Menemukan “Nazaret” di Tengah Modernitas: Inspirasi Pater Berthier bagi Pasangan Pranikah
Bagi Anda, pasangan yang sedang menghitung hari menuju altar suci, masa persiapan perkawinan seringkali diisi dengan kesibukan teknis: kursus perkawinan, urusan administrasi paroki, hingga detail resepsi.
Namun, di tengah hiruk-pikuk tersebut, Gereja mengajak Anda untuk berhenti sejenak dan menengok sosok inspiratif yang spiritualitasnya sangat relevan bagi keluarga baru: Venerabilis Pater Jean Berthier, MS (1840–1908).
Mengapa pesan seorang imam misionaris dari abad ke-19 relevan bagi pasangan milenial dan Gen-Z yang hendak menikah? Jawabannya terletak pada warisan terbesarnya: Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF). Pater Berthier tidak hanya mendirikan sebuah tarekat religius; ia mewariskan sebuah “peta jalan” bagi keluarga untuk menjadi kudus di tengah dunia yang makin sekuler.
Berikut adalah tiga pesan aktual dari spiritualitas Pater Berthier bagi Anda yang hendak menerima Sakramen Perkawinan:

Menjadikan Keluarga sebagai “Sekolah Kehidupan” (Nazaret Masa Kini)
Pater Berthier memilih nama “Keluarga Kudus” bagi kongregasi yang didirikannya di Grave, Belanda, pada tahun 1895, dengan alasan yang mendalam: ia sadar bahwa di dalam Keluarga Kudus Nazaret (Yesus, Maria, dan Yusuf), segala kebajikan dihayati dalam bentuk yang paling sempurna.
Bagi pasangan pranikah, ini adalah undangan untuk menurunkan ekspektasi duniawi dan menaikkan standar rohani. Dunia sering menuntut keluarga baru untuk segera mapan secara materi, memiliki rumah mewah, atau gaya hidup hedonis. Namun, Pater Berthier mengajarkan bahwa keluarga harus meniru “kesederhanaan, kerendahan hati, kerajinan, dan semangat berdoa” dari Nazaret.
Jangan awali pernikahan Anda dengan beban hutang pesta yang berlebihan. Mulailah dengan semangat Nazaret: kerja keras, sederhana, namun kaya dalam relasi satu sama lain dan dengan Tuhan. Jadikan rumah tangga Anda tempat di mana Yesus “bertumbuh” melalui doa bersama.
Memberi Kesempatan pada “Panggilan yang Terlambat” (Sabar dalam Proses)
Salah satu intuisi profetik Pater Berthier adalah kepeduliannya pada “panggilan terlambat” (late vocations). Pada zamannya, banyak pemuda ditolak masuk seminari karena usia atau kemiskinan. Berthier justru membuka pintu bagi mereka, percaya bahwa tidak ada kata terlambat untuk menjawab panggilan Tuhan.
Dalam konteks perkawinan, ini mengajarkan kita tentang kesabaran akan proses. Dokumen Gereja Amoris Laetitia mengingatkan bahwa pasangan kita adalah “produk yang belum selesai” yang perlu bertumbuh. Anda tidak menikahi malaikat yang sempurna, melainkan manusia yang sedang berproses.
Dalam pernikahan nanti, Anda mungkin akan menemukan kekurangan pasangan yang baru terlihat setelah satu atap. Belajarlah dari Pater Berthier: jangan cepat menolak atau menyerah. Berilah kesempatan bagi pasangan Anda untuk bertumbuh. Pernikahan adalah “sekolah cinta” di mana kita saling membantu untuk menjadi versi terbaik diri kita di hadapan Tuhan.
Spiritualitas “Sedikit Bicara, Banyak Bekerja”
Pater Berthier dikenal sebagai penulis produktif yang menghasilkan puluhan buku spiritualitas, salah satunya yang terkenal adalah La Mère selon le coeur de Dieu (Ibu menurut Hati Allah). Namun, nasihatnya yang paling tajam bagi para pengikutnya adalah: “ Sedikit kata-kata, tetapi banyak tindakan.”
Di era media sosial di mana banyak orang berlomba memamerkan kemesraan (“relationship goals“) lewat kata-kata dan foto, nasihat Berthier menjadi kritik yang membangun. Cinta dalam perkawinan Katolik bukanlah tentang status romantis, melainkan tentang tindakan nyata: bangun malam mengganti popok anak, setia mendampingi saat sakit, dan bekerja keras demi nafkah keluarga.
Cinta sejati dibuktikan dalam actio (tindakan), bukan sekadar narasi. Seperti yang ditekankan dalam Familiaris Consortio, keluarga memiliki misi untuk “menjaga, menyatakan, dan menyampaikan kasih” secara nyata. Jadilah pasangan yang “miskin” dalam keluhan, tetapi “kaya” dalam pelayanan satu sama lain.
Penutup: Keluarga sebagai Jalan Kekudusan
Pater Berthier mengajarkan bahwa “kekudusan dimungkinkan dalam setiap jalan hidup” melalui kesetiaan pada tugas harian. Menikah bukanlah halangan untuk menjadi kudus; justru itu adalah jalan tol menuju kekudusan Anda.
Saat Anda melangkah menuju altar, ingatlah bahwa Anda tidak berjalan sendirian. Seperti Pater Berthier yang berlindung pada Bunda Maria La Salette (Bunda Perdamaian), mintalah agar pernikahan Anda selalu didamaikan kembali ketika ada konflik.
Selamat mempersiapkan diri menjadi Ecclesia Domestica (Gereja Rumah Tangga). Semoga semangat Pater Berthier menginspirasi Anda untuk membangun keluarga yang tangguh, sederhana, dan berpusat pada Kristus.
“Keluarga yang berdoa bersama, akan tetap bersama.”

