Si Gondrong Kini Berpulang: Selamat Jalan, Bruder Pur

Si Gondrong Kini Berpulang: Selamat Jalan, Bruder Pur

Sejak kemarin petang hingga pagi ini, sunyi terasa berbeda bagi PBMN.

Bukan sekadar sepi yang biasa, melainkan sunyi yang berat, yang meninggalkan bekas di dada, yang membuat kita diam sejenak dan menyadari bahwa ada sosok yang tidak akan pernah bisa digantikan. Sang Waktu (yang kerap kau bicarakan dengan senyum setengah misterius itu)  akhirnya datang menjemputmu. Bukan sebagai musuh, melainkan sebagai kawan lama yang sudah lama dinantikan. Rasa sakit itu kini telah usai. Yang tersisa hanyalah damai: damai yang dalam, damai yang abadi.

FX Purnomo.

Nama itu kini kami ucapkan pelan-pelan, seolah takut terlalu keras akan membangunkanmu dari istirahatmu yang pertama kali benar-benar tenang. Sosok pria berambut putih gondrong, dengan rokok beraneka merek yang hampir selalu menemani jemarimu yang hangat itu. Bagi teman-teman sekelasmu, engkau adalah Bruder Pur, sahabat seperjalanan yang selalu tahu caranya menghangatkan ruangan hanya dengan kehadiranmu. Namun bagi kami semua, engkau adalah warna (warna yang tidak ada duanya) dalam indahnya Paseduluran Brayat Minulya Nusantara yang kita rajut bersama selama ini.

Kehadiranmu selalu punya cara sendiri untuk menetap di hati dan mengingatkan kami. Kehadiran yang berbeda. Kehadiran yang kadang kontras.

Ya. Bukan karena kata-katamu selalu mudah dipahami, justru sebaliknya. Engkau kerap melemparkan renungan-renungan yang dalam, yang jujur saja, kadang hanya jiwamu sendiri yang tahu betul kedalamannya. Namun, tidak apa-apa. Karena engkau tidak sedang menggurui siapa pun. Engkau sedang merawat rasa. Engkau sedang merayakan persaudaraan dengan caramu yang khas, cara yang melampaui kata-kata, melampaui logika, dan langsung singgah di hati tanpa permisi.

Dan kami selalu pulang dari setiap perjumpaan denganmu membawa sesuatu, meski kami tidak selalu tahu apa namanya. Antara yang ontologis dan filosofis tak pernah jelas, tetapi itu selalu mewarnai diksi-diksimu.

Ada satu gambaran tentangmu yang rasanya tidak akan pernah bisa kami lupakan.

Vespa tua yang setia menemani Bruder Pur. foto: Arytmono

Engkau dan Vespa tuamu.

Bukan Vespa yang mengilap dan baru. Melainkan Vespa tua kesayanganmu yang penuh cerita, penuh goresan waktu, penuh kenangan yang menempel di setiap lekuk bodinya. Engkau dan dia seperti dua sahabat lama yang sudah saling memahami tanpa banyak bicara. Ketika mesin tuanya menyala, seperti ada semangat yang ikut menyala bersamanya, semangat untuk melaju, untuk menjumpai, untuk hadir di mana persaudaraan sedang memanggil.

Tidak peduli jauh. Tidak peduli pada medan. Engkau selalu datang dengan rambut gondrong putih yang berkibar diterpa angin, dengan asap rokok yang ikut terbawa di udara, dan dengan senyum yang sudah siap merekah bahkan sebelum engkau turun dari jok. Vespa itu bukan sekadar kendaraan bagimu. Ia adalah cara hidupmu yang sederhana, setia, dan selalu siap menempuh jalan yang mungkin orang lain enggan lewati.

Kini Vespa tua itu terdiam. Mesinnya dingin. Joknya kosong. Namun entah mengapa, kami yakin ( di suatu tempat yang jauh lebih indah dari yang bisa kami bayangkan) engkau sedang melaju dengan gagahnya, tanpa hambatan, tanpa rasa sakit, tanpa batas.

“Hidup ini hanyalah mampir minum.”

Mungkin begitu caramu memandang dunia. Ringan, namun penuh. Sebentar, namun bermakna. Dan kini, cangkirmu telah kosong, engkau telah selesai mampir. Namun kebaikan yang kau tinggalkan, kenangan yang kau tanam, dan kehangatan yang pernah kau bagi kepada kami, semuanya tetap penuh, tetap tinggal, tetap hidup jauh di dalam hati kami.

Selamat jalan, Bruder Pur.

Rambut gondrong putihmu, kepulan asap rokokmu, dan deru Vespa tuamu kini menjadi kenangan yang tidak akan kami buang. Kami akan menyimpannya, di sudut ingatan yang paling tulus, di tempat di mana nama-nama orang baik kami jaga agar tidak terlupakan oleh waktu.

Terima kasih telah menemani. Terima kasih telah menjadi saudara yang tulus, yang hangat, yang selalu hadir dengan atau tanpa pemberitahuan, dengan atau tanpa undangan, karena bagimu persaudaraan tidak memerlukan formalitas.

Pelan-pelan saja, Bruder. Nikmati perjalananmu yang terakhir ini. Di sana pasti sudah ada yang menunggu dan kali ini, jalannya mulus tanpa lubang. Jangan lupakan, penuhi jok vespa dengan rokok ya.

Selamat jalan, Sahabat. Selamat beristirahat.

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

One thought on “Si Gondrong Kini Berpulang: Selamat Jalan, Bruder Pur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *