Memfitnah Tuhan Belajar dari Ponpes Buduran

Memfitnah Tuhan Belajar dari Ponpes Buduran


Karl Marx: Agama adalah Candu


Beberapa waktu lalu polisi mengaku menyita buku mengenai Karl Marx dari tempat tinggal pelaku demo rusuh. Judulnya menggunakan nama Karl Marx yang sudah diasumsikan sebagai hal-hal yang berbau anarkhis, mungkin. Padahal salah satu pernyataannya yang paling terkenal, AGAMA adalah CANDU sedang tepat dan pas banget dengan hidup bersama sebagai sebuah bangsa.


Kisah pilu terjadi di Buduran Sidoarjo, salah satu pondok pesantren di sana roboh. Bangunan empat lantai itu roboh, menewaskan 60 lebih santri yang sedang menuntut ilmu di sana. Penanggung jawab pesantren menanggapi pertanyaan mengenai kasus ini mengatakan, ini takdir Allah, semua harus sabar.


Memfitnah Allah dan Agama adalah Candu
Agama adalah candu ala Karl Marx bukan bermaksud memusuhi agama, namun bahwa agama membuat orang tidak memiliki daya juang. Seolah kecanduan sehingga tidak mau bergerak untuk memperbaiki diri. Semuanya diartikan dan dialihkan nanti usai kehidupan di dunia ini semua akan lebih baik. Di dunia ini mengejar yang di akhirat. Nah tepat bukan apa yang terjadi hari-hari ini?


Konstruksi yang gagal itu bisa dilihat dengan kasat mata. Lain, jika sudah dengan ahli bangunan yang kompeten, bahan yang baik, spesifikasi alat dan material yang sesuai, kemudian ada gempa atau gunung meletus, itu takdir, atau kehendak Ilahi. Tidak bisa apa-apa lagi, karena semua perencanaan pasti gagal. Mau bahan seperti apapun tetap bisa roboh.


Dengan tidak mengurangi rasa duka dan hormat pada para korban dan keluarga, bangunan ini sekilas terlihat dari gambar dan video yang beredar, jauh dari memadai sebagai sebuah bangunan berlantai empat. Tiang-tiang terlihat terlalu kecil, pengerjaan dengan melibatkan anak-anak. Meminjam bahasa Menteri PU, dari santri untuk santri, bagaimana mereka ikut terlibat dalam proyek sebesar itu. Mengecor itu tidak sekadar menuang adukan semen, pasir, dan batu.


Padahal jelas-jelas bisa diupayakan untuk lebih baik, aman, dan pastinya selamat. Perencanaan melibatkan ahlinya, membangun juga menggunakan tukang professional, misalnya melibatkan santri, ya dipilih yang sudah dewasa dan mampu sebagai asisten tukang. Konstruksi yang lebih kokoh, ini semua masih bisa dipilih sebenarnya, upaya lain masih ada, tidak tepat jika lari pada kehendak Allah semata.


Memfitnah Allah atas keteledoran sendiri, seolah telah menjadi gaya hidup dalam beragama sebagian pihak di negeri ini. Sering terjadi, sekadar teledor, gegabah, tidak hati-hati namun menuding Allah sebagai penanggung jawab. Ini sebenarnya kurang ajar. Seolah religius, padahal malah sama sekali tidak beriman, sikap bertanggung jawab itu bagian utuh pribadi beriman.


Salam JMJ

Susy Haryawan

2 thoughts on “Memfitnah Tuhan Belajar dari Ponpes Buduran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *