Cerpen:  GOLEKAN GALIH NANGKA

Cerpen:  GOLEKAN GALIH NANGKA

        Sewaktu bersih-bersih kamar Eyang Putri yang setahun lebih tidak ditempati sejak beliau meninggal, aku menemukan boneka kayu kusam tersimpan di lemari lawasnya. Orang menyebutnya golekan, boneka kayu kira-kira 40 senti panjangnya  dengan pahatan seadanya.  Catnya sudah luntur sehingga tampak warna asli kayunya-galih nangka warna kuning dan coklat. Kuambil, ternyata lumayan berat pertanda kayunya sangat tua, lalu kutimang. Oh… di dekatnya juga tersimpan selendang batik lawas terlipat rapi, maka kugendong golekan itu seperti seorang ibu yang sedang menimang bayinya. Astaga ! Seberat bayi sungguhan dan rasanya benar-benar seperti menggendong bayi.  Kuayun-ayun dalam dekapan dengan hangatnya balutan selendang, pikirku pun melayang  lima tahun perkawinanku dengan Mas Don belum dikaruniai momongan. Tak terasa   menitik air mataku.  Aku dan Mas Don sudah pasrah setelah berbagai upaya baik secara medis maupun supranatural kami tempuh, bahkan dua kali program bayi tabung pun gagal dan menghabiskan biaya ratusan juta. “Anak bukan tujuan utama perkawinan”, kata Mas Don menyejukkan. Aku memang mengagumi Mas Don karena orangnya bijak dan berwawasan luas tidak seperti pada umumnya pria yang kukenal.

”Perkawinan itu yang penting kita saling mengasihi, bertumbuh bersama dan menemukan kebahagiaan bersama”, sambungnya.  Kupeluk suamiku sambil menahan air mata haru dan bahagia.

       Sesampai di rumah, kusimpan golekan itu di kamar dan hampir setiap hari kugendong dan kutimang-timang dengan selendang batik lawas itu. Lama-lama perasaanku menyatu dengan seonggok kayu nangka itu. Begitu pulang kerja langsung kuambil dan kutimang begitu juga sebelum berangkat kerja. Aku mulai mengajak bercakap-cakap seperti seorang ibu berkomunikasi dengan bayinya.  Suatu kali Mas Don memergoki aku sedang menimang golekan sambil ngomong sendiri. Sambil menaruh jari miring di jidatnya, Mas Don cekikikan meledekku, “ Pengin seperti artis dengan spirit doll ya? “.  Aku hanya nyengir tak peduli lalu menaruh golekan itu di bantal dengan hati-hati.  “Mama pergi dulu ya Sayang, nanti sore kita ketemu lagi.  Jangan nangis!”, sapaku kepada boneka kayu itu.  Ada perasaan keibuan yang semakin kuat tumbuh dalam sanubariku.  Sesuatu yang berbeda karena sejak kecil aku tumbuh sebagai gadis tomboi, sejak kecil mainanku mobil-mobilan, robot dan alat-alat perang.  Aku tidak suka boneka dan alat-alat memasak sebagaimana umumnya anak perempuan seusiaku. Hobiku panjat tebing bahkan motocross .Waktu pacaran dulu aku sampaikan terus terang ke Mas Don kalau aku tidak bisa dan tidak suka kerja di dapur tetapi lebih suka aktif di luar rumah. Tapi jawabnya santai, “Aku tidak sedang nyari koki atau pembantu tetapi orang yang bisa diajak saling menyayangi saling melengkapi untuk hidup bersama sampai akhir hayat”.  Oh…Mas Don memang karya terindah Tuhan untuk aku! 

         Hampir enam bulan aku keranjingan golekan seperti sindiran Mas Don, seperti para artis yang sedang kecanduan spirit doll yang harganya selangit itu. Pagi itu rasanya males sekali aku bangun. Kutilpon kantor kalau aku nggak masuk karena lagi meriang. Mas Don berangkat kerja sendiri, sambil mengecup keningku sambil pamitan ia berucap, “Nanti aku pesankan makan lewat ojol, kamu nggak usah ke mana-mana. Kasihan si kecil hihihi..”, sambil melirik ke golekan di sebelahku.  Aneh, perutku mulai mual bahkan pingin muntah.  Ini terjadi hampir tiga hari berturutan.  Yang lebih mengherankan, ada perasaan sebel dan tidak suka terhadap Mas Don. Nafsu makan pun turun drastis.  Makanan-makanan kesukaanku yang dipesankan Mas Don tidak kusentuh.  Aku sengaja bikin agar ia kecewa tetapi ternyata tetap saja ia tidak marah.  Sikapnya ini yang  membuatkan tambah jengkel dan sewot!

       Dengan sedikit memaksa Mas Don berhasil mengajakku ke dokter langganan.  Setelah periksa tensi dan suhu lalu tanya ini itu, Dokter Ririn pun meminta, “Kita tes saja ya?” Aku bertanya, “Tes apa Dok?”. Tetapi dokter cantik ini hanya tersenyum sambil bercanda, “Ada deh !.  Oh My God ! Itu kan alat tes Sensitive yang dulu aku pakai berpuluh-puluh kali sampai akhirnya bosan sendiri. Dokter memberiku botol kecil untuk menampung urine dan menyuruhku ke kamar kecil.  Otakku seperti beku, menurut saja perintahnya.

    Beberapa menit kemudian.  Dokter Ririn seakan berteriak sambil memelukku, “Sayang profeciat ya. Hasilnya positif !”, lalu menjabat tangan Mas Don yang juga tetap melonggo karena masih belum sadar apa yang sedang terjadi. “Aku beri rujukan untuk tes lab biar lebih akurat”, kata dokter.

    Dalam perjalanan pulang kami tidak bercakap sepatah kata pun, lalu mampir ke rumah Ibu dan kuceritakan semuanya. Sambil terisak Ibu memelukku dan terasa aliran air mata hangat  kebahagiaannya meleleh. “Nduk, aku memang hampir lupa cerita kalau Utimu punya boneka kayu namanya Golekan Galih Nangka. Dahulu sering dipinjam orang untuk “memancing” pasangan yang merindukan momongan. Golekan itu sampai-sampai bergilir ke mana-mana hingga Uti sendiri kehilangan jejak keberadaannya. Hilang!  Rupanya Golekan itu akhirnya pulang sendiri karena panggilan cucu Uti yang tercinta”.  Ada haru dan bahagia di antara kami bertiga !

Tanah Lot, Januari 2026

Paul Subiyanto

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *