Tidak Ada lagi yang Menyapa Saya dengan Sebutan “Ngger”
Tidak ada lagi yang menyapa saya dengan sebutan “Ngger”.
Sapaan itu biasanya disampaikan dari orang yang lebih tua (seperti orang tua, kakek, nenek, atau sesepuh) kepada anak atau orang yang lebih muda. Ngger ungkapan yang memiliki arti setara dengan “nak” atau panggilan akrab kepada anak.
Dalam beberapa kesempatan komunikasi, baik melalui whatapps atau komunikasi tatap muka, demikianlah Mas Singgih menyapa saya.
Saya terakhir kontak melalui media digital beberapa bulan lalu, tepatnya tanggal 26 Maret 2026. Beliau menyapa saya melalui pesan teks, “Ngger Gara (Penyelenggara, jabatan kedinasan saya di kantor) kepareng nyuwun no kontakipun…. (menulis nama staf kantor yang pindah tugas di wilayah DIY)”. Saya memenuhi permintaan beliau. “Matur nuwun Ngger Gara,” balasnya pula melalui media yang sama. Semua tampaknya berlalu begitu saja. Ternyata tidak. Sesuatu yang menarik terjadi melalui ungkapan-ungkapan yang disampaikan kepada saya. Satu sisi, Mas Singgih menempatkan diri sebagai senior, kakak yang memperhatikan adiknya. Sisi lain, beliau menghormati lawan bicaranya. Secara singkat, melintas dalam ingatan saya, beliau menghidupi semangat “kakak mendampingi adik”, rumusan yang dimunculkan, digaungkan, dan dihayati, diterapkan ketika berada dalam formasi, bagian dalam familiaritas.
Sabtu malam, 17 Oktober 2026. Saya bergabung dengan Mas Singgih dan MasDhe Mangun ” Kere” Tiarso. Secara generasi dan angkatan, saya jauh dari mereka. Saya hanya mendengar kisah tentang mereka. Saya hanya mendengar, Mas Singgih yang prigel memainkan alat musik dan fasih terampil sebagai fotografer. MasDhe Mangun “heroik” dengan gaya dan model karyanya. Saya merasa nyaman dalam satu meja makan yang sama. Sembari makan, kami ngobrol ngalor ngidul tentang banyak hal. MasDhe bercerita banyak tentang daerah Kaloran, Temanggung, daerah di mana beliau menghabiskan masa studi di jenjang sekolah menengah dengan jalan kaki dari rumah tinggal menuju sekolah.
Pada kesempatan makan bersama dalam satu meja itu. Mas Singgih kembali menyapa saya, “Pripun kabare Ngger Gara.” Mas Singgih menyebut saya dengan double identity. Pertama, sebagai adik dan sedulur. Kedua, sebagai rekan yang sebetulnya pernah berkarya pada jabatan dan lembaga yang sama (Mas Singgih pernah menjabat sebagai Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Kabupaten Madiun). Sekali lagi, pada kesempatan di meja makan itu pula, Mas Singgih menanyakan kabar seorang staf yang pindah kerja di lingkungan DIY. Saya menyampaikan banyak hal. Dan Mas Singgih tampak sumringah mendengar cerita saya. Beliau senang karena mengetahui staf tersebut semakin berkembang sesuai kompetensinya. Tampaknya, beliau memperhatikan dan nggatekke betul rekan kerja yang bagi dia berada di wilayah kurang diperhatikan.
Pernak pernik salam, sapa, dan pengalaman singkat bersama Mas Singgih memberikan kesan yang mendalam. Beliau, pribadi lembah manah, terbuka, respek dengan liyan yang dihadapinya.
Tidak ada lagi yang menyapa saya dengan sebutan “Ngger” secara langsung. Tetapi saya punya keyakinan, saling sapa sebagai sedulur yang saling meneguhkan tetap abadi dalam doa…
Ngger Mas Gara Singgih… Saling mendoakan… Dan matur nuwun untuk sapaan, peneguhan dan teladannya…. (ism)
Tidak ada lagi yang menyapa saya dengan sebutan “Ngger”.
Sapaan itu biasanya disampaikan dari orang yang lebih tua (seperti orang tua, kakek, nenek, atau sesepuh) kepada anak atau orang yang lebih muda. Ngger ungkapan yang memiliki arti setara dengan “nak” atau panggilan akrab kepada anak.
Dalam beberapa kesempatan komunikasi, baik melalui whatapps atau komunikasi tatap muka, demikianlah Mas Singgih menyapa saya.
Saya terakhir kontak melalui media digital beberapa bulan lalu, tepatnya tanggal 26 Maret 2026. Beliau menyapa saya melalui pesan teks, “Ngger Gara (Penyelenggara, jabatan kedinasan saya di kantor) kepareng nyuwun no kontakipun…. (menulis nama staf kantor yang pindah tugas di wilayah DIY)”. Saya memenuhi permintaan beliau. “Matur nuwun Ngger”

