Kebenaran Versus Kepentingan

Kebenaran Versus Kepentingan

Penulis : Susy Haryawan

Saudara Terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Tuhan Yesus mengajak kita untuk melakukan introspeksi mendalam: Apakah hidup kita hari-hari ini didominasi oleh semangat kebenaran, ataukah sekadar upaya mengamankan kepentingan diri?

Perikop Injil yang kita dengarkan dari Matius 21:23-27 memberikan gambaran nyata betapa sulitnya pilihan ini, bahkan bagi para pemimpin agama.

Ketika Kepentingan Mengalahkan Kebenaran

Ketika Yesus menantang balik para imam kepala dan tetua umat tentang otoritas Baptisan Yohanes, mereka terjebak. Mereka tahu, jika mereka berkata “dari surga,” mereka harus tunduk pada Yohanes dan Yesus; jika mereka berkata “dari manusia,” mereka takut akan umat.

Mencari aman adalah pilihan mereka. Jawaban mereka: “Kami tidak tahu.”

Kebenaran disembunyikan karena para pemimpin itu takut kehilangan reputasi, jabatan, dan kedudukan mereka. Mereka lebih memilih berpura-pura bodoh demi mempertahankan kepentingan.

Kebenaran yang Terdistorsi di Sekitar Kita

Saudara terkasih, bukankah pola yang sama begitu vulgar kita saksikan hari-hari ini? Kita disuguhi aneka informasi yang terdistorsi, di mana batas antara kebenaran dan upaya mempertahankan kursi, jabatan, atau kekuasaan menjadi kabur.

Contohnya sederhana:

  • Klaim Palsu: Ada yang buru-buru mengumumkan “listrik sudah menyala,” padahal kenyataan di lapangan masih gelap. Mereka tahu faktanya, namun demi mengamankan kedudukan, mereka rela menipu.
  • Mengaku Miskin demi Keuntungan: sekadar memperoleh BLT atau bansos, banyak yang tidak malu mengaku miskin, meskipun itu bukan hak mereka. Saat diungkap, mereka berkelit dan menyalahkan pihak lain. Mereka bersikukuh, karena mendapatkan uang dengan mudah lebih penting daripada kejujuran.

Ini menunjukkan bahwa ketika kita mengikuti kepentingan, nurani mudah dikesampingkan.

Panggilan Menuju Jalan Sunyi Kebenaran

Kebenaran mutlak membutuhkan hati nurani yang murni dan keberanian untuk hidup di dalam Tuhan. Sebaliknya, ketika kita mengikuti kepentingan, mencari aman, atau mengejar jaminan kedudukan, kita berjalan makin menjauh dari Tuhan.

Kita dipanggil untuk berani menyuarakan kebenaran.

  • Risiko Kebenaran: Risikonya adalah tidak populer, memiliki banyak musuh, atau mengalami stagnasi karir karena berbeda dari lingkungan yang ada.
  • Jalan Sunyi: Kebenaran seringkali adalah jalan sunyi, jalan yang sempit, yang tidak banyak orang memilihnya. Lebih enak dan ramai jalan yang lebar.

Pertanyaannya bagi kita: Beranikah kita tidak populer, disalahmengerti, dan menempuh jalan sunyi karena memegang teguh kebenaran?

Kedamaian yang Datang dari Allah

Memang, memilih kebenaran tidak mudah. Namun, Allah yang telah memanggil kita, pasti akan memberikan kekuatan dan kemampuan untuk menjalaninya.

Jalan Tuhan, meskipun sepi, memberikan kedamaian hati dan ketenteraman. Belum tentu jalan yang ramai dan banyak temannya itu membuat hati kita tenteram.

Jika kita merasa damai, tenteram, dan nyaman dalam pilihan kita, yakinilah itu adalah jalan Tuhan.

Para pemimpin umat zaman Yesus fokus pada menyelamatkan diri, kedudukan, dan nama diri, bukan pada iman yang mendalam yang mengarah pada pengenalan akan kehendak Tuhan.

Marilah kita semakin beriman, agar kita semakin mengenal Allah secara mendalam, dan memilih Kebenaran-Nya di atas setiap kepentingan pribadi kita.

Doa: Tuhan Allah kami, ajarilah kami bertekun untuk mengenal-Mu dengan lebih lagi dari waktu ke waktu. Sering ketika cemas, takut, dalam tekanan kami memilih menjawab, kami tidak tahu, namun kami ingat bahwa firman-Mu menguatkan kami.

Kami tidak berjalan sendirian, ada Roh-Mu yang memampukan dan menjadikan kami kuat menjalankan perutusan kami. Biarlah kami berjalan dalam jalan sunyi, asal kami bersama dengan Engkau sendiri.

Hadir-Mu dan penyertaan-Mu selalu membuat hati kami damai, tenteram, penuh kasih, dan nyaman, meskipun kadang kami sendirian. Jalan sunyi itu menjadi semarak karena kasih-Mu yang menjalar dalam hati kami. Berkatilah Langkah kami sehingga penuh dengan kebenaran dan mampu menanggung apapun asal kami di dalam naungan belas kasih-Mu semata. Amin.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *