Belajar dari Dua Buah Jeruk, Lokal dan Impor

Belajar dari Dua Buah Jeruk, Lokal dan Impor

Membangun Nasionalisme dari Kecintaan Produk Dalam Negeri

Kemarin mendapatkan buah tangan yang dibeli dari pasar modern. Harganya perkilo gram hampir enam puluh ribu rupiah. Di rumah ada sama-sama jeruk yang dibeli dari pasar tradisional, buah lokal. Harganya kisaran seperempat hingga seperlimannya. Tampilannya sih memang bak bumi dan langit, tapi soal rasa tidak kalah terlalu jauh. Sekitar 11 13 saja. Memang kalah, namun tidak terlalu jauh.

Negara Abai

Jika negara hadir dengan inovasi, penelitian mendalam dan sungguh-sungguh, buah kita tidak kalah menjual. Lebih banyak varian juga. Namun mengapa malah banjir dengan barang impor dan petani sendiri menjadi buruh untuk hasil panenannya?


Mafia. Pernah terdengar anggota dewan berembuk untuk mengutip fee sekian rupiah perkilogram buah yang didatangkan dari luar sana. Menurut desas-desus, apa yang dikirim ke sini ini di asalnya sana hanya nomor sekian, bukan yang terbaik. Itu pun dengan buah segar yang ada di sini masih bisa bersaing.


Inovasi di negeri ini dicibir, padahal seharusnya memperoleh insentif, reward, penghargaan. Eh malah penghargaannya diberikan pada mantan terpidana maling berdasi alias koruptor. Terdengar kreativitas berujung bui dan pidana, padahal tidak seharusnya demikian.


Kisah klasik, jika panen raya apapun itu harga anjlok, sering terbuang sia-sia. Malah masih dibanjiri dengan barang impor yang mutunya sering tidak lebih baik. Mengapa demikian? Ya karena, itu memperoleh keuntungan dari perkilogram yang didapat dari izin importasi yang diberikan.
Padahal ahli rekayasa di Indonesia tidak kalah baik. Hanya saja untuk riset, penelitian mereka enggan, karena jalan sunyi. Belum lagi penuh dengan mafia dan politik. Tidak mendapatkan “apa-apa” dari yang mereka lakukan itu. Anggaran lebih banyak untuk orang politik yang tidak menghasilkan apapun.


Apa yang Bisa Negara Lakukan
Diplomasi. Termasuk di dalam hal ini adalah perdagangan. Bagaimana negara selama ini tidak pernah bisa berdiri sejajar dengan nilai ekspor dan impornya. Timpang dan seolah negara ini sekadar pasar bagi bangsa lain.


Memberikan support bagi pelaku lapangan, petani buah, sehingga mereka bersemangat dalam bekerja. Harga jual juga bisa lebih tinggi, kalau tidak dibanjiri dengan buah impor. Termasuk dalam kemampuan manajerial negara.


Memberikan teguran, hukuman, dan juga pidana bagi para mafia dan pedagang nakal. Mereka biasanya juga politikus, sehingga susah. Perlu regulasi yang jelas, tegas, dan pakem untuk membebaskan kelindak politikus dan pengusaha. Sering terjadi proyek milik negara namun dikuasi oleh politikus baik di legeslatif ataupun eksekutif.


Reformasi itu termasuk juga memperbaiki pendekatan bagi masyarakat, dalam hal ini petani buah. Mereka mendapatkan perlindungan di dalam negeri. Pasar bebas ya pasti akan dilibas oleh negara maju yang mau “membuang sampah” mereka. Apa iya rakyat kita hanya menjadi konsumen, dan petani menjadi penonton? Yang kaya raya pengusaha separo calo dan sekelas mafia?


Salam JMJ
Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *