Menghakimi

Menghakimi

Renungan Harian

Jumat, 12 September 2025

Oleh Susy Haryawan

Saudara Terkasih, ada sebuah video ilustrasi, seorang ibu yang mengira cucian tetangganya belum bersih. Mencuci kog tidak serius, masih kotor seperti itu. Tiba-tiba suaminya beranjak dan mengelap kaca dan ternyata yang kotor itu kacanya. Kaca mata, cara pandang, dan cara pikir sangat bisa menentukan akhir sebuah hal. Usai kaca dilap dengan bersih, si nyonya rumah merasa malu, ternyata yang buram dan kotor itu kacanya, bukan cucian tetangganya. Padahal sudah berisik menilai dan menghakimi keberadaan orang lain yang tidak salah.

Hari ini kita merenungkan sabda Tuhan yang sangat menyentuh hidup sehari-hari.  Tuhan Yesus  menggunakan perumpamaan, di mana ketika orang buta menuntun orang buta, maka akan masuk jurang bersama-sama. Hati dan otak kita menjadi  bahan perumpaan yang kedua, yang pertama adalah mata yang buta bisa menjadi bencana. Orang buta memerlukan orang yang awas, sehingga bisa menjadi penuntun dan penunjuk arah.

Sering kita lebih mudah untuk menilai, menghakimi, atau menguliti sesama. Tanpa mau tahu dengan kondisi sendiri. Tepat ungkapan, ketika kita menudingkan jari, itu lebih banyak yang mengarah ke dalam diri sendiri. Seolah kita sudah yang paling benar, paling tahu, dan tidak ada kesalahan apapun.

Jika otak dan rasa kita yang tumpul alias buta bisa menyesatkan hidup kita. Fokus kita bisa keliru, karena mata yang ada baloknya, namun malah mengira jernih dan menuding pihak lain yang kotor.  Idealnya adalah sama-sama bersih, sehingga mampu melihat dan menilai dengan obyektif, apa adanya, tanpa penghakiman.

Sikap reflektif itu menjadi penting. Namun jangan sampai bahwa itu jatuh pada over thingking, yang sangat mungkin dipakai roh jahat untuk menjatuhkan kita dalam jurang kenistaan. Gerak roh itu berharga, sehingga kita bertindak dengan bijaksana. Jangan sampai untuk mencegah tidak menghakimi pihak lain, kita disesatkan untuk menghakimi diri sendiri. Dampak yang sama dengan penghakiman bagi liyan. Sama-sama buruk dan merusak.

Saudara terkasih, kita layak bersyukur menjadi anak-anak Tuhan itu diajak untuk memperbaiki mutu hidup kita setiap saat. Apa  yang kurang baik direnungkan dan kemudian direfleksikan untuk memperoleh inspirasi dari Roh Kudus untuk diperbaiki terus menerus. Pemeriksaan batin yang membantu kita memperbaiki diri. Itu semua bisa jika kita hidup di dalam kasih karunia-Nya.

Doa: Allah Mahabaik, Syukur bahwa kami lahir di dalam kasih karunia-Mu, sehingga mampu melihat kelemahan dan kekurangan kami. Tidak untuk kami sesali dan membuat terpuruk, namun di dalam Rahmat-Mu kami mampu memperbaiki diri terus menerus, seturut dengan kehendak-Mu. Bantulah kami berani melihat kelemahan kami dalam kaca mata kasih, sehingga mampu mengatasi kerapuhan kami. Dalam Engkau, semuanya adalah baik adanya.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *