Sumpah Demi Surga
Renungan Harian, Senin, 25 Agustus 2025
Oleh Marcurius Unggul Prabowo
“Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.” (Mat 23:13-22)
Yesus dalam Injil hari ini menegur keras para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka dikenal sebagai pemimpin rohani, tetapi sering terjebak dalam sikap munafik: menutup pintu surga bagi orang lain, sibuk dengan aturan-aturan kecil namun melupakan hal-hal pokok, dan mencari kehormatan manusia lebih daripada kemuliaan Allah. Teguran Yesus bukan hanya ditujukan kepada mereka, tetapi juga kepada kita semua yang kadang lebih mementingkan penampilan luar ketimbang hati yang murni.
Puncak pengajaran Yesus hari ini tampak dalam ayat terakhir: “Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.” Ayat ini mengingatkan bahwa segala janji, sumpah, dan perkataan kita tidak pernah lepas dari hadapan Allah. Surga bukanlah sekadar tempat kosong, melainkan takhta Allah sendiri—tanda kehadiran-Nya yang kudus dan berdaulat. Dengan kata lain, ketika lidah kita mengucap kata, hati kita pun dipanggil untuk menyadari bahwa Allah hadir dan menjadi saksi.
Inspirasi ini menegur kita yang sering kali mudah berkata, berjanji, atau bahkan bersumpah, tetapi tidak konsisten menepatinya. Dalam hidup sehari-hari, kita mungkin menjanjikan kesetiaan, kasih, atau pelayanan, tetapi kemudian mengingkarinya demi kenyamanan diri. Yesus mengingatkan bahwa setiap janji, betapapun kecil, bersumber dan bermuara pada Allah sendiri. Mengingkari janji berarti tidak hanya mengecewakan sesama, tetapi juga meremehkan Allah yang hadir dalam hidup kita.
Sebagai orang Katolik, kita pun diingatkan akan janji baptis kita: menolak dosa dan setia kepada Allah. Janji itu diperbarui setiap kali kita mengucapkan Aku Percaya, setiap kali menerima sakramen, dan terutama saat merayakan Ekaristi. Di altar kudus, kita tidak hanya menghadiri perjamuan biasa, tetapi bersatu dengan Kristus yang duduk di sisi kanan takhta Bapa. Itulah sebabnya setiap perkataan, doa, dan komitmen iman kita selalu memiliki dimensi surgawi.
Maka marilah kita belajar menjaga integritas hati dan kata. Jangan sampai hidup kita terjebak dalam kemunafikan, tetapi biarlah perkataan dan perbuatan kita selaras. Saat berjanji, bertekunlah untuk menepati. Saat berbicara, sadarlah bahwa Allah mendengarkan. Dengan begitu, kita sungguh menjadi saksi Kerajaan Allah, menghadirkan surga di bumi, dan menuntun sesama menuju takhta Allah yang kekal.
Doa Penutup
Ya Allah Bapa yang Mahakudus, Engkaulah Raja yang bersemayam di takhta surga. Kami bersyukur atas sabda Putra-Mu yang menegur sekaligus menuntun kami agar hidup jujur di hadapan-Mu. Ajarlah kami menjaga hati, perkataan, dan janji kami agar selaras dengan kehendak-Mu. Semoga dalam setiap ucapan dan tindakan, kami selalu ingat bahwa Engkaulah saksi dan tujuan hidup kami. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin. (*)

