HIDUP JUJUR DAN TULUS HATI

HIDUP JUJUR DAN TULUS HATI

Renungan Harian
Rabu, 27 Agustus 2025
Oleh Ansgarius Hari 45 Wijaya

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. (Mat 23, 27-32)

Yesus mengecam orang Farisi dan Ahli Taurat, karena hidup mereka tidak tulus lahir dan batin. Mereka dikatakan sebagai seperti kubur yang dilabur putih tetapi di dalamnya penuh dengan kebusukan. Dengan kemunafikan dan kedurjanaan (Mat13:28). Berpenampilan saleh sebagai para pemuka di kalangan orang Yahudi. Menjalankan perintah agama dengan cermat, sampai di dalam tradisinya ada 613 aturan yang dikembangkan dari hukum Taurat. Membangun makam nabi-nabi dan orang orang saleh bangsanya. Membuat alibi, jika kami hidup pada zaman nenek moyang yang membunuh para nabi, mereka tidak akan melakukan hal itu. Senyatanya mereka sedang menentang Yesus yang lebih besar dari para nabi itu. Di hadapan Yesus alibi itu dipatahkan, dengan membuat pernyataan itu, berarti mereka mengakui bahwa mereka adalah keturunan nenek moyang yang membunuh nabi nabi itu. Mereka mengakui sendiri bahwa membunuh para nabi merupakan kejahatan besar nenek moyang mereka. Mereka mengetahui kesalahan itu, namun, sekarang mereka sendiri bersalah oleh hal yang sama. Mereka yang suka menghakimi dosa orang lain, namun melakukan sendiri dosa yang sama atau bahkan yang lebih buruk lagi, tidak bisa diampuni. Mereka tahu bahwa seharusnya mereka tidak boleh turut mengambil bagian dengan para penyiksa, namun sekarang malah menjadi pengikut mereka.

Kristus menunjukkan pengertian lain yang berbeda dengan maksud mereka atas perbuatan mereka dalam membangun makam-makam para nabi, bahwa dengan memperindah makam-makam itu, mereka seolah membenarkan perbuatan para pembunuh nabi-nabi itu, karena ternyata mereka tetap hidup di dalam dosa. Mereka mengakui sendiri bahwa para penganiaya yang terkenal ini adalah nenek moyang mereka, kami adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Mereka merasa tidak lebih dari keturunan secara darah dan daging saja, tetapi Kristus mengubah pandangan bahwa mereka lebih dari itu, mereka benar-benar keturunan pembunuh juga secara roh dan watak. Mereka itu bapamu, nenek moyangmu, seperti yang kamu katakan, dan kamu sendiri menyerupai bapamu, nenek moyangmu. Dosalah yang mengalir dalam darah di antara kamu. Sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu. Mereka berasal dari bangsa yang suka menyiksa, keturunan yang jahat.


Kedengkian, iri hati, dan kekejaman sudah mendarah daging dalam diri mereka. Sebelumnya mereka menganut ini sebagai prinsip mereka, melakukan seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Hal ini bisa diamati di sini (Mat 13: 30), betapa cermatnya mereka menyebut hubungan ini, “Mereka adalah nenek moyang kami, merekalah yang membunuh nabi-nabi itu. Mereka adalah orang yang terhormat dan berkuasa, yang keturunan dan penerusnya adalah kami.” Seandainya memang betul mereka membenci kejahatan leluhur mereka, yang seharusnya mereka lakukan, pastilah mereka tidak akan sebangga itu dalam menyebut-nyebut para pembunuh itu sebagai nenek moyang mereka. Sebab, apa untungnya memiliki hubungan darah dengan para penganiaya, meskipun mereka pernah begitu bermartabat dan berkuasa.


Maka Yesus melanjutkan kecaman-Nya. penuhilah juga takaran nenek moyangmu! Kristus tahu bahwa mereka sekarang sedang merencanakan kematian-Nya yang dalam beberapa hari lagi akan digenapi. “teruskan rencana jahatmu, terimalah nasibmu, turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, dan lihatlah apa yang akan terjadi nanti. Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera. Engkau
hanya memenuhi takaran dosa, yang kemudian akan melimpah dalam banjir kemurkaan
Beberapa hal dapat kita petik dari Sabda Tuhan hari ini yaitu :

a. Hidup dalam Kejujuran hati. Ketulusan. Keselarasan antara kata dan perbuatan. Antara cita-cita yang akan diwujudkan dalam tindakan dengan nilai-nilai baik yang akan diwujudkan. Bukan hanya pencitraan. Kelihatannya baik tetapi tidak sungguh sungguh baik. Waktu akan membuktikan. Becik ketitik olo ketoro. Pencitraan pada zaman ini sepertinya sesuatu yang sah secara hukum dan hal yang biasa terjadi.
Tetapi jika pencitraan itu hanya untuk menarik keuntungan pribadi dan kelompok saja, tinggal tunggu waktu, kehancuran menunggu diujung perjalanan hidup nanti.


b. Kebenaran akan mendatangkan keselamatan sedangkan kebohongan akan mendatangkan celaka. Sebelum peristiwa buruk menimpa sebaiknya segera bertobat. Tuhan kadang dengan kata-kata yang keras mengajak manusia bertobat, jika dengan hal hal yang lembut cinta kasih dan kebaikan manusia tidak dapat melihat kebaikan dan belaskasih Tuhan.

c. Perlu dihindari kemunafikan dan diwujudkan sungguh-sungguh kebenaran yang kita yakini, dengan pertobatan dan perbaikan diri. Tidak keras kepala seperti orang-orang Farisi dan Ahli Taurat. Mohon pertolongan dan kekuatan dari Tuhan untuk mengatasi kelemahan manusiawi kita dan godaan untuk selalu membenarkan diri dan membangun citra diri yang tidak sesuai dengan kenyataannya agar diberikan rahmat kekuatan dari Roh Kudus yang selalu menuntun kita. (Bdk Doa 7 Sapta Karunia Roh Kudus).

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *