Berbahagialah Kamu – Celakalah Kamu
Renungan Harian
Rabu, 10 September 2025
Oleh : Ansgarius Hari 45 Wijaya
Berbahagialah kamu yang miskin, yang lapar, yang menangis, jika orang membenci kamu, mengucilkan kamu, dan menolak kamu. Bersukacitalah karena upahmu besar di surga. Celakalah kamu yang kaya, yang kenyang, yang tertawa, yang dipuji orang. (Mateus 6: 20-26)
Apa yang disampaikan Yesus melalui sabda-Nya merupakan 2 pernyataan yang kontradiktif dengan kenyataan yang dipahami dunia. Bagaimana orang dapat berbahagia dalam kondisi miskin, lapar, bersedih sampai menangis, dibenci oleh orang lain, dikucilkan dan ditolak – tidak mendapatkan tempat dihati orang lain? Pada umumnya kondisi sebaliknya yang dicari manusia di dunia ini yaitu: menjadi kaya, selalu merasa senang, dicintai dan dihormati oleh orang lain, selalu kenyang – segala yang diinginkan untuk memenuhi kebutuhan makannya terpenuhi, selalu diterima oleh orang lain dimanapun dia berada. Tetapi yang dinyatakan Yesus malah sebaliknya.
Orang menjadi celaka jika kaya, jika selalu kenyang, jika selalu tertawa, dan selalu dipuji oleh orang lain.
Tentu bukan setiap orang kaya menjadi celaka, tetapi orang kaya yang tamak, yang karena kekayaannya merasa tidak membutuhkan Tuhan lagi. Segala sesuatu dapat dipenuhinya sendiri tanpa Tuhan. Tuhan tersingkir dari hidupnya. Bahkan orang lain yang dititipkan Tuhan dalam perjalanan hidupnya untuk dibantu dan diperhatikan juga tersingkir dari hatinya. Yang ada adalah kesombongan. Pada hal segala kekayaan karunia Tuhan semestinya hanyalah sarana untuk memuliakan Tuhan dengan selalu bermurah hati kepada sesama yang membutuhkan pertolongannya, yang mengharapkan kemurahan hatinya.
Semestinya orang kaya akan selalu bersyukur karena anugerah Tuhan yang berlimpah dalam hidupnya. Penuh berkat bagi dirinya dan keluarganya. Orang yang merasa tidak membutuhkan Tuhan akan menjadi celaka karena lupa akan tujuan ia diciptakan. Sebaliknya orang miskin yang selalu berserah diri kepada Tuhan dalam upaya kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dijanjikan Tuhan, dia akan berbahagia. Bukan sembarang orang miskin – tetapi orang miskin yang terus bergantung pada penyelenggaraan Tuhan. Yang tidak pernah kuatir akan kasih Tuhan yang tidak pernah meninggalkannya. Orang yang selalu memiliki iman-harapan dan kasih. Pada Tuhan dan sesamanya. Selalu ada jalan keluar dalam berbagai kesulitan sepanjang hidupnya dan juga pada saatnya nanti kembali kepada Tuhan. Upahnya besar di surga.
Mengikuti jalan Tuhan tidak selalu mudah, bahkan kadang harus menangis, karena dikucilkan, dibenci, ditolak oleh orang lain. Karena kebenaran tidak selalu manis bagi orang yang tidak mengenal Tuhan dan yang menolak kehendak Tuhan. Mereka yang berseberangan dengan apa
yang Tuhan kehendaki pada umumnya akan membenci, mengucilkan dan menolak orang-orang beriman dan ingin melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan dengan tulus hati. Tidak mencari keuntungan selain hanya karena ingin melaksanakan kehendak Tuhan dengan segala resikonya. Dengan mencintai sesama seperti diri sendiri, bahkan bila mana perlu harus menjadi miskin, menjadi lapar, harus berduka cita menghadapi ketidakadilan, ketidakjujuran, keserakahan, kemunafikan.. Harus dikucilkan karena berani membela kebenaran. Teguh mengikuti Tuhan dengan memanggul salib kehidupan yang ditemukan dalam perjalan hidupnya. Orang yang demikian dijanjikan oleh Tuhan. Berbahagialah karena upahmu besar di surga. Di dalam kehidupan sehari-haripun kendati banyak kesulitan dan tantangannya – mereka setia untuk mengikuti bimbingan Tuhan dengan menghidupi ajaran imannya akan selalu menikmati kedamaian sejati.
Sebaliknya orang yang kaya tetapi didapatkan dari usaha yang tidak adil, orang yang kenyang tetapi kekenyangan yang didapatkan dengan cara menyengsarakan orang lain, orang yang bersuka cita di atas penderitaan sesamanya, dan mendapatkan pujian karena pandai melakukan pencitraan diri akan menjadi celaka. Tidak perlu menunggu nanti sesudah akhir hayatnya tetapi pada saatnya akan terbuka bahwa apa yang dilakukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga-kelompoknya yang cepat atau lambat waktunya – apa yang dinyatakan Tuhan dalam sabda-Nya hari ini akan menjadi kenyataan.
Dalam minggu minggu terakhir yang baru lewat, kita melihat contoh bagaimana kekayaan – kekuasaan yang diagung-agungkan sebagai senjata untuk merendahkan orang lain, ketidakpekaan atas situasi kesulitan yang dialami banyak orang di dalam masyarakat, juga kenyataan yang tidak jernih dalam mengelola hidup bersama sesuai dengan hati nurani menimbulkan kerusakan yang sangat luas dan kerugian material dan moral yang tidak dapat dihindari. Keprihatinan, tangis dan duka cita, datang dari kekayaan dan kekuasaan yang menjadi dasar kesombongan.
Tidak ada larangan bagi orang untuk menjadi kaya. Tetapi kekayaan adalah anugerah Tuhan. Dalam kekayaan itu terselip tanggung jawab untuk selalu memanfaatkannya demi kemuliaan Tuhan. Orang yang hidupnya selalu berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan kebutuhan lain-lain yang tingkatannya lebih tinggi, kesehatan, pendidikan, kehormatan, jabatan tinggi, status sosial yang tinggi juga memiliki tanggung jawab untuk kebaikan sesama dan lingkungannya. Bonum Commune. Sudah menjadi ajaran umum dalam budaya maupun dan agama apapun. Pujian dapat datang pada orang yang menjalani hidupnya dengan ketulusan – tidak hanya mencari kepentingan sendiri – tidak berupaya menampilkan pencitraan dalam arti tampil seolah-olah baik pada hal untuk menutupi sesuatu yang sebenarnya tidak selalu baik.
Tuhan berikanlah selalu kekuatan yang teguh untuk mengimani sabda-Mu, yang selalu menuntun kami ke arah hidup yang baik, karena sabda-Mu adalah Roh dan kehidupan kami. Anugerahkanlah Sapta Karunia Roh Kudus-Mu untuk kami hayati dalam kenyataan sehari-hari. Amin.
Srengseng Sawah Jagakarsa- Jakarta Selatan


Sungguh amat baik
Bagus lanjutkan
Semoga kita termasuk orang berbahagia dan penuh syukur, terlepas dari kelekatan dunia yang memabukkan