Memasuki Pintu Sempit dan Bertobat Terus-menerus

Memasuki Pintu Sempit dan Bertobat Terus-menerus

Renungan Harian

Rabu, 29 Oktober 2025

Oleh Susy Haryawan

Bacaan Injil Lukas 13:22-30

Saudara Terkasih, sabda Tuhan hari ini, mengajak kita untuk berjuang dengan diwarnai sikap pertobatan. Berjuang semata tanpa adanya pertobatan itu sia-sia, sama juga orang berlari di tempat. Berjuang keras untuk bisa masuk pintu sempit sebagai analogi memasuki Kerajaan Allah. Bertobat terus menerus untuk menyelaraskan hidup yang berkenan di hadapan Allah.

Para murid dan pendengar Yesus bertanya mengenai berapa jumlah yang akan masuk dalam Kerajaan Allah. Tuhan menjawab bukan asal sehingga orang bisa salah tafsir. Jika dikatakan semua orang akan berada dalam rumah Bapa-Ku bersama Aku, dapat dipastikan orang yang mendengar dan hingga kini akan hidup seenaknya, semaunya sendiri, dan tidak mau peduli akan hidup baik. Sudah digaransi akan masuk dalam Kerajaan Surga.

Saat dulu mengajar, ada murid yang luar biasa kurangnya, intelektual, perilaku, dan sikapnya. Pernah datang ke sekolah terlambat, rambut dicat merah terang, celananya bolong-bolong. Padahal nilainya bukan saja pas-pasan, malah di bawah standar. Namun ia tahu bahwa kebijakan negara membuat ia pasti naik kelas. Dia tidak memperbaiki diri, sikap atau nilainya, malah makin parah, di kelas banyak tidurnya. Bila ditegur ia dengan enteng akan menjawab, “Kan pasti naik dan lulus”.

Saudara Terkasih, hal seperti itu, jaminan yang tidak disikapi dengan dewasa dan bijaksana menjadi pertimbangan Tuhan dalam menjawab. Para jemaat, murid, dan pendengar Yesus pun sama dengan murid yang saya hadapi tersebut. Dikatakan juga masih banyak yang berkutat pada hal-hal yang tidak esensial, seperti makan dan minum bersama. Tuhan mau mengatakan hal ini berkaitan dengan ritual semata.

Tuhan menghendaki kita memiliki kedalaman dalam menghayati ibadah dan perutusan kita, tidak sekadar melakukan ritual dan kemudian memperoleh kebahagiaan sejati dalam Kerajaan Surga. Usaha terus-menerus  sebagai respon atau tanggapan atas anugerah Allah yang mengundang semua orang.

Undangan itu harus memperoleh sambutan yang sepadan. Sama dengan uluran tangan untuk bersalaman, bisa dibiarkan, namun ada pula yang menyambutnya dengan suka cita dan penuh perjuangan. Allah yang menawarkan keselamatan harus memperoleh jawaban, sambutan, dan kesiapsediaan dari kita sebagai umat-Nya.

Saudara terkasih, kasih Allah itu diberikan kepada semua orang tanpa kecuali. Pembedanya adalah sikap kita. Bagaimana tanggapan atas kasih itu bekerja? Apakah kita menjawab dengan seenaknya sendiri, atau membawa dan membagikan kasih yang sama kepada saudara dan saudari kita?

Allah telah dan  selalu mengasihi kita, bagaimana kita mampu menyalurkan Rahmat kasih karunia Allah itu kepada sesama dan alam ini.  Jangan sampai selalu aktif dalam kegiatan ini dan itu di gereja, lingkungan,masyarakat, namun abai menjaga perasaan anak-anak dan merusak lingkungan tanpa merasa bersalah. Di sinilah jawaban Tuhan, “Siapakah kamu, Aku tidak mengenalmu!”

Doa: Allah Bapa Kami, Syukur atas kasih karunia-Mu yang selalu hadir untukku. Alam ciptaan yang kaya raya dengan segala kebaikannya. Ajarlah kami tetap dan selalu bersyukur atas itu semua. Mengelola bumi dan isinya dengan bijaksana, selalu mengupayakan yang terbaik untuk diri, sesama, dan lingkungan, serta Engkau.

Bimbinglah kami untuk tetap setia di dalam hidup kami yang sering tidak mudah. Mengolah alam dengan bijaksana, dan menjaganya tetap lestari untuk kelangsungan bumi yang akan juga menjadi rumah bagi anak cucu kami.

Sadarkan kami, sekiranya kami hendak berlaku tamak, merusak bumi, atau menyakiti sesama kami. Berilah hati yang lembut sehingga mampu mengenal Engkau dan kehendak-Mu dalam hidup kami. Amin

Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *