Ketika Tangga Menjadi Guru Kehidupan
Pulang dari Gereja seusai menjadi moderator untuk seminar bertajuk: “Mempertanggungjawabkan
Kebenaran Iman Kristiani Berhadapan dengan Agama-agama Lain” saya membuka WAG Ikafite dan
menemukan pesan memprihatinkan dari Om Bli (demikian biasa saya sebut) Paul. Saya mencatat
beberapa point di laptop untuk dituliskan menjadi artikel ini. Seusai makan malam saya menuliskannya
demikian:
Pagi tadi, langkah pertama Paul S di anak tangga rumahnya bukanlah awal dari hari yang direncanakan.
Dalam sekejap, tubuhnya terjatuh, nyeri menusuk, dan rencana yang tersusun rapi seperti ikut misa
pagi, dilanjutkan dengan mengantar komuni untuk orang sakit menjadi hancur berantakan. Namun, di
balik luka yang menganga dan bengkak di kaki kanannya, tersembunyi pelajaran ini: hidup tak pernah
benar-benar berada dalam genggaman manusia.
Mari kita belajar lebih lanjut dari pesan di WAG dari Paul tersebut:
Minggu Pagi yang Berubah dalam Sekejap
Pukul 07.00, Paul bangun dengan semangat. Ia bahkan sempat menyisihkan waktu untuk memberi
makan burung peliharaannya, ritual kecil yang selalu menenangkan jiwanya. Tapi ketika kakinya
menapaki tangga, lantai licin mengkhianati kewaspadaannya. Tubuhnya tergelincir, tangan tak mampu
menahan derasnya gravitasi, dan benturan di kaki kanan membuatnya mengerang. Anaknya yang
mendengar teriakannya segera menolong, membawanya ke UGD.
“Kewaspadaan itu penting, tapi kita tak bisa mengendalikan setiap detil alam. Hidup ini seperti anak
tangga, kadang permukaannya licin, dan kita harus siap jatuh.” Demikian pesan pertama yang bisa
dipetik.
Tulang Utuh, Tapi Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai
Di rumah sakit, hasil rontgen membawa kabar lega: tulangnya tidak retak. Namun, sebagai penyandang
diabetes, Paul tahu luka kulit yang lebar di kakinya bukan perkara sepele. Lecet kecil saja butuh waktu
berminggu untuk kering. Kini, ia harus berdamai dengan proses penyembuhan yang lambat, risiko
infeksi, dan keterbatasan bergerak.
Seakan sedang mengeluh, Paul hendak menegaskan bahwa, “Kesehatan bukan hanya tentang tubuh
yang kuat, tapi juga kesadaran merawatnya setiap hari. Diabetes mengajariku: jangan remehkan luka
kecil, karena di dalamnya bisa tersimpan badai.”
Efek Domino: Satu Jatuh, Seribu Rencana Terguncang
Insiden kecil ini mengubah banyak hal. Paul terpaksa membatalkan tugas sebagai pro-diakon dan
pengiriman komuni. Ibadat Tobat yang akan dipandunya Senin pagi harus diambil alih rekan lain. Ia
menyadari: hidup tak hidup dalam ruang hampa. Satu kejadian tak terduga bisa mengubah rencana
puluhan orang, mengingatkannya pada keterhubungan semua hal.
Dari situ kita membaca pesan yang mendalam dari Paul untuk, “Jangan pernah meremehkan kekuatan
satu langkah, ia bisa mengubah hari seseorang, bahkan hidup banyak orang. Karena itu, rencanakan
dengan hati-hati, tapi jangan lupa: Tuhan punya skenario yang lebih luas.”
Biarkan Terjadi, Tapi Jangan Berhenti Berjuang
Paul tak menyangkal ada rasa kecewa yang mendalam. Ia ingin tetap melayani, mengajar, dan menjadi
berkat. Namun di balik setiap peristiwa selalu ada hikmah dan pesan kehidupan yang bisa dipetik atau
dipelajari lebih lanjut. Lebih tegasnya bahwa dalam ketidakberdayaan, ia menemukan kekuatan baru:
menerima batasan diri sambil tetap percaya pada proses penyembuhan. Ia mulai menulis renungan
harian, berdoa bersama keluarga, dan merawat luka dengan disiplin.
Paul merumuskannya dengan indah demikian, “Pasrah bukan berarti berhenti berusaha. Biarkan Tuhan
memegang kendali, tapi tetap rawat tubuhmu, pikiranmu, dan jiwamu. Di situlah iman sejati diuji.”
Penutup: Di Titik Jatuh, Kita Belajar Terbang
Mungkin saat tulisan ini saya buat, Paul sedang duduk di teras rumah sembari mendapatkan perawatan
dari orang-orang terkasih, atau malah sedang menggagas sebuah ide untuk menulis buku baru. Kakinya
mungkin masih perih, tapi hatinya tenang. Ia tahu, hidup ini seperti sayap burung, kadang terhempas
angin, tapi selalu punya cara untuk kembali menari di langit. Karena di sana, di sampingnya ada cinta
yang hidup, yang tak akan membiarkan lukanya berlama-lama mengering dan sembuh.
Hidup memang tak terprediksi. Tapi seperti Paul, kita bisa belajar: di setiap jatuh, ada panggilan untuk
bangkit dengan hati yang lebih lembut, lebih rendah hati, dan lebih percaya pada-Nya. Biarkan terjadi,
karena di sanalah kita menemukan makna sejati kehidupan.
Alfred B. Jogo Ena


Terima kasih untuk tulisan yang sangat menarik dibaca hingga selesai.
Tulisan yang mampu menggugah semangat untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan hari ini meski Tuhan sendiri juga punya rencana masing-masing umatnya yang setia.
Tks 🙏👍👍💪
Terima kasih KangMas. Semoga terinspirasi untuk melanjutkan hidup, termasuk ketika menemukan pengalaman yang senada
Terima Kasih atas tulisannya 🙏
OmBro, terima kasih – renungan realistik yang sungguh membekas – semoga Mas Paul Bi segera pulih seperti sediakala.
Terima kasih OmGuru. Berusaha memaknai setiap peristiwa dalam hidup kita agar kita lebih kuat jika menghadapi yang sama dalam tempat dan waktu yang berbeda