Radikalisme ala Yesus

Radikalisme ala Yesus

Renungan harian

Kamis, 11 September 2025
Oleh Paul Subiyanto


Bacaan Injil – Luk. 6:27- 38
Ringkasan:
Beberapa ajaran radikal dalam arti positif yang disampai Yesus dalam Injil hari ini :

  • Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
  • Jangan membalas dendam: barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
  • Memberi tanpa syarat: Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
  • unconditional love : mencintai tanpa syarat. Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.
  • Sepi ing pamrih: jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
  • Baik hati tanpa batas seperti Bapa di surga : kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.

Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.


Renungan :
Masih hangat dalam ingatan peristiwa demo 28 Agustus dan ikutannya, korban jiwa dan materi tak ternilai. Demo yang tujuannya baik untuk mengingatkan perilaku DPR dan pemerintah yang melukai rakyat bisa berubah menjadi kerusuhan dan penjarahan. Kalau kita cermati sebelum meledak, hari – hari sebelumnya medsos diwarnai konten – konten yang mengompori amarah rakyat oleh para buzzer dengan menyulut api kebencian, bahkan orang seperti Sri Mulyani yang berdedikasi tinggi pun ucapannya diplintir dengan AI sehingga seolah mengucap “Guru itu beban negara” , dan framing Sri Mulyani sebagai sosok yang tega membebani rakyat dengan pajak makin kuat. Sebagian masyarakat pun menjadi benci kepada sosok SM bahkan puncaknya terjadi penjarahan di rumahnya. Tragis dan ironis! Semua ini bersumber dari lingkaran setan amarah dan dendam.


Yesus memutus rantai balas dendam dengan revolusi mental secara radikal sebagai syarat terciptanya kerajaan Allah di muka bumi. Ajaran- ajaran Yesus di atas jika kita balik akan mencerminkan kondisi nyata dunia.


Cintailah musuhmu, sebaliknya realitas mengatakan musuh harus dilenyapkan. Apa kita punya musuh? Musuh bisa diartikan orang yang beda dari kita, beda agama, ras, ideologi, dll. Orang-semacam ini mengganggu hidupku maka harus menyingkir dari hadapanku, setidak aku tidak sudi bersama mereka. Musuh bisa juga berupa kekurangan dan kelemahan orang- orang sekitarku, anak- anak dan pasangan. Alih-alih menerima dan mengasihi , aku ingin mengubahnya seperti yang saya harapkan.

Memberi tanpa syarat, sebaliknya banyak orang memberi dan membantu tetapi punya pamrih tertentu. Ada orang yang dengan terencana memviralkan perbuatan baiknya dengan pamrih rakyat akan memberikan suara dalam pilpres atau pileg. Tak jarang kita membantu dan menolong tetapi masih membicarakan / mengungkit perbuatan baik ketika kita kecewa dengan orang tersebut.

Mencintai tanpa syarat, sebaliknya cinta kita pun ada syaratnya. Orangtua mencintai anaknya hanya ketika anaknya baik-baik bahkan bisa mengharumkan namanya. Bisakah kita tetap mencintai ketika pasangan atau anak mengecewakan kita? Kekurangan mereka tidak mengurangi cintaku kepada mereka.
Bahkan Yesus menuntut agar kita sempurna seperti Bapa, sebuah permintaan yang ekstrim dan radikal. Tentu maksudnya, Bapa menjadi role model atau kriteria perbuatan baik kita, bukan sekadar ukuran manusiawi atau hukum.

Jika kita sebagai pengikut Yesus, berjuang memenuhi tuntutan-Nya, maka itulah yang akan membedakan kita dari yang lain. Sebaliknya, jika kita mengikuti ukuran dunia, maka kita pun tidak mampu ikut mengubah dunia.


Doa
Tuhan Yesus Engkau menghendaki kami menjadi sempurna, menjadi garam dan terang yang akan mengubah dunia. Namun kami ini lemah dan penuh kekurangan. Ampunilah dan kuatkan kami agar mampu menjalankab misi-Mu, mendatangkan kerajaan Allah di dunia ini. Amin

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *