Mandhap Pundi, Bunda?

Mandhap Pundi, Bunda?

“Mandhap pundi, Bunda?” Sebuah sapaan tak terduga di angkot. Kisah Susy, menerima diri apa adanya.

Pagi itu, rutinitas berangkat mengajar membawa saya ke dalam sebuah angkutan umum yang cukup padat. Sebagai penumpang yang terbiasa dengan ritme jalanan, saya tidak keberatan berdiri hampir separuh perjalanan. Hingga akhirnya, sebuah ruang kosong tercipta. Saya duduk bersisian dengan seorang ibu yang tampak sangat ramah, tipe penumpang yang senang menghidupkan suasana dengan obrolan ringan.

Tak lama setelah saya mendarat di kursi itu, beliau menoleh. Dengan skeramahan yang tulus tanpa dosa, ia bertanya, “Mandhap pundi, Bunda?” (Turun di mana, Bunda?).

“Duar!” Rasanya seperti ada kembang api kecil yang meledak di telinga saya.

Penampilan vs. Persepsi

Secara visual, saya merasa cukup “maskulin” hari itu. Saya mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku, celana jeans tangguh, masker hitam yang menutupi separuh wajah, dan rambut yang dikuncir rapi dengan polesan pomade yang klimis. Sama sekali jauh dari kesan ibu-ibu.

Memang, jika rambut saya terurai dan memakai bando, mungkin ada celah untuk salah sangka. Namun dengan tampilan klimis begini? Ternyata label “Bunda” tetap mendarat dengan telak.

Ketika saya menjawab singkat, “Palang,” suara saya yang berat—meski bukan kategori bass, tapi jelas jauh dari nada sopran—langsung membuatnya tersentak.

“Oalah, kakung (laki-laki) ternyata! Maaf, lha ayu je (habisnya cantik),” ralatnya dengan wajah sungkan sekaligus geli. Saya hanya tersenyum di balik masker. Dalam hati saya membatin, “Coba kalau dia tahu nama saya Susy, pasti bingungnya makin komplet!”

Damai dengan “Susy”

Momen seperti ini bukan sekali dua kali terjadi. Jika peristiwa ini terjadi di tahun 2003, saya pastikan wajah saya akan langsung mendung. Amarah dan rasa tersinggung pasti akan meledak karena merasa identitas saya dipertanyakan. Namun kini, di tahun 2026, perasaan saya benar-benar netral. Tidak ada kejengkelan, apalagi luka hati.

Saya telah sampai pada titik di mana saya menerima ini sebagai anugerah. Kedamaian diri itu benar-benar nyata. Nama “Susy” yang melekat pada raga seorang laki-laki, wajah yang sering dikira perempuan, hingga rambut ubanan yang terkadang tampak anggun dari belakang, semuanya adalah bagian dari paket lengkap yang Tuhan berikan.

Di dunia maya, ceritanya lebih berwarna lagi. Di platform seperti Kompasiana atau media sosial lainnya, sapaan “Ibu” atau “Mbak” adalah makanan sehari-hari. Pernah suatu kali, seorang rekan berkomentar bahwa gaya menulis saya mirip “mak-mak yang sedang ngeblegi (memukul) kasur saat dijemur”—begitu cerewet dan detail.

Bahkan, ada yang melihat foto profil saya dan berkomentar lucu, “Mentang-mentang suaminya cakep, fotonya dipasang sebagai gambar akun.” Mereka mengira foto saya adalah foto suami saya. Saya hanya tertawa tanpa merasa perlu memberikan klarifikasi berbusa-busa.

Melampaui Sebuah Nama

Mengapa saya tidak lagi repot membetulkan panggilan orang lain? Jawabannya sederhana: Esensi komunikasi tidak berkurang hanya karena salah sebutan.

Mau dipanggil Mas, Pak, Om, atau bahkan Bunda sekalipun, itu tidak mengubah siapa saya. Saat ini, saya bahkan sudah resmi menyandang status “Opa” dari anak-anak keponakan saya. Sapaan hanyalah label luar. Saya tetaplah pribadi yang sama, terlepas dari apakah orang melihat saya sebagai sosok yang “ayu” atau “gagah”.

Penerimaan diri adalah kunci dari kemerdekaan batin. Ketika kita sudah selesai dengan diri sendiri, maka dunia luar tidak lagi memiliki kekuatan untuk melukai kita. Mau dipanggil Pak Uban, Si Boleng, atau disangka guru PAUD (mungkin itu alasan beliau memanggil “Bunda”), saya terima dengan lapang dada.

Kejadian di angkot tadi adalah bukti nyata bahwa saya sudah berdamai dengan rancangan Allah. Hidup ini sudah cukup rumit, tak perlu lagi ditambah dengan beban menjaga ego atas sebuah panggilan. Selama kehadiran saya tidak merugikan siapapun, saya akan tetap melangkah dengan rambut klimis, nama Susy, dan senyum yang lepas.

Ternyata, menjadi “Bunda” selama lima menit di angkot tidaklah buruk juga. Setidaknya, saya tahu bahwa di mata orang lain, saya punya sisi “ayu” yang layak untuk disapa dengan ramah.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

4 thoughts on “Mandhap Pundi, Bunda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *