Berkat Sederhana

Berkat Sederhana

Seorang murid membersihkan daun-daun yang berserakan. Angin kencang menggugurkan daun-daun, menyebarserakkannya di halaman. Hampir seharian, murid itu bekerja menyapu dan mengumpulkan sampah. Lelah. 

Rasa kantuk  menyerang diri murid itu. 

Ia tidur-tidur ayam di bawah pohon mangga yang berbuah lebat. Angin bertiup semilir membuatnya  nyaman. Ia semakin nyaman. 

Murid itu hampir terlelap dalam tidur yang pulas. Tiba-tiba, buah mangga sebesar genggaman anak  menimpa kepalanya. Ia tersadar seketika. Sontak ia berteriak keras dan ngomel sekenanya. 

Guru mengetahui kejadian itu. Dengan tenang, ia menghampiri muridnya. “Syukurlah…Hanya buah mangga muda yang masih kecil. Bayangkan jika pohon mangga itu yang roboh dan menimpa diri anda,” kata guru lirih kepada  muridnya.***

Kadang-kadang Tuhan sembunyikan matahari, Dia datangkan petir dan kilat. Kita menangis dan bertanya-tanya ke mana hilangnya matahari, rupa-rupanya Tuhan hendak memberi kita pelangi.

Anonim

C. IsmulCokro

C. IsmulCokro (CB. Ismulyadi), tinggal Sleman. Pernah studi di Fak Teologi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (Fakultas Teologi Wedha Bhakti) dan Ilmu Religi Budaya USD. Sampai saat ini masih berkarya sebagai ASN. Giat dalam dunia penulisan sebagai writerpreneur, editor freelance, redaksi salah satu tabloid dan memotivasi berbagai kalangan yang akan berproses menulis dan menerbitkannya. Email: cokroismul@gmail.com. FB. Carolus ismulcokro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *