Aku Ya Kancamu, Mbok Ke’i Ora?

Aku Ya Kancamu, Mbok Ke’i Ora?

Malam hiburan di Sarangan itu diisi dengan api unggun dan acara nyanyi bareng. Di tengah dinginnya lereng Gunung Lawu, sajian wedang uwuh terasa begitu pas. Ditambah lagi eLWine—yang dipesan panitia sebanyak lima liter, plus lima liter lagi yang saya bawa sendiri. Wine berbahan dasar pala dan kedondong ini terasa sangat khas dan hangat, sungguh nikmat di tengah hawa dingin pegunungan.

Pandangan saya beredar di sekitar api unggun. Terang lampu sorot dan pendar lidah api ternyata tak cukup membantu saya menemukan sosok mendiang Mas Singgih. Tiba-tiba, seusai wine dinikmati di tengah-tengah “perjamuan”, ada yang nyeletuk sambil nyelonong, “Aku ya kancamu, mbok ke’i ora?” (Aku juga temanmu, kamu beri tidak?).

Spontan saya menoleh dan menjawab, “Lambene!”

Rupanya dia! Sejak tadi memang saya cari-cari, kasihan kalau sampai tidak kebagian.

Perkenalan awal saya dengan Pak Singgih—dulu saya memanggilnya demikian karena beliau dosen dan saya mahasiswanya—terjadi puluhan tahun silam, tepatnya sekitar 21 tahun lebih sedikit. Setelah keluar dari kampus di Yogya, saya pindah ke Madiun, tempat mendiang menjadi salah satu staf pengajar.

Saat kuliah ekstra menyanyi, almarhum pernah meledek sambil cengengesan bahwa saya ini tertawa saja sumbang (fals), apalagi kalau menyanyi. Waktu itu saya cuma bisa tertawa ngakak. Mau bagaimana lagi, kenyataannya memang begitu. Mengenai trauma menyanyi, sedikit banyak saya sudah mulai move on dan bisa menerimanya. Kalau diledek, ya diterima saja sambil tertawa bersama.

Bertahun-tahun kemudian, di suatu sore, almarhum menghubungi saya melalui pesan singkat. Beliau memberi tahu bahwa ada grup bernama PBMN, yang beranggotakan para mantan anggota sebuah tarekat religius. Karena kami memang sama-sama pernah di sana, beliau menawarkan apakah saya mau bergabung, dan saya jawab setuju. Lucunya—atau anehnya—justru beliau sendiri yang belakangan keluar dari grup itu. Dia yang mengajak masuk, malah dia yang keluar.

Kami bertemu lagi saat pernikahan keponakan. Mas Singgih menjadi organis dan istrinya menjadi dirijen paduan suara saat misa. Di tengah-tengah misa, beliau malah sempat-sempatnya mengirimkan foto yang berisi sedulur PBMN: saya, almarhum, dan Mas Hari Widodo—yang baru saat itulah saya tahu kalau beliau juga sedulur PBMN. Ternyata di mana-mana selalu ada sedulur.

Beberapa kali almarhum juga memesan wine. Saat bertemu, atau pesanan biasanya dikirim melalui kakak yang berdomisili di Madiun ketika balik ke Salatiga. Mendiang juga sering bilang, kalau nanti membawa rombongan bus ke arah Salatiga dan sekitarnya, beliau bisa pesan wine lagi. Janji yang kini tak akan pernah terjadi lagi….

Kala Mas Ratmono, rekan seangkatannya, menikahkan puteranya, Mas Singgih hadir sebagai sedulur sekaligus menjadi organis. Di sana beliau berkata, “Ayo tak kenalke karo guru Merto sekaligus tetangga dari Salatiga, Pak Dhe Kancil asmane (namanya Pak Dhe Suharyanto).”

Posisi duduk beliau berseberangan cukup jauh. Di sanalah kami ngobrol dengan Pak Dhe Kancil—yang dulunya guru beliau di SMM—serta Mas Tyas dan istri dari sedulur PBMN. Kami mengobrol ngalor-ngidul, termasuk membicarakan pesanan wine, tentu saja.

Perjumpaan terakhir saat temu darat di Sarangan itu sama sekali tak pernah terlintas dalam benak siapa pun akan menjadi perpisahan. Kesaksian sedulur-sedulur lainnya pun senada: betapa almarhum tetap memancarkan kehangatan dan keakraban hingga saat-saat terakhirnya.

Sesaat sebelum Malaikat hadir menjemputnya, mendiang masih sempat berbincang hangat dengan banyak sedulur. Seusai sarapan, karena saya memang tidak berencana pergi ke Telaga Sarangan, saya pun nimbrung ngobrol bersama kelompok ini. Almarhum lalu meminta para sedulur bergantian foto bersamanya.

Ketika giliran saya, beliau merangkul saya dengan akrab dan hangat sambil berkata, “Ayo foto, engko dikirim ke Mbak Yu…”

Kenangan ini akan selalu abadi, sebagaimana kenangan akan perbincangan, canda, dan gurauannya setiap kali kami berjumpa

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *