Luka yang Dipersembahkan, Menjadi Permata dalam Perjalanan Hidup

Luka yang Dipersembahkan, Menjadi Permata dalam Perjalanan Hidup

Refleksi Bersama atas Kenangan terhadap Rm. Albertus Magnus Tan Thian Sing, MSF

Oleh Alfred Jogo Ena

Ada yang mengatakan, “tiada gading yang tak retak.” Dan memang benar: dalam diri setiap manusia, sebaik apa pun ia, selalu ada sisi yang rapuh, keputusan yang menyakitkan, dan jejak yang tak selalu menyenangkan bagi semua orang. Namun, bila cahaya kebaikan seseorang begitu terang hingga menguasai kenangan banyak orang, maka retak-retak itu tak lagi mendominasi narasi hidupnya, melainkan justru menjadi tekstur yang memperkaya keaslian sang tokoh.

Judul tulisan di atas merupakan komentar Mas Andi Iwan seusai membaca tulisan dari Kang Mas Tono Tirto yang sudah saya (Alfred) dan Mas Susi poles ulang agar menjadi nyaman dibaca dan mudah menemukan mutiara di balik setiap pesan yang hendak disampaikan penulis.

Adalah Rm. Albertus Magnus Tan Thian Sing, MSF (yang menjadi subjek utama kami untuk ditulis-kenang kembali) seorang imam yang bagi banyak orang adalah surya kecil yang memancarkan kehangatan senyum, kerendahan hati, dan kehadiran tanpa syarat. Bagi sebagian besar anggota Paguyuban Brayat Minulya Nusantara (PBMN), beliau bukan hanya magister atau provinsial, tetapi sahabat rohani yang menemani dalam suka dan duka, seseorang yang “hadir tanpa tekanan, membimbing tanpa kekerasan.” Ia hadir dengan senyum sumringah, ia bisa menyela sambil tertawa ngakak dan memberi masukan dengan kata yang terasa telanjang menusuk ulu hati, namun harus diakui itu benar adanya sesuai dengan kita yang sedang ia hadapi.

Tentu, bukan semua kenangan bersamanya berwarna cerah. Ada yang menyimpan luka atau kenangan pahit yang mengendap bertahun-tahun, seperti batu di dasar sungai: tak tampak permukaan, namun terasa berat ketika diangkat dari dasar sungai. Dan jujur, itulah yang membuat kita semakin manusiawi: kita tak bisa memilih hanya mengingat kebaikan, tanpa menyertakan pergumulan yang pernah menyakitkan.

Namun, dalam obrolan hangat di WAG kami pagi ini (sebuah ruang kecil penuh kerendahan hati dan kepedulian) terungkap sesuatu yang jauh lebih indah dari sekadar debat tentang “benar-salah”: Kami belajar saling memahami. Kami saling mengingatkan dengan kasih. Kami berani membuka luka, namun bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk menyembuhkan.

Salah seorang sedulur berbagi pengalaman pribadi yang jujur, tanpa pretensi. Ia menulis bukan untuk menyerang, tetapi untuk melepaskan beban, sebuah proses pribadi yang suci. Dan dalam kebersamaan kami, muncul kebijaksanaan dari sesama: “Bila masuk ke ranah publik, mari berimbang. Mari sampaikan juga sisi baiknya. Karena tulisan eulogi adalah persembahan kasih, bukan catatan dendam.”

Maka muncullah tangan-tangan yang bekerja diam-diam. Saya berusaha menyunting dengan hati-hati, bukan menghapus kejujuran, tapi melapisi luka dengan kata-kata yang bisa diterima banyak hati. Bro Susy menyeimbangkan nada, tanpa kehilangan jiwa asli sang penulis. Dan Romo Anton Tjokro, senior nun jauh di pedalaman Agats, tapi begitu dekat dalam hati kami mengingatkan dengan lembut: “Mari hindari kata-kata yang bersifat rasial. Lebih elok bila kita bicara dari hati ke hati, bukan dari prasangka ke prasangka.” Yang kemudian ditanggapi oleh Pak Guru Este (St) Kartono dengan mata berkaca-kaca usai membaca pesan yang menyentuh hati dari Romo. Ya, diksi kita yang tidak pada tempatnya bisa melukai hati mereka yang membacanya (apalagi menyangkut SARA).

Dan saudara-saudaraku, di sinilah keajaiban brayat itu nyata: Kami tak sepakat dalam segala hal, namun tetap satu dalam kasih.  Kami beda dalam pengalaman, namun utuh dalam tujuan: menghormati seorang hamba Tuhan yang telah pulang.

Lalu Mas Andi Iwan yang tinggal kota Premium, Labuan Bajo  di ujung barat Pulau Flores  menulis: “Luka yang dipersembahkan, menjadi permata dalam perjalanan hidup.”

Saya, mungkin para saudara yang lain juga percaya bahwa Romo Sing tersenyum dari surga saat mendengar itu. Karena ia tahu bahwa keputusan tegasnya dulu, meskipun menyakitkan, justru menjadi pemicu semangat bagi seseorang untuk bangkit, membuktikan diri, dan akhirnya mengabdi dengan sepenuh hati, dalam keluarga, gereja, masyarakat. Bahwa senyumnya yang selalu terbuka, tawanya yang tulus, dan doanya yang sederhana ternyata meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam daripada kata-kata yang pernah terucap dalam wawancara sulit di kamar novisiat dulu.

Semua yang sudah lewati kata demi kata di atas sebenarnya diawali oleh KangMas Hari Padmo yang menulis dengan hati yang teduh mengomentari link websiter paguyuban yang dishare Mas Tono Tirto sebagai pemilik tulisan.

“Sebagai manusia pasti ada kekurangannya. Tetapi lebih banyak orang yang memiliki kesan positif terhadap alm. Rm. Tan Thian Sing, dan itu juga tidak dapat dihilangkan begitu saja oleh kesan negatif yang dialaminya. Itu wajar saja. Di hati saya tidak akan hilang segala kebaikannya, dan contoh teladan hidupnya yang sederhana, religius, dan rendah hati.”

Kemudian ditambahkan oleh Mas Nursih Martadi dengan kebijaksanaan yang lahir dari usia dan perenungan yang mendalam bahwa,

“Setuju, Mas Hari. Pepatah mengatakan: tiada gading yang tak retak… Sebaik-baik orang pasti ada sisi gelap, sisi salah, namanya juga masih manusia. Sharing Kang TT itu baik, baik sekali, sebagai konsumsi pribadi, sebagai ungkapan ‘uneg-uneg’ yang sudah mengendap berabad-abad. Namun, ketika dipublish menjadi konsumsi publik, semestinya diperhalus dan juga dishare hal-hal baik dari Romo Sing. Beliau orang baik, yang tak lepas dari dosa dan salah. Itu pertama. Kedua, kita semestinya belajar berdamai dengan diri sendiri dan orang lain, menjadikannya momentum pengampunan. Bila kita terbelenggu dalam benci dan dendam, bahaya sekali. Bila kita tidak bisa berdamai dengan diri sendiri, kita juga akan sulit berdamai dengan orang lain. Kita dapat mencintai orang lain, bila kita juga mencintai diri sendiri. Dalam usia yang makin senja ini, mari kita belajar tumbuh menjadi dewasa: dewasa dalam kepribadian dan dewasa dalam beriman.”

Inilah warisan sejati dari seorang pembimbing rohani seperti Romo Sing yang diteruskan para mantan siswanya dulu: bukan kesempurnaan yang mustahil, tetapi keberanian untuk tetap menjadi manusia utuh, yang berani mengakui salah, yang tetap rendah hati di puncak tanggung jawab, dan yang memancarkan kebaikan begitu konsisten hingga jauh melebihi kesalahannya dalam kenangan orang-orang terkasih.

Kita semua para putra-putri Pater Berthier di jalan yang berbeda memiliki aneka pengalaman suka juga luka yang berbeda. Namun hari ini mengajari kita untuk kami belajar sesuatu yang penting bahwa “Pengampunan bukanlah penghapusan sejarah, melainkan pemilihan untuk tidak membiarkan masa lalu menahan masa depan.” Eulogi terbaik bagi seorang guru rohani bukanlah pujian tanpa cela, melainkan kesaksian jujur yang telah diolah oleh rahmat dan kedewasaan iman.

Dan seperti ditegaskan oleh Ketua Paguyuban kami, KangMas Thomas yang mengajak “marilah kita lanjutkan persembahan ini bukan hanya dalam bentuk e-book untuk 40 hari, bukan hanya dalam doa bersama di depan altar, melainkan dalam sikap hidup sehari-hari menjadi orang yang hadir dengan senyum, bertindak dengan keadilan, dan mengampuni dengan kerendahan hati.”

Sebab di balik setiap luka yang dipersembahkan dalam kasih, tersimpan benih kebangkitan, baik bagi yang pergi, maupun bagi yang ditinggalkan.

Requiescat in pace, Rm. Sing.
Dan terima kasih, karena bahkan dalam ketegasanmu, kami belajar arti kejujuran rohani.

Ditulis dengan doa, oleh sesama yang sedang belajar berdamai dengan masa lalu, dengan sesama, dan dengan diri sendiri.

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *