Kasih yang Menembus Tembok Gereja: Sisi Humanis Katedral Malang di Harlah Seabad NU
Katedral Malang tiadakan Misa demi Harlah NU. Bukti kasih & kemanusiaan melampaui sekat dogma!
Kasih yang Menembus Tembok Gereja: Sisi Humanis Katedral Malang di Harlah Seabad NU
Malang, kota dengan udara pegunungan yang menyejukkan, baru-baru ini menyuguhkan sebuah pemandangan yang menghangatkan jiwa. Di tengah keriuhan ribuan nahdliyin yang memadati kota untuk merayakan Hari Lahir (Harlah) Seabad Nahdlatul Ulama (NU), Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel melakukan sebuah gestur humanis yang menyentuh: mereka memilih untuk “sunyi” demi memberi ruang bagi “sukacita” saudaranya.
Langkah meniadakan jadwal Misa Sabtu sore dan Minggu pagi bukan sekadar keputusan administratif. Ini adalah pernyataan iman yang konkret bahwa di dalam kemanusiaan, tidak ada orang asing.
Kerelaan untuk Berkorban
Dalam tradisi Katolik, Misa Hari Minggu adalah puncak dari kehidupan rohani, sebuah perjumpaan yang dinanti umat untuk mendapatkan kekuatan batin. Namun, kali ini, Gereja Katedral memilih untuk mempraktikkan “Misa di luar altar”. Dengan meniadakan jadwal ibadah utama tersebut, Gereja sedang menunjukkan sisi humanis yang radikal: mengutamakan kenyamanan tamu (para jemaah NU) di atas kenyamanan ibadah sendiri.
Keputusan ini lahir dari empati mendalam. Pihak Gereja menyadari bahwa kedatangan ribuan orang akan membuat mobilitas kota melambat. Alih-alih bersikap eksklusif dengan tetap mempertahankan jadwal rutin, umat Katolik di Malang memilih untuk “memberi jalan”. Ini adalah bentuk pengorbanan yang tulus, sebuah manifestasi dari ajaran kasih yang tidak menuntut hak, melainkan mencari apa yang bisa diberikan bagi kebaikan bersama.
Gereja sebagai Rumah yang Terbuka
Humanisme Kristiani tidak berhenti pada peniadaan Misa. Di sudut-sudut lain, gereja-gereja Kristen Protestan juga membuka pintu mereka lebar-lebar. Tidak ada sekat dogma ketika seorang jemaah yang lelah butuh merebahkan diri, atau seorang ibu yang butuh fasilitas sanitasi.
Pintu gereja yang terbuka menjadi simbol pelukan kemanusiaan. Umat Kristiani di sana tidak melihat jubah atau sarung sebagai pembeda, melainkan melihat sesama manusia yang sedang menempuh perjalanan jauh. Menyediakan tempat istirahat, makanan, dan minuman bukan lagi soal urusan lintas iman, melainkan respon spontan dari hati yang tergerak oleh rasa persaudaraan. Di sini, kebahagiaan para nahdliyin dirasakan sebagai kebahagiaan mereka juga.
Menembus Kekakuan Dogma
Sering kali, di tingkat elit, kita terjebak dalam perdebatan aturan yang kering—seperti polemik masjid yang menjadi tempat istirahat Bhiksu beberapa waktu lalu. Namun, apa yang terjadi di Malang menunjukkan bahwa nurani manusia sering kali lebih cerdas daripada perdebatan teori.
Masyarakat di akar rumput bertindak atas dasar kebutuhan dasar manusia: rasa haus, rasa lelah, dan kebutuhan akan rasa aman. Bagi umat Kristiani di Malang, membantu kelancaran Harlah NU adalah perwujudan dari nilai “Samaria yang Murah Hati”—siapa pun yang membutuhkan adalah sesama kita. Fokus mereka adalah kemudahan dan perlindungan bagi martabat manusia, bukan mencari alasan untuk membatasi diri.
Harmoni Tanpa Dominasi
Langkah humanis ini juga meruntuhkan konsep “Menang-Kalah”. Gereja, sebagai bagian dari entitas masyarakat di Malang, tidak merasa “kalah” atau “terpinggirkan” karena harus mengalah pada acara besar kelompok lain. Sebaliknya, mereka merasa “menang” karena berhasil menjadi bagian dari harmoni tersebut.
Inilah wajah humanisme yang sejati: ketika kelompok yang satu merasa bertanggung jawab atas kenyamanan kelompok yang lain. Bukan karena dipaksa oleh hukum negara, tetapi karena dorongan cinta yang universal. Pancasila di sini bukan lagi sekadar slogan, melainkan napas yang membuat setiap orang merasa memiliki satu sama lain.
Iman adalah Kata Kerja
Apa yang dilakukan oleh Katedral Malang dan gereja-gereja sekitarnya memberikan pelajaran penting: bahwa iman yang paling tinggi adalah iman yang mampu memanusiakan sesama. Toleransi tidak butuh ruang diskusi yang rumit jika hati sudah terbuka untuk menerima kehadiran orang lain.
Melalui peristiwa ini, kita belajar bahwa keindahan Indonesia tidak terletak pada kesamaan keyakinan, melainkan pada kerelaan kita untuk saling menjaga rumah satu sama lain. Gereja telah menunjukkan bahwa kasih tidak memiliki batas tembok; ia mengalir ke jalan-jalan, ke kerumunan massa, dan menetap di hati setiap manusia yang merindukan kedamaian. Toleransi adalah aksi, dan aksi itu bernama kasih.
Salam JMJ
Susy Haryawan

