Kematian Sesaat
Salah satu warga di lingkungan pondok berduka. Satu anggota keluarga meninggal dunia. Guru mengajak tiga murid untuk melayat. Mereka ingin mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga yang sedang berkabung. “Kita akan ikut menghantar sampai pemakaman, ” kata guru. Ketiga murid saling bertatap pandang. Mereka tampak sepakat dengan ajakan guru.
Guru dan murid mengiringi prosesi ke peristirahatan terakhir. Saat jenazah diturunkan ke liang lahat, guru bertanya, “Apa yang kalian pikirkan?”. Melihat gelagat para murid yang kesulitan untuk menjawab pertanyaan, guru melanjutkan perkataannya. “Bukankah hidup kita sarat dengan kematian. Ada satu waktu dalam hidup kita yang tidak bisa kita ulangi lagi.”
Ketiga murid kembali bertatap pandang. Mereka saling tuding untuk menjawab wejangan. Tiba-tiba, seorang murid menyahut, “Benar Guru! Jika saya melakukan sesuatu, entah kebaikan maupun keburukan, maka tindakan itu akan lepas dan berlalu dari diri saya. Saya tidak dapat mencabut atau menariknya kembali.” “Benar katamu itu,” tegas guru.
Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, dan pada kematianmu semua orang menangis tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.
– Mahatma Gandhi –

