BRAMIN MEMBERIKAN PENGHIBURAN DI SAAT DUKA LARA

BRAMIN MEMBERIKAN PENGHIBURAN DI SAAT DUKA LARA


Seri 2

Pada tulisan seri 1 sudah sepintas saya ceritakan bagaimana saya diberanikan meninggalkan kemapanan untuk mencari jalan nasib menjadi lebih baik. Istilah religiusnya mencari kehendak Tuhan, menengok jendela yang terbuka dan disediakan untuk hidup saya. Perjalanan itu bukan suatu yang mulus. Tuhan tidak pernah menjanjikan mata hari akan bersinar sepanjang hari. Tetapi kadang mendung yang datang dan hujan yang turun sekalipun membuat perjalanan menjadi tidak nyaman – jika dikenangkan kembali akan menjadi indah pada waktunya.

Dalam seminggu sesudah meninggalkan Randublatung saya dapat memperoleh pekerjaan di swasta – di tahun 1995 itu. Sebenarnya calon mertua “nggondeli” – Yayasan menyarankan saya tetap tinggal dan bekerja di sana. Pengangkatan untuk menjadi pegawai tetap dijanjikan nomor urut 1 jika ada kesempatan. Hati saya tidak bersauh di sana. Saya ingin pergi. Mencari kolam yang lebih luas. Mas Singgih sudah mapan menjadi Kepala Sekolah milik Paroki Herkulanus Depok di TK-SD Theresia. Dan dengan berbagai kemampuannya dapat menambah penghasilan selain pekerjaan pokoknya. Mas Teguh sudah mapan di bagian SDM Tarakanita. Mereka sudah memiliki tanah yang dibeli atas hasil jerih payahnya. Mas Teguh sudah punya rumah di Bojong Gede. Saya masih jauh tertinggal di belakang. Bahkan saat teman seangkatan Novis di Salatiga yang menjadi dosen Bahasa Inggris di Widya Mandala Madiun datang ke Sekolah SMEA St. Louis Randublatung untuk mempromosikan lembaganya kepada para siswa, saya yang membukakan pintu gerbangnya. Saya terkejut dan merasa malu. Saya hanya seorang guru di Yayasan yang berada di kampung yang mas Singgih meledeknya sebagai daerah yang tidak ada dalam gambar peta dari bagian wilayah Indonesia.

Saat sudah tiba di Depok dan disarankan mas Singgih untuk menghubungi para Senior mantan MSF dan saya lakukan itu. Di setiap titik perjumpaan informasi menjadi berkembang. Semua jalan rasanya menjadi terbuka sedikit demi sedikit. Dunia tidak sempit. Dari Mas Bagyo, kemudian mas Thomas, dan Mas Andre yang melantarkan ke Mas Nandi semua berjalan lancar. Wawancara yang mestinya serius hanya menjadi guyon seperti pertemuan Reuni yang menggembirakan. Karena ketahuan saya memakai cincin tunangan dan cincin itu ditanyakan dan saya jawab dengan jujur ternyata calon istri juga mendapat jalan untuk Bersama-sama berangkat ke Jakarta. Berjuang demi masa depan.
Meskipun calon ibu mertua berkeberatan ditinggalkan putrinya pergi jauh dari sisinya. Di tempat itu untuk sementara saya medapatkan julukan jago nggondhol babon. Mungkin juga isu buruk tentang kebebasan zaman modern yang sebenarnya tidak kami lakukan. Kami tetap menghargai dan menjaga nilai-nilai kesusilaan.

Saya bangga dengan kesombongan. Merasa mendapat pekerjaan dengan mudah, gaji lebih baik dan fasilitas sehingga akan dapat mengejar ketiggalan dari teman-teman. Saya hanya melihat materi yang akan saya dapatkan saja dalam pekerjaan baru. Saat saya Kembali untuk mengajak calon isteri pergi ke Jakarta, saya juga yang menerima surat yang saya kirimkan dari Jakarta kepada tunangan yang saya kirim sebelum saya mendapatkan tawaran pekerjaan untuknya. Ternyata juga surat panggilan dari Bimas Katolik yang sudah lama saya tunggu, datang juga dari Yogya. Dari Bimas Katolik panggilan untuk melakukan Litsus dikirim ke Alamat di Yogya. Orangtua di Yogya karena belum mengetahui bahwa saya sudah berada di Jakarta mencari pekerjaan baru, mengirimkannya ke Randublatung. Ibu Mertua yang menerima di Randublatung memberitahu bahwa panggilan untuk bekerja di Bimas Katolik sudah datang meminta agar panggilan itu yang dilaksanakan. Saya menyatakan menolak. Karena membayangkan teman yang sudah bekerja di Bimas Katolik lebih dahulu gajinya malah lebih kecil daripada hornor yang saya terima di Yayasan. Selama setahun akan menerima gaji hanya 80% saja. Di Jakarta kebutuhan hidup akan menjadi lebih besar. Sehingga terjadi silang pendapat antara saya dengan calon ibu mertua. Karena kemarahan dan pahamnya, ibu Mertua membuat pernyataan : “Apa yang kamu peroleh dengan mudah – akan hilang dengan mudah” – katanya dengan membandingkan sikapnya sendiri “ Jika aku lebih baik mengabdi kepada negara – daripada mengabdi kepada (Perusahaan milik Cina), – memang kepemilikan kelompok Melawai seperti yang ibu sebutkan secara rasis itu. Tetapi saya tidak peduli. Saya akan sukses dan bangga kelak. Ternyata kenyataan tidak seperti yang saya bayangkan dengan kesombongan materi itu. Saya akan dipermalukan.

Sepanjang perjalanan calon istri menangis karena rasa tertekan harus meninggalkan ibundanya untuk mencari jalan hidup yang lebih baik Bersama saya. Satu pihak dia meyakini hal itu. Di lain pihak dia merasa sebagai anak yang durhaka karena meninggalkan ibundanya untuk pergi Bersama dengan tunangannya. Di Tengah kegalauannya itu dia memberikan pertimbangan bagaimana jika kata-kata dari ibu dipertimbangkan kendati sebentar. Dengan mencoba mencari petunjuk kepada saudara yang sudah bekerja di Bimas Katolik apa pendapatnya tentang panggilan itu. Saya meredakan pendapat saya. Sesampai di Jakarta kami menghadap pada orang yang kami hormati itu – seorang pejabat eselon 3 yang sudah lama bekerja di Bimas Katolik. Beliau berpendapat bahwa gaji dan fasilitas yang kami dapatkan sangat memadai. PNS tidak akan memperoleh penghasilan yang seperti itu. Tetapi beliau menyarankan. Cobalah dahulu mengikuti Litsus itu. Karena proses SK sebagai PNS akan memerlukan waktu 3-6 bulan kemudian sesudah Litsus. Menjadi cadangan yang akan berguna di kemudian hari. Lembaga swasta itu beda ritme bekerjanya. Belum tentu cocok dengan pribadi saya. Bisa krasan – bisa tidak. Belum pernah mengalami hal itu. Kalau panggilan Litsus tidak diikuti – selamanya tidak akan pernah lagi dipanggil untuk menjadi PNS. Saran yang baik itu saya ikuti.

Ternyata benar juga yang dikatakannya. Bayangan pekerjaan terhormat dengan gaji besar itu ternyata keliru. Kepada saya disediakan pekerjaan di restoran mewah. Memang secara diam-diam tidak dikatakan. Karena dengan Pendidikan S-1 akan disiapkan untuk menjadi kepala cabang. Yang harus tahu berbagai sisi pekerjaan dari yang kasar sampai yang agak bergensi menjadi waiters. Saya menikmati saja situasi ini. Meskipun teman seperjuangan di Mess yang pada umumnya hanya lulusan SMA cukup geram dengan pekerjaan kasar yang saya terima. Bahkan menurut pendapatnya pemerintah tidak fair dengan rakyatnya yang lulusan S-1 hanya bekerja sebagai tenaga kasar di restoran. Seminggu dipekerjakan di dapur kemudian diperintahkan untuk bekerja di depan melayani tamu tamu yang datang dengan mengenakan baju putih lengan Panjang – celana hitam dan dasi kupu-kupu. Teman di bagian depan pun merasa iri. Takut tersaing penampilannya sebagai waiters. Saya dan mereka tidak mengetahui bahwa saya secara diam-diam disiapkan sebagai kepala Cabang. Jam kerja yang saya ikuti berlaku dari pukul 08.00 di dapur membantu berbagai persiapan dan siang puku 11.00 mengenakan pakaian waiters melayani di bagian depan Jam istirahat sekitar pukul 15.00 sampai pukul 17.00 kemudian pukul 17.00 melayani lagi sampai pukul 23.00. Lewat pukul 23.00 jika ada cuctomers yang masih ngobrol di mejanya – teman teman waiter yang tidak tinggal di Mess pergi ke dapur membanting tutup panci atau apapun yang dapat menimbulkan bunyi berisik agar tetamu itu sadar bahwa kami butuh istirahat juga.

Sesudah itu saya kadang malam-malam saya harus pergi untuk meredakan stress berat yang dialami tunangan di mess Jl. KS. Tubun – mencarikan obat yang diperlukan karena sakit, menenangkannya dari kegalauan karena pikirannya terus ke ibudanya dan perasaan berdosa sebagai anak yang durhaka. Masih ada bus kota pada pukul 11.00 itu untuk menempuh perjalanan dari Pakubuono Kebayoran Baru ke Tanah Abang. Mess Perempuan dan laki-laki di sini kondisinya lebih bagus daripada di Restoran. Berada dalam satu kompleks. Dengan ruang tamu yang sama. Kadang mas Nandi sebagai orang yang dituakan di Mess KS Tubun meyarankan agar saya tidak Kembali ke Depok atau ke Kebayoran Baru. Suatu saat saya ikut numpang tidur di Mess KS Tubun itu bersama mas Nandi dan teman-teman karyawan laki-laki yang bekerja di KS Tubun dan menapatkan mess di sana. Dari sini malapetaka muncul saya diisukan bahwa melakukan hal yang tidak benar. Sehingga di hari ke 20 diinformasikan kepada saya bahwa masa percobaan untuk saya diputus sepihak tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan apakah tuduhan yang dinyatakan itu benar atau tidak. Saya langsung menyadari bahwa apa yang dinyatakan calon ibu mertua memang bertuah. Menjadi kenyataan pada saat itu. Bagi saya itu bukan suatu yang harus disesali. Saya tidak melakukan apa yang salah. Saya masih punya cadangan lain. Saya bersyukur saya mau mendengarkan bisikan tunangan untuk mencari nasehat pada saudara dan melaksanakan apa yang dinasehatkan untuk mengikuti Litsus. Hidup saya tidak berakhir – rahmat-Nya saya yakini akan terus mengalir. Meskipun keadaan tidak mudah. Tunangan dipertahankan sampai masa percobaan 3 bulan berakhir – tetapi selanjutnya tidak diperpanjang. Dengan gagah saya mempertahankan harga diri. Kami tidak akan pulang kembali ke rumah dalam kegagalan. Calon istri dengan tabungan yang kami miliki dapat mencari tempat kost sambil mencari tempat kerja yang baru. Saat kami berkunjung di rumah Saudara yang bekerja di Bimas Katolik yang memberikan saran yang baik dulu itu – sekeluarga menerima kami dengan senang hati dan meminta agar tunangan tinggal di rumahnya sementara mencari pekerjaan baru.

Tunangan mendapat pekerjaan kontrak selama 6 bulan di Gramacom dia bekerja dengan mas Thomas dan mas Krisna Rendra. Berikutnya di Megawarna dengan mas Andre Wisnu di Jl. TB Simatupang Pasar Minggu Jakarta Selatan. Perusahaan ini sudah ganti pemilik dan ganti nama sampai 3 kali. Dia masih bertahan hingga saat ini dan menjadi orang yang menguasai di bidang akunting dan laporan keuangan di kantornya yang sekarang namanya menjadi Indonesia Otto Center di bawah kendali ACA.

Saya Kembali ke rumah singgah di Depok dengan mas Singgih, mas Teguh dan mas Triyatno. Mas Thomas sudah tinggal di rumah yang lain karena sudah berkeluarga. Sementara menunggu SK dari Bimas Katolik terbit, saya mendapatkan pekerjaan baru lewat alm. Pak Hadi Subroto, beliau punya sahabat yang menjadi pemilik Penerbit Galaxy Puspa Mega di Jl. Kalimalang Jakarta Timur. Akhirnya saya bekerja sebagai Editor di Penerbit ini selama kurang lebih 3 bulan. Sampai kemudian panggilan kerja dari Bimas Katolik datang dalam bentuk SK di bulan Juli 1995.

Jakarta, 21 Oktober 2025

Ansgarius Hari 45 Wijaya

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *