Diampuni untuk Mengasihi

Diampuni untuk Mengasihi

Renungan Harian

Kamis, 18 September 2025

Oleh M. Unggul Prabowo

“Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” (Luk 7:47)

Yesus mengucapkan kalimat ini setelah seorang perempuan berdosa menunjukkan kasih yang luar biasa kepada-Nya. Ia menangis, membasuh kaki Yesus dengan air matanya, dan mengurapinya dengan minyak wangi. Tindakannya bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan buah dari pengalaman diampuni secara mendalam.

Sering kali kita merasa bahwa kita “tidak seburuk itu,” sehingga pengampunan Allah terasa seperti formalitas belaka. Padahal, setiap manusia memiliki luka, kegagalan, dan sisi gelap yang hanya bisa disembuhkan oleh belas kasih Tuhan. Ketika kita sungguh menyadari betapa besar pengampunan yang kita terima, hati kita pun meluap dengan kasih yang nyata — bukan karena kewajiban, tetapi karena syukur.

Kasih yang lahir dari pengampunan adalah kasih yang tidak menghitung untung-rugi. Ia murah hati, sabar, dan menyembuhkan. Dalam relasi sehari-hari, kita diajak untuk tidak hanya menuntut keadilan, tetapi juga memberi ruang bagi belas kasih. Kita dipanggil untuk menjadi saksi bahwa Allah yang mengampuni adalah Allah yang mengubah hati.

Hari ini, mari kita renungkan: Sudahkah aku menyadari betapa besar pengampunan yang telah kuterima? Sudahkah kasihku kepada sesama mencerminkan syukur atas rahmat itu?

Doa :

Tuhan Yesus, Engkau mengenal seluruh hidupku, termasuk luka dan dosaku. Terima kasih karena Engkau tidak menjauh, melainkan mendekat dan mengampuni. Ajarku untuk mengasihi seperti Engkau mengasihi — dengan hati yang telah disembuhkan dan dipenuhi syukur. Jadikan aku saluran belas kasih-Mu bagi dunia yang haus akan pengampunan. Amin.

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *