Keluarga sebagai Altar Pemecahan Roti

Keluarga sebagai Altar Pemecahan Roti

[Bacaan dari Kisah Para Rasul 2:14, 22-33 dan Injil Lukas 24:13-35]

Keluarga-keluarga Katolik yang terkasih, di tengah badai zaman yang kerap membawa kecemasan, kelelahan, dan kesepian, janganlah pernah kehilangan pengharapan. Keluarga kita bukanlah sekadar tempat singgah, melainkan sebuah “Nazaret Kecil”, tempat Allah sendiri diam-diam mengubahkan sejarah. Mari kita undang Kristus yang bangkit untuk berjalan bersama kita, duduk di meja makan kita, dan memecahkan roti kehidupan, sehingga dari rumah kita memancar api cinta kasih yang sanggup menerangi dunia.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Kisah Injil hari ini (Minggu Paskah III) membawa kita pada sebuah perjalanan batin yang sangat dekat dengan realitas kehidupan kita sehari-hari. Kita melihat dua orang murid, yang salah satunya bernama Kleopas, sedang meninggalkan Yerusalem dengan wajah muram dan hati yang hancur.

Banyak ahli menafsirkan bahwa teman seperjalanan Kleopas ini adalah istrinya sendiri, menjadikan mereka gambaran nyata dari sebuah keluarga Kristiani yang sedang bergumul. Mereka berjalan bersama-sama menjauhi sumber harapan mereka, tenggelam dalam desolasi, kekecewaan, dan duka.

Dalam kehidupan modern ini, keluarga kita pun seringkali berada di “jalan Emaus” ini. Di tengah himpitan masalah ekonomi, konflik rumah tangga, atau krisis iman, mata batin kita sering kali terhalang oleh ego dan keputusasaan, sehingga kita gagal melihat bahwa Yesus yang bangkit senantiasa berjalan di samping kita.

Namun, perhatikanlah bagaimana Yesus menyapa mereka. Ia tidak datang dengan penghakiman, melainkan membiarkan mereka bercakap-cakap dan bertukar pikiran, menjadi pendengar yang penuh empati atas segala luka batin mereka.

Dalam kacamata Venerabilis Jean-Baptiste Berthier, pendiri Tarekat Misionaris Keluarga Kudus (MSF), keluarga adalah tempat utama kasih Allah bertumbuh. Beliau mengingatkan kita: “Setiap keluarga Kristiani adalah Nazaret kecil: tempat Kristus tinggal, bekerja, dan menangis”.

Ketika Yesus mulai menerangkan Kitab Suci kepada kedua murid itu, hati mereka yang tadinya dingin dan putus asa berubah menjadi hati kita berkobar-kobar. Inilah yang didambakan oleh Pater Berthier bagi setiap keluarga.

Keluarga harus menjadi sekolah pertama kebajikan, tempat sabda Allah ditaburkan di tengah suka duka harian. Pater Berthier dengan indah mengingatkan bahwa “Keluarga bukanlah museum kesempurnaan, melainkan bengkel kerendahan hati”.

Ketika hari mulai malam, kedua murid itu mendesak Yesus, “Tinggallah bersama-sama dengan kami”. Ini adalah doa terindah yang harus diucapkan oleh setiap keluarga Katolik di tengah kegelapan dunia. Yesus pun masuk dan duduk makan bersama mereka.

Saudara-saudari, meja makan memiliki makna yang sangat sakral. Venerabilis JB Berthier memberikan penegasan yang luar biasa relevan dengan peristiwa Emaus ini: “Meja makan yang didoakan adalah altar kecil yang mengalahkan iblis”. Di meja makan inilah persekutuan keluarga dibangun, bukan hanya untuk berbagi makanan fisik, tetapi untuk berbagi kehidupan.

Puncak perjumpaan itu terjadi ketika Yesus memecah-mecahkan roti. Saat itulah mata mereka terbuka dan mereka mengenali-Nya. Tindakan memecah roti melambangkan kurban Kristus di salib, sebuah penyerahan diri yang total demi cinta.

Agar keluarga menjadi “Gereja Rumah Tangga” (Ecclesia Domestica) yang kokoh, setiap anggota keluarga (suami, istri, dan anak) harus bersedia memecahkan egonya masing-masing, rela berkorban, dan saling mengampuni. Tanpa semangat memecah roti ini, keluarga akan kehilangan kehangatannya.

Setelah mengenali Tuhan, kedua murid itu tidak tetap tinggal dalam kenyamanan di Emaus. Malam itu juga, mereka segera bangun dan kembali ke Yerusalem untuk menjadi saksi kebangkitan Kristus. Inilah misi hakiki setiap keluarga beriman.

Keluarga yang telah dihidupi oleh Sabda dan dipulihkan di meja makan Ekaristis tidak boleh menjadi komunitas yang tertutup. Pater Berthier dengan lantang menyerukan, “Keluarga Kristiani bukanlah pelita yang tersembunyi, ia adalah api yang menyala bagi dunia”.

Keluarga-keluarga yang terkasih, mari kita jadikan rumah kita sebagai “Nazaret kecil”. Jangan takut pada badai zaman. Jadikanlah meja makan Anda sebagai altar di mana Kristus selalu diundang hadir, tempat di mana pengampunan lebih kuat dari kebencian.

Berjalanlah senantiasa bersama Yesus, biarkan Sabda-Nya membakar hati Anda, dan jadilah saksi-saksi cinta kasih-Nya yang hidup di tengah masyarakat. Tuhan memberkati keluarga kita semua. Amin.

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *