UANG SATU MINA KAMI MENJADI SEPULUH MINA

UANG SATU MINA KAMI MENJADI SEPULUH MINA

Oleh: Thomas Suhardjono

Renungan Harian

Rabu, 19 November 2025

Saudara yang terkasih dalam Kristus,

Pada hari Rabu Pekan Biasa XXXIII ini Gereja Katolik merenungkan Injil Lukas 19:11-28, yang berisi perumpamaan Yesus tentang seorang bangsawan yang pergi ke negeri jauh untuk dinobatkan menjadi raja. Sebelum berangkat, ia memberikan 10 mina kepada sepuluh hamba untuk dikelola. Masing-masing satu mina. Setelah kembali, ia menghakimi hamba-hamba tersebut. Hamba pertama dan kedua yang menghasilkan keuntungan diberi imbalan, sementara hamba ketiga yang takut dan tidak menggunakan mina itu dihukum. Hamba-hamba yang lain tidak diceritakan. Akhirnya ia memerintahkan mina-mina yang tidak digunakan itu diambil, dan diserahkan kepada hamba-hamba yang berhasil menggandakan mina-mina mereka. “Setiap orang yang mempunyai, ia akan diberi; tetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil, juga apa yang ada padanya” (Luk 19:26).

Fokus cerita: ada hamba yang menggandakan mina menjadi keuntungan, dan ada hamba yang tidak memanfaatkan mina sehingga tidak ada keuntungan apa-apa. Yang pertama dipuji, yang kedua dihukum. Maka pesan yang bisa diambil dari bacaan ini antara lain:

  • Perumpamaan ini adalah mengingatkan kita agar bersyukur atas karunia Tuhan setiap hari, kemudian memanfaatkan dan mengembangkan setiap talenta, bakat, kemampuan, ketrampilan dan kepercayaan yang diberikan Tuhan, baik besar maupun kecil. Mereka yang bisa menulis, bersyukur atas bakat dan ketrampilan itu, membuat buku catatan harian, renungan mingguan, bahkan mencetak buku yang bermanfaat untuk banyak orang. Mereka yang bisa menyanyi, setiap saat bisa menghibur orang lain dengan suaranya yang indah, menjadi pemazmur di gereja, atau menciptakan lagu-lagu yang mengajak banyak orang bersukacita. Mereka yang pakar di bidang kedokteran, setiap saat bisa membantu orang lain menjaga kesehatannya tanpa menuntut bayaran dari pasien, apalagi yang tidak mampu. Mereka yang berprofesi sebagai ahli hukum, bisa membela kaum lemah dan tak berdaya, tanpa minta imbalan apapun, untuk berhadapan dengan para penguasa yang sewenang-wenang. Karena imbalan yang sejati pasti akan diberikan oleh Tuhan sendiri, yang telah memberikan talenta khusus kepadanya.
  • Perumpamaan ini mengingatkan kita, bahwa kesetiaan kepada Tuhan akan dihargai dan diberkati dengan kebahagiaan, sedangkan ketidaksetiaan kepada Tuhan akan mendatangkan hukuman, penderitaan dan kesia-siaan. Beberapa pasangan suami isteri yang merayakan ulang tahun perkawinan emas mereka mensharingkan pengalaman jatuh bangun dalam menjaga keutuhan keluarga mereka. Hampir saja mereka berpisah, keluarga pecah, kalau mereka tidak ingat akan Tuhan. Kesetiaan mereka pada suara hati, suara Tuhan sendiri, membuat mereka bertahan selama 50 tahun. Mereka dianugerahi anak-anak, cucu-cucu dan buyut yang membahagiakan. Saat itulah mereka pasrah, mereka siap seandainya Tuhan memanggil ke rumahNya. Begitu pula sebaliknya, beberapa artis hanya bertahan beberapa tahun menikah, kemudian bercerai dan menikah lagi. Mungkin mereka banyak tersenyum bila disorot kamera wartawan. Namun kita tidak tahu isi hati mereka, apakah sudah bahagia? Bagaimana anak, cucu bahkan buyut mereka?

Marilah berdoa,

Allah yang penuh kasih,

Engkau telah memberikan anugerah kepada kami setiap hari, dan hari demi hari Engkau tingkatkan anugerahMu berlipat ganda. Kuatkankanlah kesetiaan kami kepadaMu, agar kami senantiasa ingat dan bersyukur atas segala karunia yang kami terima.

Allah yang mahatahu,

Sadarkanlah kami yang sering tidak mau mendengarkan suara hati, sehingga kami sering tidak setia kepadaMu, tidak lagi ingat akan kebutuhan sesama. Semoga setiap hari kami bisa menggandakan uang satu mina kami, menjadi sepuluh mina, menggandakan kepedulian kami kepada sesama, agar kami semakin setia kepadaMu.

Dengan pengantaraan Yesus Kristus, PuteraMu, yang berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.

Thom Hardjono

Pemerhati pendidikan, keluarga, hidup rohani, humaniora dan hidup bermasyarakat. 100% Katolik 100% Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *