#10 – Ada “Chika” yang Akan Lewat

#10 – Ada “Chika” yang Akan Lewat

SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI

Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar baik adanya bagi sesama.

-0-

Dalam lima tahun mutakhir di media sosial saya berseliweran foto bersama “Chika” – anabul anjing kecil yang hadir di rumah. Berbagai pose lucu, entah di keranjang sepeda, ikut bepergian jauh, maupun cengkerama dengan Chika di sore hari. Namun, seorang sahabat yang telah mengenal lama sempat berseloroh, “Sejak kapan Tono suka anjing?”. Dalam satu perjumpaan di Wisma Kana – Salatiga, sahabat tadi menyebut sejak dulu saya tidak ada dekat-dekatnya dengan hewan piaraan. Memang benar, dalam sejarah panjang saya tidak mendekat hewan (entah mengapa), padahal di rumah pernah pelihara sapi, ayam, bebek, mentok, atau anjing. Pun, ikut main teman masa kecil tetangga yang melepas kerbaunya di sawah. Seolah itu semua berjarak dengan keseharian saya, bahkan berlanjut ketika hidup terpisah dari keluarga.

Nah, tibalah di satu “terminal” penting lima tahun lalu, dua anak gadis kami yang sudah hidup terpencar menawari ibunya seekor anabul kecil sebagai hadiah ulang tahun. Ibunya langsung menukas, “Yang jadi masalah itu bapakmu, dia tidak suka ada hewan di rumah. Omonglah dulu ke bapakmu.” Anak-anak tahu ibunya penyayang hewan piaraan, hanya saja sejak membuka usaha membuat makanan ia mesti menahan diri untuk bersih dari hewan di rumah. Kini, setelah tidak lagi melayani usaha itu, anak-anak ingin mengirimi hewan kesayangan sebagai pengisi kesibukannya di rumah. Namun, ia mesti berhitung dengan suaminya. Benar saja, mendengar tawaran anak-anak kepada ibunya, respon pertama saya adalah menolak.

Beberapa waktu mesti adu alasan dan garansi kebersihan, serta pemeliharaannya, akhirnya saya pun mengiyakan hadiah ultah dari anak-anak untuk ibunya. Bersama anak-anak kami berusaha semua hal bisa dibicarakan, tak ada istilah “pokoknya” sebagai penentu keputusan. Saya punya kesempatan untuk menimbang, tanpa perlu merasa kalah 3 banding 1 jika ada voting. Tibalah anabul kecil di rumah, sorot matanya mengundang iba – sepanjang lima tahun ini, Chika  acap belum mau masuk kandang kalau saya belum pulang.  Sorot mata yang penuh iba itu pula (seolah paham) ketika saya di luar pulau atau lain kota disampaikan “Bapak masih besok pulangnya…” barulah perlahan mau masuk kandang – besok menunggu lagi begitu. Satu kalimat perubahan saya penuh kepasrahan menerima anabul ini, “Yang disukai dan dicintai istri saya, saya pun berusaha menerimanya”. ***

St. Kartono

St. Kartono

St. Kartono – Kolumnis pendidikan mengkorankan lebih dari 650 artikel, pembicara di lebih dari 750 forum, dosen, penulis 15 buku diantaranya Sekolah Bukan Pasar (Buku KOMPAS, 2009), Menjadi Guru untuk Muridku (Kanisius, 2011), Menjadi Guru Berjiwa Merdeka (Aseni, 2024).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *