Ketakutan

Politik dan Agama, Sebuah Mesin Ketakutan


Kesadaran dan Kemerdekaan Jiwa yang Terenggut


Sejatinya agama membawa kepada kemerdekaan dan kebebasan spiritual. Apa yang terjadi di Indonesia tidak demikian. Sering agama malah jadi alat legitimasi atas kekerasan, kebencian, tidak jarang malah aksi anarkhis. Seolah-olah itu adalah jalan suci, membela agama. Apakah benar demikian?


Salah Kaprah Beragama
Bagaimana beragama itu benar, sejati, dan tepat, jika lebih memiliki sikap syukur pada Sang Pencipta, menghargai, mencintai sesama, dan tidak lupa memelihara dan melestarikan lingkungan tempat hidup. Bisa dinilai, dalam beragama di lingkungan negeri ini, memuja Allah Pencipta namun abai akan sesama apalagi lingkungan.


Berseru pada Mahabesar, namun memukul sesama dengan tinju dan kadang parang. Jangan tanya mengenai penghormatan akan alam. Membuang sampah sembarangan, merusak hutan demi kepentingan sendiri, dan seterusnya. Menomorsatukan Allah namun menendang saudaranya dan bumi yang memberikan hidup.


Pembedaan roh baik dan roh jahat sejatinya memberikan pengajaran kepada manusia, bagaimana hidup Rohani yang baik atau malah dibelokkan si jahat. Contoh sederhana, bagaimana bisa mengaku saleh, religius, dan beragama tataran tinggi, namun masih senggol bacok, bahasa-bahasa yang dipilih adalah kekerasan, beringas, bar-bar, teriak kencang.


Perilaku agamis, apalagi spiritualis itu sebaliknya yang tertulis di atas. Tenang, teduh, menenteramkan, bahasa atau kata-kata halus yang menenangkan, mosok beringas. Bagaimana pertanggungjawaban atas keimanan yang diklaim jika masih mudah tersulut, alias beringas, sumbu pendek.


Beberapa pihak sedang membicarakan, mengapa politik dan agama di Indonesia bisa melahirkan pribadi-pribadi sumbu pendek. Ternyata, hasil amatan pihak-pihak tertentu karena minimnya membaca, sehingga literatur yang ada sangat sedikit. Mudah dihasut dengan isu yang sangat sensitif. Perbedaan afiliasi politik dan ideologi sangat mudah menjadi pemicu perselisihan, perdebatan, dan berujung pada kekerasan.


Apa yang Bisa Dilakukan?
Memberikan porsi pendidikan rasional, tidak hanya hafalan dan takut dengan dosa, neraka, namun penuh keyakinan, sikap positif, bahwa Allah Maharahim itu Pengampun dan Pemberi yang tak terbatas. Tidak sebaliknya. Bagaimana katanya Pengampun kog penghukum. Bagaiamana sebagai orang tua, yang melahirkan buah cinta, pasti akan merawat dan menyayangi, tidak mungkin menyakiti, apalagi ini Mahamurah, mosok akan membinasakan.


Kesadaran ini harus terbangun. Caranya ya membaca, refleksi, dan evaluasi terus menerus, adakah pemahaman yang harus direvisi dan diperbaiki? Tanpa itu semua, yang ada adalah generasi dangkal, yang mudah diombang-ambingkan kepentingan beberapa pihak.


Hari ke hari, kehidupan spiritualis mulai menggejala, tumbuh dengan pelan namun pasti, bahwa ada ancaman untuk tetap tiarap tentu saja ada. Toh tidak perlu cemas, ada kuasa Roh Baik yang akan tetap hadir dan memberikan pencerahan.


Salam JMJ
Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *