Kecaman Tuhan Tidak Basa Basi dan Membuat Marah Serta Telinga Panas

Kecaman Tuhan Tidak Basa Basi dan Membuat Marah Serta Telinga Panas

Renungan harian

Selasa, 26 Agustus 2025

Oleh Andre Sumariyatmo – Paroki Pejompongan – Jakarta Pusat

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (Mat 23 : 23 – 26)

Kesan kuat akan muncul kalau kita membaca Injil adalah kritikan pedas dari Tuhan Yesus kepada para ahli Taurat dan kaum Farisi. Mengapa? Apa persoalannya? Salah satunya adalah cara mengajar Tuhan Yesus sangat berbeda dengan gaya para ahli Taurat dan kaum Farisi. Mereka tampil mengajar sebagai orang.yang sok tahu, sok berkuasa, merasa suci, menganggap pendapat/pandangan mereka itu paling benar dan harus menjadi tuntunan hidup banyak orang baik menyangkut bidang keagamaan maupun perilaku hidup sehari-hari. Sedangkan cara Yesus mengajar lebih mengutamakan bagaimana kasih dan kerahiman Tuhan dapat membuka mata dan iman kepercayaan banyak orang untuk bertobat dan membarui dalam berrelasi dengan Tuhan dan sesama. Hubungan yang dekat dan mendalam dengan Tuhan menjadi penguat dan motivasi untuk memiliki hubungan baik dan dekat dengan sesama mnausia.

Dalam hidup bermasyarakat kita semua sadar dan paham bahwa seseorang dihormati dan dihargai kalau bisa menduduki posisi sebagai pemimpin. Apapun akan dia lakukan agar posisi terpandang ini tetap kokoh, tidak digembosi oleh munculnya pesaing tokoh lain. Situasi yang penuh dengan emosi dan kejengkelan para ahli Taurat dan Farisi ketika Tuhan Yesus membuka borok dan topeng kemunafikan dan kepalsuan mereka dalam praktek hidup beragama dan bermasyarakat. Tuhan dengan tegas dan tanpa basa-basi menegaskan bahwa mereka akan CELAKA. Kata celaka ini mengungkapkan adanya nasib yang jelek, buruk, tidak terberkati, ada dosa. Jelas jauh berbeda dengan ungkapan Tuhan yang lain “BERBAHAGIALAH” yang bermakna damai, keberuntungan, suka cita dan penuh berkat.

Kemunafikan para ahli Taurat dan kaum Farisi disinggung, dikuliti oleh Tuhan Yesus dengan dua kali ungkapan celakalah : Pertama mereka mau membayar persepuluhan tetapi mereka mengabaikan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Kedua mereka memang membersihkan sebelah luar cawan dan pinggan, tetapi sebelah dalamnya tetap kotor dan jahat karena penuh rampasan dan kerakusan. Tuhan Yesus mengoreksi dan menasihati agar para ahli Taurat dan kaum Farisi harus melakukan sesuatu tanpa mengabaikan yang lain dan membersihkan cawan yang ada di sebelah dalam sehingga cawan nampa bersih baik di sebelah dalam mauoun di sebelah luar. Koreksi Tuhan Yesus tepat, sungguh menampar muka dan membuat telinga mereka panas. Kita semakin mengerti betapa mereka marah dan sangat dongkol serta membenci Tuhan Yesus.

Mari saudara-saudariku yang terkasih, kita sebagai orang katolik dipanggil Tuhan Yesus untuk berani memproses pembaruan diri, mengevaluasi diri, memperbaiki diri dalam sikap beriman yang tepat kepada Allah agar mau menjalaninhidup dengan berbuat jujur, adil dan setia dalam.hubungan dengan sesama. Melalui tindakan dan tutur bahasa kita yang baik, damai dan suka cita, kita semakin memberikan kesaksian bahwa Allah kita sungguh baik, peduli dan berbelas kasih. Amin.

Tuhan memberkati. (*)

.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *