MENEMUKAN YANG HILANG

MENEMUKAN YANG HILANG

Oleh: Thomas Suhardjono

Renungan Harian, Selasa, 09 Desember 2025:

18:12 “Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 18:13 Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. 18:14 Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak anak ini hilang.” (Mat 18:12-14).

Perumpamaan ini mudah dipahami di zaman teknologi ini, karena sering terjadi. Contohnya: di WA grup yang beranggotakan 100-an orang; tiba-tiba ada diskusi yang menimbulkan perdebatan. Salah seorang yang emosional akhirnya “left”, padahal tidak ada yang terang-terangan mengusirnya, memang ada yang menyindir-nyindir juga. Maka sang Admin dengan pelan-pelan akan kirim japri dan berusaha mendekatinya secara personal, agar mau bergabung lagi. Kalau dia akhirnya bergabung kembali, sang Admin akan merasa bahagia luarbiasa: yang lain ditinggalkan, demi menemukan yang hilang dari kelompoknya.

Setiap orang memiliki problematika hidup masing-masing. Yang satu belum selesai, muncul problem yang lain. Yang kedua belum tersentuh, muncul problem ketiga, dan seterusnya. Apabila semuanya dipikirkan dalam waktu yang sama, pusinglah kepalanya. Untunglah manusia dikaruniai logika berpikir seperti yang dituliskan dalam perikop Injil hari ini, yakni tentukan prioritas untuk memecahkan permasalahan yang utama. Seolah-olah yang lain ditinggalkan, padahal tetaplah dipikirkan, meski tidak sekarang. First Things First: Dahulukan yang utama.

Bulan lalu saya diminta seorang pemuda menjadi wali baptisnya. Sejak kecil dia dibesarkan oleh ibunya yang muslim. Namun selama bergaul dengan teman-teman di sekolah dan lingkungannya, dia tertarik masuk Katolik. Sesudah bekerja, diam-diam dia menjadi katekumen di beberapa paroki, karena dia sering pindah lokasi pekerjaan. Terakhir dia tinggal di lingkungan paroki saya, dan sudah menyelesaikan katekumenat terakhir. Saya bertanya, mengapa memilih Katolik? Dia yakin bahwa di Katolik ada Yesus yang adalah manusia 100% dan Tuhan 100%. Dia telah membuktikan dalam perjalanan hidupnya. Kalau berdoa kepada Yesus, dia tidak saja berkomunikasi dengan manusia, tetapi berdoa langsung kepada Tuhan yang mahakuasa. Ibu dan saudara-saudaranya biarlah muslim, dia harus Katolik. Dia menemukan yang selama ini dicarinya.

Marilah berdoa,

Yesus yang penuh kasih,

Engkau telah menjadi manusia, senasib dan sependeritaan dengan kami, bahkan Engkau rela menderita, sengsara, wafat dan dimakamkan, demi menyelamatkan kami. Kuatkanlah kami, agar mampu melaksanakan tugas kami sehari-hari, menanggung beban kami sendiri.

Yesus yang mahakuasa,

Engkau memiliki bala tentara surgawi, yang menguasai kehidupan dan keselamatan kami. Utuslah para malaikatMu untuk melindungi kami, membentengi hidup kami, agar bebas dari ancaman dan godaan; dan menyadarkan kami akan tujuan yang benar dari kehidupan kami di dunia ini. Amin.

Thom Hardjono

Pemerhati pendidikan, keluarga, hidup rohani, humaniora dan hidup bermasyarakat. 100% Katolik 100% Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *