Sugeng Kondur, Mas Singgih

Sugeng Kondur, Mas Singgih

Tentang seorang sopir yang mengantar kami naik ke Sarangan, dan pulang lebih dulu ke rumah Bapa

Minggu pagi, 18 Oktober 2026, ia masih berfoto dengan sahabat-sahabatnya, setelah sehari sebelumnya bersama Mas Benny, sang sopir dari arah Solo ke Sarangan, membelokkan bus di tikungan Lawu dengan tenang dan bercanda hingga larut malam. Siangnya, di tengah misa penutupan temu darat Paseduluran Brayat Minulya Nusantara, kabar itu datang: Yakobus Salesius Wibowo Singgih, enam puluh dua tahun, suami dan ayah tiga anak yang beranjak remaja, telah pulang. Tak seorang pun dari kami siap, tetapi barangkali ia sendiri sudah siap sejak lama.

Saudari Maut di Tahun Santo Fransiskus

Di dalam kereta Batavia dari Solo menuju Jakarta, Andre Sumariyatmo mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Pikirannya tertuju pada Santo Fransiskus dari Asisi, yang pada tahun Yubileum ini kembali dikenang. Fransiskus mengajarkan sesuatu yang aneh dan sulit dicerna: maut itu saudari, bukan musuh. Ia perlu disambut dengan hati lapang, seperti menyambut sedulur yang akrab. “Ini aneh dan kadang sulit dipahami,” tulis Andre jujur. Tetapi ia juga mencatat bahwa banyak orang yang merasa sudah siap sowan Gusti meninggal dengan tenang, bahkan tersenyum. Ada damai di sana, katanya. Selesai dengan iman dan sukacita.

Hidup dan mati memang misteri, dan kunci pintunya hanya dipegang Allah. Manusia hanya bisa berdiri di ambang pintu itu dengan tangan kosong. Di titik itulah iman tidak lagi terasa seperti jawaban. Ia lebih menyerupai tempat bersandar.

(Awalnya, jubah MSF inilah yang menyatukan kami. Setelahnya kami tetap bersaudara meski tanpa jubah, karena kami “dibesarkan” oleh semangat Keluarga Kudus dan merajutnya menjadi PMBN)

Di kapel Domus Mariae siang itu, kami mengalami dua perasaan yang tak mungkin dipisahkan. Kami bersyukur karena temu darat sungguh telah mengakrabkan kami. Kami juga tercabik, tak percaya, dan menangis. Para psikolog menyebut campuran seperti ini sebagai kedukaan yang datang di tengah kebahagiaan. Rasanya sangat janggal, seperti tawa yang belum selesai dipaksa berubah menjadi isak. Namun, duka yang ditanggung bersama punya daya lain. Ia merobohkan sekat. Orang yang baru sekali bertemu Mas Singgih ikut kehilangan, mereka yang belum pernah bertemu pun ikut menangis. Seakan-akan maut yang datang bukan mencerai-beraikan, melainkan “mempersaudarakan”, mempersatukan satu sama lain, keluarga-keluarga lintas angkatan.

Sebab itulah mars yang biasa kami nyanyikan terdengar lain malam itu:

Berawal dari niat mulia, mengikuti panggilan-Nya Mewartakan Kabar Gembira, Keluarga Kudus pelindungnya Dengan semangat yang sama, melakukan kehendak-Nya Jadi garam dan terang dunia, di dalam hidup keluarga

Reff: PBMN maju bersama, Paseduluran jiwa kita Brayat Minulya semangat kita, Nusantara rumah kita

Mars itu mengikat kami “dalam keadaan bahagia atau senang, suka maupun duka”. Kali ini yang kami alami adalah dukanya.

Sopir yang Piawai di Jalan Berkelok

Mas Singgih bukan sekadar peserta. Ia mengupayakan kendaraan untuk rombongan, dan ia sendiri rencananya akan duduk di belakang kemudi bus kelompok B saat perjalanan pulang usai temu darat. Jalan menuju Sarangan berkelok-kelok, penuh tikungan tajam yang membuat jantung dag-dig-dug. Ia dan para sopir lainnya mampu melahapnya dengan tenang sampai kami tiba di Domus Mariae dengan selamat.

(Sebagian anggota Paseduluran ikut ke makam)

Suster Cecilia dari Pertapaan Karmel punya cerita tentang dia. Suatu hari Mas Singgih mampir menjemput para mahasiswa dengan bus yang sama dan berkata riang: “Aku senang banget, bahagia banget bisa jalan-jalan dengan bus ini. Cita-citaku bawa bus sambil melayani orang tercapai!”

Dwiko menyampaikan hal serupa dari putra sulung Mas Singgih. Malam itu sang anak berkata bahwa bapaknya sowan Gusti dalam keadaan bahagia: sedang bertemu teman-teman, dan sedang bertugas pada hal yang paling ia sukai, menyetir.

Banyak orang menghabiskan hidup mencari panggilan. Mas Singgih tampaknya menemukannya di balik setir, dalam pelayanan yang sederhana dan berada di tengah-tengah persaudaraan. Ia meninggalkan dunia ini dalam pelukan cinta persaudaraan/paseduluran yang kuat.

“Aku Mau Mulih”

Sekarang, setelah segalanya terjadi, kami menyusun ulang kenangan seperti orang yang menyusun kepingan. Setiap kepingan seolah mengarah ke satu gambar yang waktu itu tak terlihat.

Kepada Kang Mangun Tiarso, Mas Singgih berkata bahwa setelah acara api unggun, pembagian door prize, dan nyanyian hiburan, ia mau pulang: “Aku mau mulih.” Kang Mangun menafsirkannya secara sederhana, pulang ke Madiun. Kini kalimat itu terasa mengandung makna lain yang lebih dalam.

Paginya, saat sarapan, ia minta foto berdua dengan Mas Tienus. Ia juga minta foto bertiga dengan Mas Haripadmo dan Mbak Aniek. Tak seorang pun curiga. “Sudah memberikan isyarat tidak akan bertemu lagi,” tulis Andre dengan getir.

Yustina Nagel, yang datang ke temu darat dengan hati yang masih menyimpan kehilangan suaminya, Mas Julius Nagel, bertemu Mas Singgih di refter Domus Mariae. Mas Singgih adalah kakak kelasnya di SMP Kanisius Temanggung. Mula-mula ia mengingat-ingat, lalu tersenyum: “Oh, Julius… kene kene, foto wong loro.” Foto itu langsung dikirim Yustina kepada adik perempuan Mas Singgih di Temanggung. Malam itu, dalam dinginnya lereng Lawu, Mas Singgih mencari kehangatan, “golek anget-anget”, sempat berhenti di gazebo untuk mengobrol, dan mengeluh sedikit capek karena besok harus menyetir mengantar kawan-kawan ke Solo. Yustina menutup kenangannya dengan kalimat yang kini mewakili kami semua: kenangan itu sangat manis dan tidak akan terulang lagi.

Canda yang Tak Lagi Terdengar

Banyak yang kami ingat tentang Mas Singgih adalah tawa. Nursih Martadi menceritakan pertemuan mereka di depan kamar. Mas Singgih tersenyum lebar dan berceletuk, “Le… isih urip to kowe?” Malam harinya, saat malam keakraban, ia meledek: “Kowe nembango lagune Didi Kempot, tak rungokne, mesti blero suaramu.” Nursih memeluknya dan berpesan agar jangan begadang, besok harus menyetir. “Yoh,” jawabnya. Namun, mereka tetap terjaga sampai setengah dua pagi. Rangkulan itu ternyata rangkulan terakhir.

Vincent Hanyang, yang agak lupa nama Mas Singgih, terus digoda dan dihibur olehnya dari hari pertama sampai sejam sebelum ia pergi. Benny Purnomo punya cerita yang paling dramatis. Saat api unggun, ia bilang naksir sebuah hadiah undian berupa salib ukiran kayu dari Papua. “Yo, mengko mesti kebagian,” kata Mas Singgih. Pukul 22.15 Benny sudah terkantuk-kantuk, dan Mas Singgih memanggilnya dengan sebutan khas dalam bahasa walikan, Dab Sedhi: ayo bertahan, masa nanti dapat undian, lalu hangus karena sudah tidur? Benny bertahan. Pada undian terakhir, tersisa satu salib ukiran. Tiga nama dipanggil, tetapi semuanya sudah masuk kamar. Lalu namanya terpanggil. “Terima kasih, Mas Singgih,” tulis Benny. Pesan untuk bertahan dan berjaga itu kini ia maknai lebih jauh: bertahan dan berjaga untuk berdoa, agar tidak jatuh dalam pencobaan perjalanan hidup.

Benny juga menulis pesan yang pilu. Katanya Mas Singgih, seandainya ingin dibonceng pulang, aku siap dengan senang hati. Tapi ia malah memilih kondur menghadap Bapa, tempat Brayat Minulya yang langgeng.

Api yang Tak Padam

Eka Jaya, ketua baru PBMN, memanggilnya Pakdhe Singgih. “Terima kasih, Pakdhe, turut menyalakan api unggun, api cinta persaudaraan PBMN,” tulisnya.

Ketua yang lama, Thomas Suhardjono, mengenangnya dengan kalimat yang sederhana dan jujur: canda tawamu tak terdengar lagi, sentuhan kritismu tak terasa lagi, tawaran tantanganmu tak terdengar lagi. Namun, loyalitas dan totalitasnya akan tetap menginspirasi kami.

Ada yang menarik pada kebetulan yang tidak kebetulan ini. Temu darat tahun ini menjadi saat peralihan kepemimpinan dari Mas Thomas kepada Mas Eka Jaya. Andre mencatat dengan rasa syukur bahwa alih generasi berjalan baik dan mulus. Mas Thomas meninggalkan warisan berupa buku Ngumpulake Balung Pisah seri keempat.

Mas Widiyanto lewat sesi renungannya mengingatkan kami agar terus belajar mengasuh keluarga dengan bijak dan memberi keteladanan hidup yang baik. Dan tanpa sengaja Mas Singgih ikut memberi keteladanan itu, sampai napas terakhirnya: setia pada tugas, tuntas pada janji, dan hangat pada siapa pun.

Istri dan ketiga putra-putrinya ditinggalkan. Mereka yang beranjak remaja itu kini harus belajar mengenang seorang bapak yang pulang tepat ketika sedang bahagia bersama saudara sepaguyuban dan sedang melayani. Duka mereka tentu tak bisa kami ukur. Yang bisa kami lakukan hanyalah berdiri di samping mereka, dengan doa dan dengan kehadiran. Daniel Boli Kotan mewakili kami semua: semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.

Romo Atas, sang kakak menatap sedih peti sang adik. Sugeng Kondur, Dhimas Singgih)

Kondur ing Kaswargan Jati

Andre menutup renungannya di kereta dengan doa yang kami ikuti dengan lirih. Semoga Mas Wibowo Singgih bahagia abadi di surga bersama Allah Tritunggal Mahakudus, Bunda Maria, Santo Yusup, para kudus dan malaikat agung, Romo Berthier, serta para sedulur PBMN yang telah lebih dulu sowan Gusti. Dan semoga kami yang masih tinggal tetap siap menyambut saudari maut dengan wajah gembira, tidak resah dan tidak takut.

Trisnadi dari Semarang menyampaikan doa yang sama: Sugeng kondur, Mas Singgih. Manunggal lan kempal malih sesarengan kaliyan Ibu Maria lan Bapa Yusup, para Suci, para Rasul ing ngarsa Gusti Yesus. Bali mulih mula-mulanira, kondur ing kaswargan jati. Kembalilah ke asal mula, pulanglah ke surga yang sejati.

Barangkali itulah jawaban paling jujur atas misteri ini. Kami tak tahu mengapa hari itu, mengapa di Sarangan, mengapa setelah foto-foto dan canda. Kami hanya tahu bahwa seorang sahabat yang mengantar kami naik ke gunung kini telah mengantar dirinya sendiri pulang. Api unggun yang ia bantu nyalakan semalam masih hangat dalam ingatan kami. Api itu tidak padam. Ia berpindah menjadi api cinta persaudaraan yang kami bawa turun ke rumah masing-masing.

(Sedulur PBMN yang ikut mengantar ke peristirahatan terakhir di Cangkringan)

Penghormatan Terakhir

Hari ini, 20 Oktober, misa requiem dihadiri umat yang amat banyak. Para tetangga lingkungan dari Madiun datang dengan satu bus besar, lebih dari lima puluh orang. Jumlah itu berbicara tanpa kata: almarhum sungguh orang baik, yang membuat begitu banyak sahabat merasa kehilangan dan tak mau ketinggalan memberikan penghormatan terakhir.

Mars PBMN dinyanyikan sekali lagi. Para sedulur dari Semarang, Kedu, Solo, Yogyakarta, dan Jakarta, sebagian masih bertahan sejak selesai temu darat nasional, menyampaikan kata perpisahan lewat syair-syair mars yang merdu dan menyayat hati bagi kami yang ditinggalkan. Lagu yang di Sarangan mengikat kami dalam sukacita kini mengantar Mas Singgih dalam duka.

Misa pemberkatan jenazah dipimpin lima imam. Di antara mereka hadir sang kakak, Romo Simon Atas Wahyudi, Pr, Pastor Paroki Maria Assumpta, Cawas, Klaten sebagai selebran utama didampingi, Romo Fajar Himawan, MSF, Romo Triatmoko, MSF, Romo Benny, Pr dan Romo Sukendar, Pr. Sementara beberapa saudara Brayat Minulya bahkan ikut menghantar sampai ke tempat peristirahatan terakhir, ada yang dengan mobil, ada yang dengan motor menuju Cangkringan. Perjalanan terakhir itu tidak ia tempuh sendirian.

Sugeng tindak, Mas Singgih. Berkah Dalem.

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *