“NGGIH, ORA KEPANGGIH”

“NGGIH, ORA KEPANGGIH”

Penulis : FA Adihendro

Renungan Harian Selasa, 16 Desember 2025

Bacaan:

  • Zef 3:1-2.9-13
  • Mzm 34: 2-3.6-7.17-18.19-23
  • Mat 21: 28-32

Ayah itu berkata kepada anak sulungnya, “Pergilah bekerja di kebun anggur hari ini !” Anak itu menjawab, “Baik, Bapa”. Tetapi ia tidak pergi (Mat 22:29)

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus.

Dalam masyarakat Jawa Tengah, khususnya dari Surakarta dan Yogyakarta, ada satu ungkapan unik Nggah-nggih, ning ora kepanggih!”, mengatakan ‘ya’ tetapi ada kemungkinan tidak melaksanakan apa yang disanggupinya. Misalnya, seorang bapak berpesan kepada anaknya, “Nak, besok minggu datang lagi ke sini ya!”, Meskipun anaknya menjawab “nggih!” belum tentu minggu berikutnya sungguh datang. Dan bapaknya sudah mahfum. Hanya orang Jawa yang bisa memahami dan menangkap kesungguhan jawaban “nggih”nya orang Jawa.

Agak berbeda dengan kisah dalam Injil hari ini. Yesus berbicara kepada Imam-imam kepala dan pemuka-pemuka bangsa Yahudi, dalam konteks mau memberi pelajaran tentang sikap yang benar dalam menanggapi Sabda Tuhan. Dikisahkan ada orang yang mempunyai dua anak. Kepada anak yang sulung diminta bekerja di kebun anggur. Anak itu menjawab “nggih”, sanggup, tetapi ternyata tidak melaksanakan. Kemudian orang itu menyuruh anaknya yang kedua dengan permintaanyang sama, dan anak kedua itu menolak, tidak mau, namun kemudian menyesal, akhirnya pergi juga melaksanakan perintah ayahnya. Sangat mudah ditebak, siapa sesungguhnya dari kedua anak itu yang melaksanakan kehendak ayahnya.

Saudara-saudara terkasih dalam Yesus Kristus,

Dalam menanggapi Sabda Tuhan sebenarnya ada empat (quadran) sikap. Pertama, menolak Sabda Tuhan dan  tetapi melaksanakan Sabda Tuhan (atheis). Kedua, menerima sabda Tuhan, melaksanakannya. Ketiga, menolak Sabda Tuhan, dan menolak untuk melaksanakan. Dan keempat, menerima Sabda Tuhan dan namun tidak melaksanakan.

Tentu saja, sebagai orang beriman, kita pasti memilih sikap ‘menerima Sabda Tuhan dan melaksanakan’ dalam hidup sehari-hari, dengan segala keterbatasan dan kelemahan hidup kita. Semoga.

Doa Penguat: Bapa yang Maha murah, utuslah Roh Kudus-Mu memberi penghiburan dan kekuatan kepada kami, agar kami selalu mampu melaksanakan kehendak-Mu. Jauhkanlah kami dari segala kesombongan diri, yang hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri. Ubahlah hati kami yang keras, menjadi lembut, agar bisa menerima Sabda Putera-Mu, yang menyelamatkan kami. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

FA Adihendro

FA Adihendro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *