SAPA SIH OM SINGGIH?

SAPA SIH OM SINGGIH?

Catatan pengalaman hidup tentang perjumpaan singkat, persaudaraan, dan perpisahan yang tak pernah terduga

Berawal dari Sebuah Nama

Ketika informasi kegiatan ke Domus Mariae, Sarangan, dibagikan melalui grup WhatsApp Paguyuban Brayat Minulya, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Dalam informasi tersebut tertulis bahwa bus yang akan kami gunakan bekerja sama dengan Om Singgih.

Saya pun bertanya-tanya dalam hati, “Sopo sih Mas Singgih iki? Aku kok ora ngerti?” Siapa sebenarnya Mas Singgih ini? Saya belum mengenalnya. Dalam bayangan saya, mungkin usianya sebaya dengan Mas Jaya.

Hari demi hari berlalu, bulan berganti, hingga akhirnya hari keberangkatan yang dinanti tiba. Kebetulan, saya mendapat tugas sebagai penanggung jawab bus. Tentu saja, saya merasa perlu mengetahui siapa saja yang terlibat dalam perjalanan tersebut, termasuk sosok yang bernama Singgih.

Namun, sampai saat keberangkatan, saya masih belum tahu yang mana Mas Singgih.

Awalnya, saya mengira beliau yang akan menyopiri bus. Ternyata, yang berada di balik kemudi adalah Om Beny, ditemani seorang kernet yang duduk di sampingnya. Perjalanan dari Surakarta menuju Sarangan pun dimulai.

Ketika bus sampai di daerah Karangpandan, tiba-tiba terdengar suara seorang rekan yang duduk di bagian tengah bus.

“Iki Singgih sing nyopiri?”

Dari bagian depan, terdengar jawaban, “Sing nyopiri Beny!”

Belakangan saya tahu bahwa yang bertanya adalah Mas Sis, yang ternyata seangkatan dengan Mas Singgih.

Saya hanya bisa tersenyum mendengar percakapan itu. Namun, satu pertanyaan masih belum terjawab: sebenarnya, siapa Mas Singgih itu? Yang mana orangnya?

Kamar yang Bernama Singgih

Setelah menempuh perjalanan, kami akhirnya tiba di Domus Mariae, Sarangan. Kami segera menuju refter, kemudian mencari kamar untuk beristirahat.

Saya bersama keluarga mendapatkan kamar yang letaknya berdekatan dengan sebuah kamar lain. Ketika melihat tulisan di depan kamar tersebut, saya membaca nama yang sudah sejak tadi membuat saya penasaran: Kamar Mas Singgih.

Dalam hati saya berkata, “Wah, cedhak Mas Singgih iki. Tapi, sing endi wongé?” Ternyata, bahkan setelah sampai di tempat tujuan dan mengetahui letak kamarnya, saya tetap belum mengenal sosok yang namanya tertulis di depan pintu itu.

Kegiatan pun berjalan dengan penuh kehangatan. Pertemuan dengan keluarga besar Brayat Minulya selalu membawa suasana tersendiri. Rekan-rekan dari berbagai angkatan saling menyapa tanpa sekat usia maupun generasi. Ada yang mengobrol, berbagi cerita, bercanda, bahkan saling ece-ecean yang justru menambah keakraban.

Semua terasa begitu akrab. Seolah-olah kami bukan sekadar berkumpul dalam sebuah kegiatan, melainkan sedang pulang ke rumah besar yang mempertemukan saudara-saudara lama. Di tengah suasana itu, nama Singgih masih menjadi tanda tanya bagi saya.

Sosok yang Tidak Saya Kenali

Sore menjelang malam, kami mulai mempersiapkan acara keakraban. Saya bersama beberapa rekan mendapat tugas menyiapkan tempat untuk api unggun dan hiburan organ tunggal.

Di tengah kesibukan itu, ada seorang bapak yang ikut membantu. Beliau tampak cekatan, ikut mempersiapkan keperluan acara, dan terlihat begitu akrab dengan pemain organ tunggal.

Saya memperhatikan beliau sambil bertanya-tanya dalam hati, “Sopo sih wong iki? Kok melu repot-repot nyiapake acara? Ning kok akrab banget karo pemain organ tunggale?”

Saya tidak tahu siapa beliau. Saya juga tidak bertanya lebih jauh. Saya hanya menganggap beliau sebagai salah satu orang yang turut membantu menyukseskan acara malam itu.

Waktu terus berjalan hingga acara keakraban dimulai. Ketika tiba saatnya penyalaan api unggun, pembawa acara mengumumkan bahwa yang akan menyalakan api unggun adalah ketua lama, ketua baru, dan Om Singgih.

Saya kembali tertegun. “Lho, kok Om Singgih? Sopo sih Om Singgih iku?” Padahal, dalam susunan acara yang saya baca sebelumnya, saya hanya melihat nama ketua lama, Om Thomas, dan ketua baru. Mengapa sekarang ada nama Om Singgih?

Malam itu, karena penglihatan saya kurang jelas dalam kondisi gelap, saya tidak bisa mengenali wajah Om Singgih dengan baik. Saya hanya melihat sosok yang ikut dalam prosesi penyalaan api unggun.

Rasa penasaran itu muncul lagi, tetapi saya memilih mengabaikannya. Toh, kegiatan berlangsung meriah. Api unggun menyala, hiburan berjalan, dan kami menikmati malam penuh kebersamaan.

Saya tidak pernah menyangka bahwa sosok yang saya cari-cari sepanjang hari itu sebenarnya sudah berada begitu dekat dengan saya.

Pagi di Telaga Sarangan

Keesokan paginya, kegiatan dilanjutkan dengan berjalan-jalan menuju Telaga Sarangan.

Sebelum berangkat, saya sempat duduk di kursi teras bersama bapak yang kemarin saya lihat membantu persiapan acara dan Mas Nowo. Kami bertiga sempat mengobrol sebentar. Percakapan kami tidak berlangsung lama karena rombongan segera bersiap menuju telaga.

Kami pun menikmati suasana Telaga Sarangan yang indah. Pengunjung mulai berdatangan, membuat kawasan wisata itu semakin ramai. Udara pegunungan yang sejuk dan pemandangan telaga menjadi pelengkap kebersamaan pagi itu.

Setelah menikmati suasana telaga, saya bersama beberapa rekan kembali ke Domus Mariae.

Dalam perjalanan pulang, saya sempat berbincang dengan Mas Adi Pras, yang membawa mobil sendiri ke Sarangan.

“Jebul ana untunge nggawa mobil, ya,” kata saya. Memang, membawa mobil sendiri ternyata ada manfaatnya. Selain bisa digunakan untuk mengangkut barang-barang, mobil juga dapat menjadi sarana pertolongan apabila ada peserta yang sakit dan perlu dibawa ke rumah sakit.

Saat itu, waktu menunjukkan sekitar pukul sembilan pagi. Tidak ada firasat apa pun dalam pikiran saya bahwa ucapan tersebut akan segera menjadi kenyataan.

Lambaian Tangan yang Terakhir

Sesampainya di Domus Mariae, saya langsung menuju refter. Dalam perjalanan, saya kembali bertemu dengan bapak yang sejak kemarin membuat saya penasaran itu.

Saya menyapanya dengan santai, “Nggo, Om, menyang refter nyekel dhahar rumiyin.” Maksud saya, mengajak beliau ke refter untuk makan terlebih dahulu.

Beliau menjawab sambil melambaikan tangan, “Saya sudah, Mas.” Saya pun melanjutkan perjalanan menuju refter. Beliau tampaknya hendak menuju ke lantai atas, entah ke kamar atau ke tempat lain.

Sebuah percakapan sederhana. Sapaan singkat. Lambaian tangan yang biasa saja. Saya tidak tahu bahwa itulah sapaan terakhir saya kepada beliau.

Di refter, suasana masih seperti biasa. Kami berkumpul, mengobrol ke sana kemari, dan saling bercanda. Tidak ada yang terasa berbeda sampai tiba-tiba suara dari HT terdengar.

Mas Jaya meminta mobil untuk mengantar Om Singgih karena beliau pingsan.

Mendengar kabar itu, saya bersama Mas Dizmas segera menuju kamar Mas Adi Umuk untuk mengambil mobil. Saat itu, Mas Adi sedang bersiap mandi, bahkan pakaiannya sudah dilepas. Namun, begitu mendengar kabar tersebut, beliau segera bergegas mengambil mobil bersama Mas Dizmas.

Semua bergerak cepat. Kami berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membantu. Tidak ada yang menyangka bahwa suasana pagi yang sebelumnya penuh tawa dan keakraban akan berubah menjadi begitu menegangkan.

“Om Singgih Meninggal, Mas…”

Salah satu puncak kegiatan kami adalah perayaan misa bersama di kapel.

Saat itu, saya berdiri di luar kapel. Saya melihat Mas Jaya sibuk dengan telepon genggamnya. Rupanya, beliau sedang berkomunikasi dengan rekan-rekan yang membawa Om Singgih ke puskesmas.

Saya hanya bisa berharap dan berkata kepada Mas Jaya, “Mugo wae Om Singgih ora kenapa-kenapa.” Semoga saja Om Singgih tidak mengalami sesuatu yang buruk. Semoga beliau segera mendapatkan pertolongan dan bisa kembali bersama kami.

Namun, harapan itu tidak berlangsung lama. Belum sampai lima menit, saya melihat Mas Jaya menangis. Dengan suara yang berat dan penuh kesedihan, beliau menyampaikan kabar yang membuat suasana seketika berubah.

“Om Singgih meninggal.”

Duh, Gusti…

Saya terdiam. Ada perasaan yang berkecamuk di dalam dada. Sedih, kaget, tidak percaya, dan kehilangan. Padahal, saya bahkan belum benar-benar mengenal siapa Om Singgih.

Di tengah kesedihan itu, justru muncul kembali pertanyaan yang sejak awal mengikuti perjalanan saya: sopo sih Om Singgih iku?

Saya kemudian bertanya kepada seorang rekan. Mas Rio lalu menunjukkan sosok yang dimaksud. “Lha, itu Om Singgih. Yang semalam membantu kita mempersiapkan acara keakraban.”

Saya tertegun. Ya ampun… Ternyata, bapak yang sejak kemarin saya kira hanya seorang kernet bus itulah Om Singgih.

Bapak yang ikut membantu menyiapkan acara. Bapak yang terlihat akrab dengan pemain organ tunggal. Bapak yang duduk bersama saya di teras pada pagi hari. Bapak yang baru saja saya ajak ke refter, lalu menjawab dengan ramah sambil melambaikan tangan.

Beliau adalah Om Singgih yang selama ini saya cari-cari. Dan lambaian tangan itu ternyata menjadi lambaian tangan pertama sekaligus terakhir beliau kepada saya.

Saya tidak mampu berkata-kata. Rasanya begitu aneh. Sepanjang perjalanan, saya terus bertanya siapa Om Singgih. Ketika akhirnya mengetahui siapa beliau, justru pada saat itulah saya harus menerima kenyataan bahwa beliau telah pergi untuk selamanya.

Sebuah Pelajaran dari Perjumpaan Singkat

Setelah kejadian itu, saya kembali mengingat seluruh peristiwa sejak awal keberangkatan. Saya teringat percakapan di bus, tulisan nama di depan kamar, penyalaan api unggun, obrolan singkat di teras, hingga lambaian tangan di pagi hari.

Semua yang sebelumnya terasa biasa saja, kini memiliki makna yang berbeda.

Saya memang tidak sempat mengenal Om Singgih lebih jauh. Saya tidak sempat berbincang panjang dengannya. Bahkan, saya baru mengetahui dengan pasti siapa beliau ketika kabar kepergiannya telah sampai kepada kami.

Namun, dari perjumpaan singkat itu, saya belajar bahwa kehadiran seseorang tidak selalu diukur dari lamanya kita mengenal, banyaknya percakapan yang terjadi, atau seberapa dekat hubungan yang terjalin.

Kadang-kadang, seseorang meninggalkan kesan justru melalui hal-hal sederhana: kesediaannya membantu, keakraban dengan orang-orang di sekitarnya, keramahan dalam menjawab sapaan, dan lambaian tangan yang mungkin baginya hanyalah sebuah gestur biasa.

Saya juga belajar bahwa hidup tidak selalu memberi kita kesempatan untuk mengenal seseorang lebih jauh. Ada perjumpaan yang berlangsung begitu singkat, ada percakapan yang hanya beberapa kalimat, dan ada perpisahan yang datang tanpa pernah kita persiapkan.

Kegiatan Brayat Minulya di Domus Mariae, Sarangan, akhirnya bukan sekadar perjalanan untuk berkumpul, bercanda, dan mempererat persaudaraan. Bagi saya, perjalanan itu menjadi pengingat bahwa setiap orang yang hadir di sekitar kita memiliki cerita dan arti dalam hidupnya sendiri.

Om Singgih mungkin tidak menyadari bahwa lambaian tangannya kepada saya akan menjadi kenangan yang begitu kuat. Saya pun tidak pernah menyangka bahwa sapaan sederhana itu akan menjadi perjumpaan terakhir kami.

Selamat jalan, Om Singgih.

Terima kasih telah menjadi bagian dari kebersamaan Brayat Minulya, meskipun saya baru sempat mengenal sosok panjenengan melalui perjumpaan yang begitu singkat.

Semoga segala kebaikan yang telah panjenengan bagikan menjadi kenangan indah bagi keluarga, sahabat, dan seluruh keluarga besar Brayat Minulya.

Dari sekian banyak pertanyaan yang saya bawa ke Sarangan, akhirnya saya menemukan jawabannya. Namun, jawaban itu datang bersama sebuah perpisahan yang tidak pernah saya bayangkan.

“Sopo sih Om Singgih?”

Sekarang saya tahu siapa Om Singgih. Sayangnya, saya baru benar-benar mengenal beliau ketika beliau telah berpulang.

Duh, Gusti… mugi Om Singgih pinaringan tentrem langgeng wonten ing ngarsanipun Gusti. Amin.

ERA

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *