Radikalitas Menjawab Panggilan Tuhan
Oleh Susy Haryawan
Renungan Harian, Senin, 12 Januari 2026
Saudara-saudari yang terkasih
Hari ini, Bunda Gereja mengajak kita untuk merenungkan rahasia di balik panggilan murid-murid pertama. Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah tentang para nelayan di tepi Danau Galilea, melainkan sebuah cermin bagi ziarah iman kita sendiri. Ada tiga aspek krusial yang perlu kita dalami: inisiatif Allah, ketaatan tanpa syarat, dan keberanian meninggalkan “jala”.
1. Allah Sebagai Pemegang Inisiatif
Hal pertama yang harus kita sadari adalah bahwa Allah selalu menjadi pribadi yang melangkah lebih dulu. Yesus berkeliling, melihat, dan memilih. Seringkali kita merasa bahwa kitalah yang mencari Tuhan atau memilih jalan hidup tertentu karena kehebatan kita. Namun, dalam kehidupan membiara, imamat, maupun hidup berkeluarga, kuncinya tetap satu: Allah yang memanggil.
Tanpa kesadaran ini, kita mudah menghakimi mereka yang gagal di tengah jalan. Sering kali umat menuding bahwa seseorang keluar dari seminari atau biara karena godaan lawan jenis atau materi. Padahal, dinamika panggilan jauh lebih dalam dari itu. Jika bukan kehendak Allah, upaya manusiawi sehebat apa pun tidak akan bertahan. Prinsip ini pun berlaku dalam pekerjaan, rezeki, dan jodoh. Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa jika Tuhan tidak memberi “restu”, maka segala ambisi kita akan sia-sia. Panggilan adalah hak prerogatif Allah.
2. Tanggapan yang Bergegas dan Optimis
Poin kedua yang menarik adalah tanggapan para murid. Mereka mengikuti Yesus tanpa bertanya-tanya, tanpa meminta rincian kontrak, dan tanpa jaminan masa depan. Dalam konsep pemuridan Yahudi kala itu, seorang murid harus hidup bersama sang guru. Namun, perlu diingat bahwa saat itu Yesus belum tenar. Ia bukan rabi besar dengan jaminan stabilitas.
Meski demikian, para murid menjawab dengan kesiapsediaan penuh. Ada nuansa optimisme dan kepercayaan total kepada Yang Memanggil. Mereka tidak berkata, “Tunggu sebentar, saya selesaikan urusan rumah dulu.” Mereka langsung bergerak. Kecepatan mereka menjawab adalah tanda bahwa suara Tuhan memiliki otoritas yang melampaui segala logika manusiawi. Apakah kita masih memiliki semangat “bergegas” yang sama saat Tuhan mengetuk pintu hati kita?
3. Meninggalkan Jala: Melepas Andalan Duniawi
Ketiga, tindakan meninggalkan jala. Bagi seorang nelayan, jala bukan sekadar alat; jala adalah sumber ekonomi, jaminan keamanan, dan satu-satunya keahlian yang mereka miliki. Meninggalkan jala berarti meninggalkan zona nyaman dan segala hal yang paling mereka andalkan dalam hidup.
Dalam keseharian kita, “jala” bisa mewakili banyak hal: jabatan yang kita banggakan, hobi yang menyita waktu Tuhan, atau luka batin yang terus kita genggam sehingga menghambat langkah kita. Sering kali saat Tuhan memanggil kita untuk melayani atau mengampuni, kita memberikan seribu alasan karena jala-jala ini masih memberati langkah kita. Kita takut kehilangan pegangan duniawi kita, padahal Tuhan hendak menggantikannya dengan sesuatu yang jauh lebih besar.
Saudara terkasih, Tuhan memanggil kita hari ini bukan karena kita mampu, melainkan karena Ia ingin menyertai kita. Para murid berani meninggalkan jala karena mereka menyadari bahwa bersama Sang Sumber Hidup, mereka tidak lagi membutuhkan sandaran yang rapuh.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: “Jala” apa yang saat ini masih memberati langkahku untuk mengikuti Yesus dengan sungguh-sungguh? Beranikah kita percaya sepenuhnya bahwa Tuhan sanggup mencukupkan segala yang kita butuhkan saat kita berkata “Ya” pada panggilan-Nya? Semoga kita diberi rahmat untuk menjawab panggilan Tuhan dengan hati yang lapang dan tangan yang terlepas dari keterikatan duniawi
DOA: Allah Bapa kami, Syukur bahwa kami hidup dalam naungan belas kasih-Mu yang tiada tara. Setiap saat kami dalam lindungan-Mu yang hangat, kami percaya, tidak akan kekurangan apapun, sepanjang kami ikut kehendak-Mu. Ajarlah kami percaya, bahwa Engkaulah sumber dari segala sesuatu.
Dalam jalan-Mu kami akan aman, Sejahtera, dan penuh damai, serta sukacita. Jangan biarkan kami menyimpang dari rancangan-Mu dan memilih rencana kami sendiri. Amin.

