Putri Pendiri PBMN Menikah Hari Ini, Para Sedulur Turut Berbahagia

Putri Pendiri PBMN Menikah Hari Ini, Para Sedulur Turut Berbahagia

Dokter. Kenny Harsono dan dokter Maria Satya Paramitha melangsungkan perkawinan pada Minggu Biasa ke-30, Minggu, 25 Oktober 2026, pukul 12.00 WIB di Gereja Santa Theresia, Menteng. Injil hari Minggu ini mengisahkan hukum yang terutama: mengasihi Allah dan sesama dengan segenap hati. Bacaan ini terasa selaras dengan awal hidup baru kedua mempelai, meski mungkin bacaan yang dipilih untuk momen paling indah ini berbeda.

Maria adalah putri Bapak Stefanus Brotosantosa (Broto) dan dr. MM Yustin Sumito, SpKK. Pak Broto, kelahiran 30 November 1947, adalah salah satu pendiri Paseduluran Brayat Minulya Nusantara (PBMN) yang masih hidup. Beliau purnakarya GM HRD & GA PIK Salim Group. Sejak adiknya, Theodorus Satya Mariano, berpulang, Maria menjadi putri semata wayang.

Sejak masa pandemi covid hingga kini, Pak Broto dijaga sungguh-sungguh oleh istri dan putrinya, yang keduanya dokter. Beliau diminta tetap di rumah selama kondisi masih rawan penyakit. Hari ini, beliau dapat menyaksikan putrinya menikah. Para sedulur turut mendoakan agar Pak Broto senantiasa sehat.

Sejak pagi, ucapan selamat mengalir dari para sedulur PBMN. Mereka menyampaikan proficiat dan ndherek mangayubagya atas pernikahan putri tercinta, serta mendoakan agar seluruh rangkaian acara berlangsung lancar dan sukses. Ada yang mendoakan agar berkat Tuhan senantiasa menyertai keluarga, dan agar kedua mempelai hidup bahagia, penuh berkat, dan rukun selalu. Romo Anton Tjokroatmodjo turut menyampaikan harapan agar pernikahan ini membawa kebahagiaan bagi mempelai berdua.

Salah seorang sedulur menyampaikan penyesalan karena tidak dapat hadir, meski sudah mendaftarkan diri sekeluarga, sebab sedang terserang batuk, flu, dan demam. Doa dan restunya tetap dikirimkan dari rumah. Paseduluran patut bersyukur karena ada sedulur lain seperti KangMas Andre Sumariyatmo, KangMas Thomas Suhardjono, KangMas Adihendro, KangMas Widyanto dari Surabaya yang hadir langsung di Gereja Santa Theresia memberi dukungan.

Kita patut bersyukur bahaw berkat jasa para pendiri, para mantan MSF, baik yang masih berada di Berthinianum dan skolastikat maupun yang sudah menjadi imam, dapat bersatu dan bersaudara. Dari paseduluran ini tumbuh keguyuban, persaudaraan, dan semangat berbagi. Dengan ucapan “Turut Berbahagia”, para sedulur menyampaikan cinta dan doa bagi kedua mempelai, berpegang pada sabda Tuhan: “Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk 10:9).

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *